MATINYA EMPATI SOSIAL

August 5, 2017 by  
Filed under CORETANKU DI KOMPAS

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


Kompas, 31 Juli 2017
Oleh: HERRY TJAHJONO

Belakangan ini mata kita dicelikkan oleh setidaknya dua kejadian bully yang dilakukan oleh anak atau remaja. Menggegerkan ? Bisa ya, bisa tidak – karena terlalu seringnya kita menyaksikan kejadian sejenis – terutama melalui

media sosial. Secara statistik mungkin tak semua terlacak dan terekspos, namun yang jelas dua kejadian yang menimpa anak dibawah umur dan anak berkebutuhan khusus itu hanyalah puncak gunung es di tengah masyarakat kita.

Tentu banyak penyebabnya, namun salah satu yang utama adalah empati (sosial) yang semakin kering – atau secara sarkastis : mati. Kata empati sendiri (empathy) ditemukan pada tahun 1909 oleh E.B. Titchener. Dan jika kita mengadaptasi Daniel Goleman (dalam karyanya Focus – The Hidden Driver of Excellence) – bisa dipelajari bahwa salah satu kompetensi (sosial) penting adalah empati.

Empati mengarahkan fokus kita, fokus ke pihak lain – yang memuluskan hubungan kita dengan orang-orang dalam kehidupan kita. Secara singkat disebutkan ada :
Empati kognitif : Aku memahamimu ! Empati emosional : Aku merasakan sakitmu ! Kepedulian empatis : Aku di sini untukmu ! Jika kita perhatikan, para pelaku bully itu adalah mereka yang hancur semua elemen empatinya – baik empati kognitif, emosional dan kepedulian empati. Nalar (cipta) mereka tak mampu memahami atau mengerti kondisi orang lain, emosi (rasa) mereka tak mampu ikut merasakan kesakitan atau penderitaan orang lain, kehendak (karsa) mereka jauh dari keinginan untuk hadir bersama orang lain di sekitarnya.

Pengamat sosial Devie Rahmawati mengatakan : “ Agresi sosial yang menyasar kepada para peserta didik berkebutuhan khusus tersebut menjadi sebuah isyarat, tidak hadirnya produk nilai-nilai moral dari institusi pendidikan. Sekolah atau kampus selama ini hanya memfokuskan diri pada upaya memproduksi pengetahuan umum tanpa disertai produksi keterampilan sosial dan membangun empati terhadap sesama,” (Detikcom, 18/7/2017).

Pengamatan yang relatif tepat, sebab empati (sosial) dibentuk oleh nilai-nilai diri. Miskinnya empati atau kosongnya nilai-nilai diri yang baik dan mulia itulah yang melahirkan para pelaku bully itu. Nilai-nilai ini yang menuntun dan mengarahkan pilihan-pilihan hidup serta perilaku atau tindakan manusia. Bahkan Stephen Covey menempatkan nilai-nilai diri sebagai salah satu konsep terpentingnya tentang manusia reaktif dan proaktif.
Pada manusia reaktif, dia sangat dibatasi oleh hukum ”stimulus – respon” yang sempit dan terbatas. Pilihan respon dan perilakunya sangat dikuasai oleh suasana hati dan lingkungan tanpa landasan nilai yang kokoh.

Sedangkan manusia proaktif tidak demikian. Di antara garis ” stimulus – respon” ada sebuah ”ruang” – yang berisikan kebebasan untuk memilih respon atau perilaku. Kebebasan memilih respon yang didasari oleh nilai-nilai diri. Disebutkan pula bahwa nilai-nilai diri ini berkembang di masa-masa awal kehidupan atau masa kanak-kanak sebagai hasil interaksi dan pengalaman kita dengan orang-orang yang penting dalam kehidupan kita, terutama orang-tua.
Sekarang kita diingatkan kembali betapa pentingnya pendidikan dan penanaman nilai-nilai pada anak (didik). Anak belajar nilai-nilai dirinya melalui interaksi dengan lingkungannya – dari yang terdekat sampai yang terjauh :

Pertama, keluarga – bagaimana orang tua mengajarkan nilai-nilai berdasarkan prinsip kepatuhan. Kepatuhan anak bukan kepada sosok orang tua (atau siapapun yang dianggap senior dalam keluarga) – namun kepatuhan kepada nilai-nilai yang ditetapkan dalam sebuah keluarga. Nah, agar anak patuh kepada nilai, maka orang tua harus lebih dulu menjalankan nilai-nilai yang diajarkan (walk the talk). Orang tua menjadi patron, teladan yang menjalankan nilai-nilai yang membentuk empati sosial. Prinsip kepatuhan terhadap nilai ini sangat penting dan mendasar, sebab dengan patuh terhadap nilai (yang sudah terinternalisasikan dalam dirinya) – di manapun anak berada – ia akan menjalankan nilai tersebut tanpa perlu kehadiran fisikal orang tuanya.

Kedua, sekolah – bagaimana guru dan struktur sekolah mengajarkan, menciptakan dan mengkondisikan suasana egaliter, kesetaraan dan nilai moral yang lebih kompleks sebagai pembentuk empati sosial. Perilaku bully terjadi ketika si pelaku merasa sebagai subyek, dan korbannya sebagai obyek. Pelaku sebagai pihak superior dan korban sebagai pihak inferior. Obyek inferioritas ini bisa dilatari berbagai aspek : mulai dari kelemahan, kekurangan fisik-psikis sampai latar belakang sosial ekonomi dan politik (SARA salah satunya).

Devie Rahmawati juga menambahkan bahwa berdasarkan studi di Barat, Individu berkebutuhan khusus memang memiliki potensi lebih besar untuk mengalami perundungan yaitu 46 persen dibandingkan dengan individu lain yaitu hanya sebesar 10 persen. Kondisi ini yang mendorong para individu berkebutuhan khusus sering mengalami kasus perundungan, di mana studi menunjukkan 73 persen mereka akan digoda atau dijadikan objek lelucon, 53 persen diasingkan, 47 persen akan diberikan label-label tidak positif dan sepertiganya mengalami perundungan secara fisik.” Saya ingin menambahkan, anak berkebutuhan khusus – sadar atau tidak – dianggap sebagai “obyek inferior” oleh para pelaku.

Maka sekali lagi, sekolah menjadi tempat terbaik untuk menanamkan nilai-nilai egaliter (dan nilai moral) yang membentuk empati sosial. Bagaimana peserta didik memandang temannya – apapun dan siapapun dia – sebagai “sesama” manusia ciptaan Tuhan yang harus dihormati, dihargai dan bahkan dijaga.

Ketiga, Negara – tentu termasuk semua dimensi – baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Perilaku elite politik di semua dimensi tersebut – terlebih di era digital ini – merupakan proses pendidikan nilai yang efektif bagi anak dan remaja. Selain ketiga dimensi itu, tentu “perilaku” berbagai lembaga atau organisasi masyarakat turut berperan besar dalam konteks pendidikan nilai ini.

Jika para elite, lembaga masyarakat dan tokoh tersebut (termasuk agama) mempertontonkan perilaku (dari verbal sampai fisik) yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur dan mulia terhadap kemanusiaan – maka hal itulah yang akan “dipatuhi” oleh anak. Lihatlah bagaimana antar elite, tokoh tersebut saling menyerang yang lainnya sebagai

obyek, korban yang inferior. Perilaku bully itu antar elite itu dilihat, ditonton, dibaca dengan sedemikian gamblangnya oleh nyaris semua anak di negeri ini. Maka anak akan “mematuhi” nilai-nilai buruk yang “diajarkan” elite dan tokoh itu, sekaligus mematikan empati sosial mereka.
Masalah pendidikan nilai ini menjadi tugas besar bersama yang sangat rumit. Kenapa ? Sebab antara pendidikan nilai keluarga, sekolah dan Negara harus sinkron. Jika anak dididik nilai yang mulia dan manusiawi dalam keluarga, namun dia belajar yang sebaliknya di sekolah atau dari Negara – maka anak akan mengalami konfik nilai diri yang juga kontraproduktif bagi perkembangan kepribadian dan perilakunya.
Masa depan bangsa ini sebagian besar ditentukan oleh mereka. Jika kita mendidik anak-anak itu sebagai pelaku bully – maka pada gilirannya – mereka juga akan membentuk bangsa ini sebagai “bangsa pem-bully”. Matinya empati sosial akan membahayakan kepribadian dan eksistensi bangsa ini di masa mendatang.
***

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


Comments

comments

Komentar