BIARKAN MEREKA TERJATUH DAN MENANGIS

May 29, 2017 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


M. Fikri Mabruri (18 tahun) – sembari berangkat ke sekolah – setiap hari berjualan bubur kacang hijau dan bakwan kawi (Kompas, 3 Mei 2016).

Sungguh anak muda yang perkasa…..

Kita – orang tua memang harus selalu menyediakan pundak kita sebagai tempat bersandar anak. Mereka boleh menangis sesekali ketika perjuangan sangat menyakitkan. Tapi pundak itu bukan tempat anak menyandarkan kepalanya setiap saat mereka ingin ditimang atau dininabobokan.

Anak harus menjadi petarung kehidupan yang perkasa. Sebab pada saatnya mereka tak akan punya lagi pundak untuk selalu menyandarkan kepalanya. Maka biarkan anak terjatuh sesekali, jangan selalu dituntun agar tak sampai terjatuh. Katakan : ‘ Jatuhlah Nak, jika memang harus jatuh.’ Lalu bangkitkan mereka dan dorong untuk berjalan lagi. Janganlah lalu dipeluk, dielus, dan ditimang seolah orang tua ingin menanggung rasa sakit anak. Anak memang harus merasakan sakit kehidupan itu. Biarkan ia kokoh bak pohon mangga yang tumbuh perkasa karena tak segan menerima sayatan pisau di batangnya.

Anak harus berlayar ke samudra lepas. Biarkan mereka menghadapi ombak dan gelombang ganas. Sebab pelaut yang hebat hanya jika terbiasa mengarungi gelombang dahsyat dan sekaligus menaklukkannya. Laut yang tenang tak akan menghasilkan pelaut hebat. Anak harus mengemudikan mobil kehidupannya sendiri, melewati jalanan berkelok dan tak ramah – agar tumbuh menjadi pengemudi yang hebat. Jalanan yang lurus mulus tak akan melahirkan pengemudi hebat. Jangan biarkan anak hanya duduk di samping pengemudi karena orang tua khawatir anak mengalami benturan dengan mobil lain.

Pada saatnya anak harus berada di jalanan kehidupan. Jangan bentuk dia seperti anak yang hidup di belantara hutan sunyi, lalu kebingungan dan panik bahkan ketika harus menyeberangi jalan. Anak harus paham mengeluarkan tetes keringatnya, namun bukan hanya tetes keringat karena sibuk bermain – tapi karena menjaga hidupnya sendiri dengan baik.

Menangislah bersama anak pada saat diperlukan, agar mereka belajar bahwa menangis itu bukan dosa atau kelemahan dan air mata itu sangat mujarab membasuh luka kehidupan. Namun jangan ajarkan anak menangis jika keinginanannya tak tercapai. Jika itu soalnya, bukan air dari sepasang mata yang diperlukan, melainkan air dari segenap tubuhnya dan bahkan jiwanya untuk terus berlari menuju garis finish.

Tertawalah bersama anak pada saat diperlukan, agar mereka belajar bahwa tawa itu perekat kebahagiaan bersama orang2 yang tercinta. Tapi jangan biarkan anak belajar tertawa diatas tangis orang lain, agar anak tidak tumbuh menjadi pribadi yang suka menertawakan kehidupan sebagai anugrah Tuhan terindah.

Peluklah anakmu agar dia belajar memeluk kehidupannya sendiri. Ciumlah anakmu agar dia paham mencium kehidupannya sendiri. Doronglah anakmu agar dia mahir mendorong kereta kehidupannya sendiri.

Reĺakan anakmu untuk tumbuh menjadi pribadi dewasa, yang bukan hanya pintar dan trampil – namun terlebih penting – bijak. Agar pada saatnya kelak, semua orang akan mafhum dan dengan rela mengakui bahwa anak muda yang perkasa itu adalah anakmu. Lalu engkau boleh tersenyum pada-Nya, sebab diberinya kesempatan untuk menjaga, merawat dan mendampingi anak kehidupan yang dititipkan-Nya kepadamu dengan baik.

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


Comments

comments

Komentar