KOMPETENSI TAMPAH

September 16, 2015 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


Oleh: Herry Tjahjono
Corporate Culture Therapist

Picture1Dalam perjalanan ke kantor klien pagi ini, aku melihat seorang ibu membawa beberapa  tampah bambu jualannya. Menyusuri jalanan dengan sigap. Sudah separuh baya, namun semangatnya masih nampak muda semburat  di wajahnya.  Perjalanan pagi seperti ini selalu menawarkan napas hidup keseharian anak-anak bangsa di jalanan. Sesungguhnya, demikianlah paras bangsa ini.  Pemandangan itu menggiring benakku pada peristiwa  dua hari lalu ketika aku mengantarkan istriku dan mbak yg membantu di rumah ke pasar. Mereka juga membeli tampah dari anyaman bambu. Seingatku, tampah yang dibawa ibu separuh baya tadi mirip dengan tampah yang dibeli oleh si mbak. Dalam perjalanan pulang si.mbak ngedumel : ..” tampah koyo ngene wae regane larang pol..selawe ewu..” (tampah kayak gini aja harganya mahal banget..dua puluh lima ribu). Istriku cuma mesem. Lalu aku nyeletuk : ” Mbak, kowe lek nggawe dhewe sedino.durung mesti dadi lho..” (Mbak, kamu kalau buat sendiri, sehari belum tentu jadi lho..). Dan si mbak terkekeh : ” Nggih leres pak, mboten saged..” (Ya betul pak, tidak bisa..).

Reaksi si mbak itu sangat mainstream – cara pandang umum transaksional yang terpaku pada output kehidupan. Tanpa sadar kita sering seperti itu, termasuk saya. Jika cara pandang itu yang dipakai, maka semua karya kehidupan akan jadi murah. Ah, cuma tampah kayak gini, ah cuma tempe kayak gitu..dan seterusnya.  Tapi jika kita tengok sejenak …ya sejenak saja….,apa yang terjadi sebelumnya, proses yang terjadi  di baliknya :  segera terbukti bahwa menganyam tampah itu tidak semua orang sanggup. Dan memang tidak mudah. Ada kompetensi di sana. Jika hal itu ditengok, maka harga tampah yg dibeli si mbak bisa jadi terlalu murah.

Ada pesan lain yang menarik : dengan cara pandang yang utuh spt itu, kita bisa lebih menghargai setiap karya kehidupan dari siapapun..dari pembuat tampah di kampung sana sampai presiden di istana sana. Betul tidak…?

Selamat berkarya..

DSC_0861_1Herry Tjahjono
Corporate Culture Therapist

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


Comments

comments

Komentar