The Mirror

August 27, 2015 by  
Filed under BOOK GALLERY

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


tumblr_m2b9m5pXDb1qb7t48Cermin adalah benda yang memunculkan dua hal: diri dan pantulannya.  Cermin dianalogikan sebagai suatu hal yang memantulkan apa pun yang kita lakukan. Herry Tjahjono ingin menyimpulkan bahwa apa pun dapat dimaknai. Buktinya terdapat dalamThe Mirror.

The Mirror adalah seratus sebelas prinsip sederhana yang semula merupakan status Facebook Herry Tjahjono, dari tahun 2010 sampai 2011. Karena didorong oleh teman-temannya, maka seluruh status miliknya dikembangkan menjadi satu tulisan utuh pada tiap status. Kumpulan tulisan tersebut dijadikan buku.

The Mirror menggunakan cermin sebagai analogi yang mewakili maksud pesan dari buku ini. Hal-hal dilambangkan dengan cermin karena memancarkan perbuatan-perbuatan manusia. Selain itu, seratus sebelas nilai di dalam, merupakan hal-hal dalam kehidupan manusia sehari-hari, yang tidak dapat diabaikan.

Dua hukum disampaikan dalam The Mirror. Hukum pertama berbunyi bahwa cermin tidak pernah berbohong, karena itu cermin adalah refleksi kebenaran. Seolah-olah, apa yang kita lakukan, tidak dapat dimanipulasi oleh apa pun, juga ada sesuatu yang menunjukkannya. Hukum kedua adalah bahwa kebenaran mengendalikan dan menentukan hasil dari semua perilaku atau tindakan kita. Dalam hukum kedua, terdapat tiga elemen kebenaran, yaitu prinsip (semacam hukum yang hakiki), hukum alam (kekuatan tak terlihat), dan hukum keterujian (pedoman-pedoman spesifik yang bersifat pragmatis), yang terus berputar dalam kehidupan.

Seratus sebelas tulisan mengandung makna yang berbeda, dan semua berlandas pada tiga elemen kebenaran. Salah satu tulisan yang menjelaskan salah satu elemen adalah bab kesepuluh, berjudul Lomba. Terdapat law of abundance, berarti hukum kelimpahan. Hukum ini menjelaskan bahwa alam semesta sejatinya telah menyediakan hal-hal yang memenuhi kebutuhan seluruh manusia. Selain itu, ada satu hasil penelitian yang menyimpulkan apabila seluruh kekayaan dunia dibagi merata untuk tiap manusia, maka tiap manusia akan mendapatkan tujuh juta dolar. Herry menyimpulkan, sejatinya manusia tidak perlu saling menyaingi satu sama lain.

Pada tulisan keenambelas, yang berjudul Pertengkaran, Herry memaknai setiap pertengkaran mempunyai sisi baik. Seperti anak-anaknya yang bertengkar, ia membiarkan, karena terdapat sisi baiknya juga. “Bukankah itu semua bekal yang mereka butuhkan kelak kita dewasa?” Kalimat pada status-nya memperkuat pemikirannya. Ia seakan membenarkan pertengkaran, hanya saja dalam konteks yang positif.

Sebagian besar isi dari The Mirror adalah tentang Tuhan dan cinta dalam perjalanan manusia sehari-hari. Herry lebih dari sekali mengungkapkan rasa syukurnya melalui status, yang menjadi pembuka tiap tulisannya.

Ia juga menyemangati para pembaca melalui kalimat-kalimat yang terkandung, seperti mengandalkan Tuhan dalam segala sesuatu, mencintai sesama, dan menjadi karyawan yang luar biasa, dimana hal-hal seperti itu tentu dibutuhkan oleh masyarakat, untuk mencapai sesuatu yang lebih baik.

Ilustrasi jendela hitam putih menghiasi sisi halaman demi halaman. Pemercantik halaman ini tentunya bertujuan untuk meringankan mata para pembaca yang memerhatikan kalimat-kalimat bermakna.

Terdapat 192 halaman dalam The Mirror, dimana setiap tulisan rata-rata satu sampai empat halaman. Tema-tema tidak berurutan membentuk satu bab besar, tapi dibiarkan mengacak, sehingga para pembaca disuguhkan dengan kebaruan pada tiap halaman.

Namun, kata-kata yang kesannya tidak berhubungan, seperti appetizer, main course,dan dessert, seharusnya tidak perlu tercantum untuk mengelompokkan bagian-bagian dalam buku ini. Mungkin ingin memberikan variasi, tapi tidak sesuai dengan tema yang ditonjolkan.

Selain itu, terdapat empat puluh empat testimoni di dalam buku ini. Seharusnya, pendapat memberitahu apa yang dipikirkan para pembaca. Namun, karena banyaknya kalimat, memungkinkan para pembaca untuk langsung melewati bagian ini. Bukan tidak mungkin, kalau para pembaca merasa bosan terlebih dahulu, dan tidak mengetahui kesan terhadap The Mirror. Padahal, kesan-kesan berpengaruh, apakah pembaca akan meneruskan atau meninggalkan suatu buku.

Bahasa yang digunakan untuk buku ini komunikatif. Isinya tidak menggurui, tapi lebih pada berbagi pengalaman. Salah satu kelebihan lainnya adalah bahwa buku ini menyertakan pengalaman pribadinya, sehingga menguatkan argumennya.

Tidak hanya membagikan hal-hal penting, tapi The Mirror juga menunjukkan pandangan Herry Tjahjono tentang hidup. The Mirror memperkaya pemahaman, dengan kebijakan yang ia miliki di dalamnya.

Dan The Mirror menyentil pembaca, untuk berkaca sejenak, dan merenungi setiap hal dalam kehidupan masing-masing.

Juga membuat kita bertanya. Apakah hidup kita sudah benar?

Judul: The Mirror: 111 Kebenaran yang Memerdekakan dan Mengubah Hidup Anda
Penulis: Herry Tjahjono
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: Pertama
Tahun Terbit: Februari 2012
Harga: Rp. 45.000
Genre: Nonfiksi/Pengembangan Diri

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


Comments

comments

Komentar