TIDAK NAK…!

September 25, 2015 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


djGPrRluLCT8SnnBXTAQ_single_fatherOleh: Herry Tjahjono
Corporate Culture Therapist

Ketika sedang rapat  dengan klien saya beberapa hari lalu, tiba-tiba anak perempuan saya mengirimkan sebuah pesan lewat telepon seluler. Pesan itu berupa kisah ilustratif. Kisah itu bukan tulisan dia sendiri, kiriman dari temannya – kecuali beberapa kalimat akhir yang dalam bahasa Inggris. Berikut kisahnya :

Anak : “ Ayah,…ayah  temanku membiarkan nyamuk menggigit tangannya sampai kenyang, maksudnya supaya nyamuk itu tidak akan menggigit anaknya. Apakah ayah akan melakukan hal yang sama terhadapku ? “

Ayah : “ Tidak Nak, tetapi ayah akan mengusir nyamuk sepanjang malam agar tidak menggigit siapa pun ! “

Anak: “ O ya ayah,  aku pernah membaca cerita tentang seorang ayah yang rela tidak makan agar anak-anaknya bisa makan sampai kenyang. Apakah ayah  akan melakukan hal yang sama?”

Ayah : “ Tidak Nak.. ayah akan bekerja sekuat tenaga agar kita semua bisa makan dengan kenyang dan kamu tidak harus sulit menelan makanan karena merasa tidak tega melihat ayahmu  sedang menahan lapar ! ”

Sang anakpun tersenyum bangga mendengar apa yang dikatakan ayahnya. Anak: “ Kalau begitu, aku boleh selalu menyandarkan diriku kepada ayah, ya?”

Sambil memeluk sang anak….

Ayah : ” Tidak Nak… ayah akan mengajarimu berdiri kokoh di atas kakimu sendiri,  supaya engkau tidak harus jatuh tersungkur ketika suatu saat ayah harus pergi meninggalkanmu”

Pesan moral dari kisah ilustratif itu adalah : ayah  yang bijak bukan hanya berhasil menjadikan dirinya tempat bersandar, tetapi juga berhasil bisa membuat sandaran itu tidak diperlukan. Lalu anak saya menuliskan komentarnya : Thanks Dad, many times you feel like you’ve failed… but in the eyes, heart, mind of your daughter you are a super Dad.

Sebagai seorang ayah, tentu saja saya terharu,  bangga, sekaligus  bersyukur dikaruniai anak seperti itu oleh Tuhan. Namun  perasaan saya itu  justru bermuara pada sebuah refleksi kepemimpinan secara umum : bahwa salah satu tugas kepemimpinan terpenting adalah membuat kokoh kaki-kaki para calon pemimpin, para kader, generasi masa depan – agar kelak mampu berdiri sendiri dengan tegap di tengah terpaan badai kehidupan apa pun. Karena sebagai seorang pemimpin sosok kita tidaklah abadi. Organisasi harus tetap jalan dan bahkan semakin besar  :  with  or without us !

***

DSC_0861_1Herry Tjahjono
Corporate Culture Therapist

 

 

 

 

 

 

 

 

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


Comments

comments

Komentar