MY CHAMP

September 21, 2015 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


egg Oleh: Herry Tjahjono
Corporate Culture Therapist

Pagi ini saya melihat anak lelaki saya memainkan drum di kamar musiknya. Sambil  menikmati ayunan stick drumnya yang bak sabetan pedang pesilat hebat, saya jadi teringat peristiwa yang terkait dirinya beberapa minggu lalu.

Kisahnya juga terjadi di pagi hari, ketika ada pameran mobil terbesar di Indonesia – GIIAS. Pagi itu  mang Wawan – yang suka membantu merawat kebun di rumah – datang dengan pakaian rapi. Sembari kikuk dia bertanya pada istri saya …apakah pakaian yg dikenakannya sudah layak untuk datang ke pameran mobil GIIAS di ICE BSD City.

” Ok ngga bu ? ” Dan istri saya hanya mengangguk mantap. Nampaknya mang Wawan minder untuk datang ke pameran megah di ICE itu, sementara hatinya sangat ingin menyaksikannya. Anak saya  – yang biasa saya kasih inisial my champ – memang janji akan nonton bareng dengan mang Wawan beberapa hari lalu, meski sebelumnya sudah sempat nonton bareng dengan saya.  Namun sayangnya my champ mendadak enggan untuk nonton lagi pameran hari ini. Ketika saya ingatkan dg janjinya , dia hanya menjawab singkat : “Aku males pi, rada cape..”

Akhirnya aku berkata pelan padanya : ” Ini bukan hanya soal janji nak. Ada yg tak kalah penting dari janji…selama ini kamu lebih sering disenangkan orang lain, terutama oleh kami orang tuamu. Ada saatnya kamu mulai belajar menyenangkan orang lain. Tdk usah lama2, yg penting mang Wawan sudah melihat pameran itu. Lihatlah kesiapannya, mungkin dia sdh mengenakan pakaian terbaik yg dia punya lho…! Belajarlah menyenangkan orang lain…itu akan membuatmu jadi pribadi yg menyenangkan kelak – bukan hanya di mata manusia – tapi juga di mata Tuhan. ”

Sejenak my champ merenung, dan akhirnya mengangguk mantap. ” Aku nonton sama mang Wawan deh hari ini pi. Aku boncengan naik motor aja.” Jarak ICE dengan rumah kami memang tak jauh.

Dan hari ini jadi hari yang menyenangkan bagi kami semua.

Pesan : menyenangkan orang lain – bukan dalam arti cari muka yang berkonotasi negatif – memang diperlukan dalam kehidupan. Menyenangkan orang lain diperlukan dalam atmosfer kehidupan mana pun : di kantor, di jalanan, di rumah, dan di mana pun. Sebab hanya dengan demikian amosfer kehidupan menjadi hangat dan menyenangkan. Pada saat itulah masing-masing orang yang terlibat dalam atmosfer yang sama akan menjadi lebih sehat, positif, dan produktif.   Bagi kita : menyenangkan orang lain adalah ketrampilan kehidupan yang dibutuhkan – di dunia mau pun akhirat.

Setuju tidak…?

DSC_0861_1Herry Tjahjono
Corporate Culture Therapist

 

 

 

 

 

 

 

 

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


Comments

comments

Komentar