SECUIL KISAH MAHABARATA

September 4, 2017 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


Tak ada cerita yang paling menyedihkan di Mahabarata selain kisah hidup Karna. Terlahir sebagai anak dewa dan putri raja, tapi menjalani hidup di kasta rendah. Ibunya bukanlah Bunda Maria atau Maryam Ummu Isa yang teguh mesti didera cacian, mempunyai anak tanpa bapak.

Kunti terlampau takut dengan pandangan orang. Sebelum semua tahu, dia larungkan bayinya yang masih merah di sungai deras. Hidup atau tidak, ibu muda itu pasrah.

Untungnya, keluarga kusir yang menemukan Karna mencurahinya penuh kasih sayang. Radha membesarkan seperti anak kandungnya sendiri. Karena itulah, Karna lebih suka dipanggil Radheya (anak Radha) dibanding Kuntiya (anak Kunti) sampai ajalnya tiba.

Ketika remaja, Guru Durna tak menerima Karna yang cerdas karena dia hanya anak kusir. Dia beralih guru ke Ramaparasu. Pendekar sakti itu menolak mengajari para kasta ksatria. Karna mengaku dia bukan dari kasta itu karena memang tidak tahu.

Ramaparasu menjadikan Karna murid kinasih hingga diajarkan jurus dan mantra andalan. Dia tidur di pangkuan. Malang, seekor semut kecil mengigit Karna. Tak ingin gurunya terbangun, Karna rela menahan sakit.

Tubuhnya menahan gatal, keringat mengucur, Karna tak ingin menimbulkan gerakan yang membangunkan gurunya . Hingga Ramaparasu terkejut melihat muridnya. Sang guru murka.

“Siapa kau sebenarnya? Hanya kasta ksatria saja yang rela menahan sakit demi memperjuangkan sesuatu,” ucap Ramaparasu. Kutukan dilontarkan. Kelak pada saat genting, Karna sama sekali tak ingat rapalan mantra pemberian gurunya itu.

Karna bingung. Setelah diusir, dia belajar ilmu secara otodidak. Banyak orang yang mengejek, tak terkecuali Pandawa, yang ternyata adiknya sendiri. “Masak, anak kusir sok-sokan pengen jadi ksatria,” ejek Bima.

Pandawa tak menerima pertemanan dengan Karna. Kurawa yang malah menyambut baik layaknya seorang sahabat. Biarkan orang lain menyebut Duryudana atau Yudana yang jahat, tapi bagai Karna adalah Suyudana atau Yudana yang baik.

Menjelang dewasa. Terdengarlah sayembara memperebutkan Drupadi yang cantik dan molek, putri Raja Drupada. Perlombaan memanah burung tanpa melihat langsung. Banyak yang gagal mengangkat busur, apalagi memanah. Tentu saja ini sebenarnya keahlian Karna.

Bertekad Radheya putra Radha itu ke palagan. Belum sampai dia mengangkat gendhewa, Drupadi menolak. “Aku tak mau menjadi seorang istri anak kusir,” ujarnya. Karna patah hati.

Sabar Karna, kelak kau akan mendapatkan pasangan yang setia sampai mati. Putri raja yang mau hidup sederhana dan akan kau cintai tanpa ada yang lain. Surtikanti namanya, pemilik rasa cinta tanpa batas.

Sebagai prajurit sakti, Karna tentu sangat ditakuti. Anak Dewa Matahari ini memperoleh perisai yang menempel di badannya. Perisai yang tak bisa tembus oleh senjata apapun. Tapi sayangnya, Karna terlalu baik sampai merelakan perisai itu lepas dari badannya setelah seorang pengemis meminta. Padahal, pengemis itu adalah Dewa Indra, bapak Arjuna yang menyaru agar anaknya mudah mengalahkan Karna.

Sampai menjelang pertempuran Baratayuda, Karna tak pernah tahu kalau dia putra Kunti. Sampai suatu ketika, ibu Pandawa, perempuan anggun yang selalu dia kagumi dari jauh, datang menemuinya. Kunti menangis di hadapannya dan mengatakan bahwa Karna adalah putra sulungnya.

Bagai disambar petir, batin Karna terguncang. Bagaimana mungkin dia bisa membunuh adik-adiknya sendiri? Kunti terus menangis di hadapannya, tak ingin salah satu anaknya mati. Karna tak tahu, apakah ibu biologisnya itu takut kehilangannya atau putra-putranya yang lain?

Karna berjanji tak akan membunuh adiknya, kecuali Arjuna. Tujuannya agar anak Kunti tetap lima. Sebagai ksatria, dia penuhi janji itu. Yudhistira, Bima, Nakula, Sadewa, hanya seperti diajak latihan bertempur saat berperang.

Hingga saatnya tiba, Karna melawan Arjuna. Pemanah tampan itu dikusiri Kresna, manusia titisan dewa. Sementara kereta Karna dikusiri Salya, mertua yang setengah hati merestui karena tak ingin putrinya bersuamikan anak kusir.

Selama pertempuran, Arjuna hanya memutar dan menghindar. Arjuna terlmpau takut dengan keahlian Karna. Tapi malang tak dapat ditolak, Salya yang sedari dulu ingin mempunyai menantu seperti Arjuna malah menjebloskan roda kereta ke dalam lubang.

Mau tak mau, Karna turun dari kereta. Diangkatnya roda dari kubangan, tapi lubang terlampau dalam.

“Ayah, tolong bantu aku mengangkat roda kereta ini, ” permohonan Karna.
“Coba kau angkat sendiri. Tak elok, seorang raja seperti aku mengangkat roda kereta seoarang anak kusir.” jawab mertuanya.

Karna mulai putus asa. Tiba-tiba, dia melihat Arjuna mengarahkan busur panah ke arahnya. Karna panik, senjatanya masih di atas kereta. Dia butuh alat melawan yang cepat. Senjata pamungkas telah dia gunakan saat menghadapi Gatutkaca. Mantra rapalan dari gurunya, Ramaparasu, sekejab tak bisa diingat. Perisai di tubuh sudah tak dia miliki lagi.

Karna tahu, inilah waktu ajalnya menjemput. Anak panah Arjuna tepat menancap lehernya. Karna menghembuskan nafas terakhir. Kunti, Radha, Surtikanti, tiga permpuan dalam hidup Karna segera berlari menghampiri.

Dengan kesetian tinggi, Surtikanti mengambil panah dan menancapkan ke jantungnya sendiri. Salya terhenyak menyesal.

Sementara tangisan Kunti membingungkan semua orang. Kuntipun mengaku. Ternyata Karna yang selama ini orang anggap sebagai anak kusir yang berkasta rendah, adalah keturunan bangsawan, darah dagingnya. Pandawa marah kepada ibunya, mengapa menyimpan rahasia sedari awal.

Tapi penyesalan semua orang sudah tiada arti. Radheya, Karna anak Radha, ksatria yang senjatanya telah dilucuti berkali-kali dan keberanian berperang telah tergurih oleh tangisan ibu kandung yang tak pernah membesarkannya, telah pergi selamanya.

Sumber ilustrasi: deviantart
—–
Bagaimana kalau cerita ini dijadikan sebuah novel? Apakah menarik?

Sumber: https://www.facebook.com/ndari.sudjianto

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


Comments

comments

Komentar