PROFESI YANG AGUNG

September 3, 2015 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


jobOleh: Herry Tjahjono
Corporate Culture Therapist

Ada sesuatu  yang menarik  tentang ”profesi  karyawan” ini. Di satu sisi, sebagian orang sangat mendambakan pekerjaan atau status sebagai karyawan. Apalagi di negeri kita tercinta, rasio pencari kerja dengan lapangan kerja yang tersedia sangat tidak sebanding. Terlebih lagi,  kondisi perekonomian yang praktis makin sulit dan menyesakkan dada seperti saat ini, membuat sebagian besar orang mendambakan untuk menjadi karyawan, agar berpenghasilan tetap dan setidaknya bisa hidup stabil setiap bulannya.  Bagi mereka, bisa menjadi karyawan saja sudah sungguh beruntung.

Di sisi yang lain, ada sebagian orang yang sudah bekerja memandang profesi karyawan sebatas ”apa adanya”. Karyawan, ya begitulah, yang penting punya penghasilan tetap, daripada jadi pengangguran yang tak punya penghasilan tetap. Hanya sebagian kecil yang memandang profesi karyawan sebagai sesuatu yang berarti, bernilai lebih. Di sinilah sesungguhnya masalah mulai menarik. Sebab tanpa sadar, ada kecenderungan dari para karyawan sendiri untuk menilai rendah statusnya. ” Ah, kita ’kan cuma karyawan ! ” Ungkapan-ungkapan pesimis dan rendah diri semacam itu sering kali terdengar.

Tapi baiklah,  secara prinsip – nyaris semuanya terjebak pada sebuah mindset, paradigma, bahwa karyawan semata-mata sebagai ”orang gajian”. Orang yang menjual tenaga, pikiran atau ketrampilannya dan mendapatkan gaji sebagai imbalan. Paradigma inilah yang membuat kebanyakan karyawan tetap menjadi ”karyawan apa adanya” seumur hidup mereka. Paradigma ini pula yang sering tanpa sadar melahirkan berbagai pernyataan dan sikap pesimis serta rendah diri dari para karyawan sendiri.

Dalam berbagai forum serta observasi saya, nyaris semua karyawan mempunyai jawaban yang relatif senada ketika dibenturkan pada pertanyaan : ”What is employee ? Apakah karyawan itu ? ” Ratusan, bahkan ribuan jawaban rata-rata seperti ini :

  • Orang yang bekerja pada sebuah perusahaan dan mendapat gaji
  • Orang upahan
  • Orang yang dipekerjakan pada jabatan tertentu dan mendapat upah
  • Orang yang mengabdikan hidupnya pada perusahaan
  • Orang yang menjual jasanya dan mendapatkan bayaran atas jasanya
  • Dan seterusnya !

Sekian banyak jawaban masih bisa dirinci, namun hampir semuanya bermuara

pada jawaban yang senada : orang yang bekerja untuk orang lain / perusahaan dan mendapatkan kompensasi (upah, gaji, dll). Inilah paradigma, mindset, yang membelenggu serta menjajah sekian juta karyawan di Indonesia, termasuk para calon karyawan. Dan jujur saja, paradigma semacam itu telah sekian lama menjajah para karyawan sendiri.  Paradigma negatif, minimalis, bahkan jahat yang membuat para karyawan itu hanya jadi ”karyawan” biasa-biasa saja seumur hidupnya.

Karyawan, jauh lebih luhur dan luarbiasa dari itu semua. Itu sebabnya saya memakai kata ”profesi” untuk karyawan. Seperti halnya profesi lain semacam  dokter, pengacara, dan lainnya. KARYAWAN, artinya orang yang membuat atau melahirkan sebuah ”KARYA”. Dalam kata ”karya” (apapun), mengandung sebuah proses kreatif, proses penciptaan. Setara esensinya dengan proses penciptaan manusia sendiri, sebagai hasil ”KARYA” Tuhan yang Maha Agung.

Jadi tegasnya, karyawan – bukan melulu orang gajian, orang yang bekerja dan lalu mendapatkan imbalan dari perusahaan atau majikannya. Bukan ! Paradigma karyawan sebagai ”MANUSIA YANG MELAHIRKAN KARYA” inilah yang harus ada di benak dan sanubari setiap karyawan, di level dan jabatan apapun, di perusahaan apapun – di segenap belahan bumi nusantara ini.

Lewat paradigma ”baru” itulah, setiap karyawan akan jauh lebih menghargai, menghormati status dan profesinya sebagai karyawan. Bukan sekadar orang gajian, orang upahan ! Dengan paradigma ini pula, seorang karyawan mempunyai nilai setara (bahkan bisa lebih) dengan berbagai profesi ”bergengsi” lainnya : dokter, pengacara, hakim, bankir, presiden, termasuk pengusaha  yang mempekerjakan dirinya. Bahkan amat sangat mungkin, karyawan bisa melahirkan berbagai keajaiban melalui karyanya.

Karyawan, sungguh sebuah status, PROFESI yang AGUNG ! Ada nilai lebih dan luhur pada diri seorang karyawan, yang termanifestasikan lewat berbagai karyanya sehari-hari. Yang membedakan seorang karyawan biasa-biasa saja (di level dan jabatan apapun), dengan  KARYAWAN (LUAR BIASA)  – yang  menakjubkan serta  dikejar-kejar berbagai perusahaan untuk dibajak, yang disegani oleh masyarakat – adalah pada perbedaan penghayatan terhadap paradigma tersebut.

Hai para sahabat karyawan…apakah Anda sekarang sadar …bahwa status dan “profesi” Anda sangatlah agung. Mulailah melahirkan KARYA dalam hidup Anda !

Bagaimanakah pendapat Anda ?

Herry Tjahjono
Corporate Culture Therapist

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


Comments

comments

Komentar