FASE ORAL KEPEMIMPINAN NASIONAL

April 27, 2018 by  
Filed under CORETANKU DI KOMPAS

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


Kompas, 26 April 2018
Penulis; Herry Tjahjono
CEO EMJI Group

source: inilah.com

Dinamika gegap-gempitanya dimensi kepemimpinan nasional yang didominasi oleh saling cakar kekuasaan, korupsi serta perang kata (baik ucapan maupun tulisan) antar pemimpin yang sangat sarkastik – dan bahkan tanpa etika – sangat menarik jika dibahas dari aspek psikologi, tepatnya psikoseksual. Media sosial salah satunya, menjadi ajang perang kata yang jauh melenceng dari nilai-nilai santun dan mulia bangsa kita – baik yang tertuang dalam ajaran leluhur, Pancasila dan bahkan agama.

Konsep dari Freud sangat relevan untuk membahas fenomena ini. Merujuk dan mengadaptasi Yuanita Wardianti dan Dian Mayasari (Pengaruh Fase Oral Terhadap Perkembangan Anak, Jurnal Bimbingan dan Konseling Indonesia Volume 1 Nomor 2 bulan September, 2016) – dijelaskan bahwa Freud membagi tahap perkembangan kepribadian menjadi tiga ; tahap infantil (0-5 tahun), tahap laten (5- 12 tahun), dan fase genital (12- dewasa).

Tahap infantil adalah adalah tahap yang paling menentukan dalam membentuk kepribadian. Tahap ini sendiri terbagi menjadi tiga fase : fase oral, fase anal, fase falis. Dan khususnya fase oral sangat relevan untuk dibahas sesuai konteks tulisan ini. Mulut, menjadi area utama aktivitas dinamis, merupakan area kepuasan seksual yang di pilih oleh insting seksual. Makan dan minum menjadi sumber kenikmatan. Rangsangan oral diperoleh melalui aktivitas mencicipi atau menghisap.

Singkatnya, ada satu kondisi spesifik yang kurang kondusif dalam fase oral ini jika dikaitkan dengan konteks tulisan ini. Kondisi terjadinya ketidakpuasan pada fase oral yang berdampak pada masa dewasa : seseorang akan tidak pernah puas, tamak (memakan apa saja) dalam mengumpulkan harta. Juga terjadinya sebuah kondisi yang disebut oral aggression personality : gemar berdebat, menggunjingkan orang lain, sampai berkata-kata kotor dan sarkatik.

Sampai di sini tema ini semakin menarik, sebab kita akan menelaahnya secara psikologi historis-simbolis, utamanya terkait masa kepemimpinan otoriter Orde Baru – yang paling dominan berkuasa dan membentuk psikologi massa selama tiga puluh tahun lebih. Jika pemerintah Orba disimbolkan sebagai seorang ibu, maka generasi pemimpin yang relatif masih kecil selama kekuasaan Orba itu kini berusia sekitar 40 tahun ke atas.
Maka kita akan mulai melihat, betapa generasi pemimpin masa sekarang ini mengalami ketidakpuasan masa oral terhadap penguasa masa lalu : tak pernah puas (terkait kekuasaan), tamak memgumpulan harta (korupsi dalam berbagai bentuknya), juga dilanda oral aggression personality yang nyaris sempurna : gemar berdebat (lihatlah dalam beberapa acara TV tertentu, raja debat yang agresif kasar sekaligus memamerkan kebodohan), menggunjingkan orang lain sampai berkata-kata kotor dan sarkatis (baik sesama pemimpin bahkan pada pemerintah yang sah).
Kenapa tugas perkembangan fase oral secara simbolis tak bisa dilalui dengan baik oleh generasi pemimpin tersebut ? Karena secara politis, pemerintah waktu itu memang tak pernah membiarkan para anak muda calon pemimpin itu menjalani “masa oralnya” dengan baik. Masa oral secara simbolis itu adalah pemenuhan kebutuhan untuk menerima teladan kepemimpinan yang ideal, suasana demokratis yang optimal, serta praktik berbangsa bernegara yang bersih. Generasi pemimpin itu disapih (baca : tak bisa menjalani fase oralnya dengan wajar dan baik), ketika mereka justru menerima dan meneladani kepemimpinan yang otoriter, suasana kehidupan yang represif, serta praktif berbangsa bernegara dipenuhi KKN.

Kini menjadi jelas kenapa generasi pemimpin sekarang ini didominasi oleh perlaku kepemimpinan yang haus akan kekuasaan, tamak melakukan korupsi, serta sangat agresif, sarkastis ketika menyerang orang lain. Mereka adalah generasi yang gagal memenuhi tugas perkembangan simbolis fase oralnya. Sekali lagi, panorama kehidupan berbangsa kita dewasa ini hanya dipenuhi oleh berita korupsi serta agresivitas sarkastis tak beretika dalam komunikasi kepemimpinan nasional. Dan eksesnya, masyarakat di aras horisontal akhirnya meniru, mengimitasi semua perilaku kepemimpinan yang terjadi.

Itu sebabnya model kepemimpinan yang kini dikembangkan oleh Presiden Jokowi sesungguhnya representasi simbolis seorang “ibu” yang sedang menyusui anak-anak kecil / remaja – dimana dua, tiga atau empat dekade lagi mereka akan menjadi pemimpin bangsa. Gaya kepemimpinannya yang cenderung ideal (melayani dan merakyat), suasana kehidupan yang demokratis serta upaya tak kenal lelah pemberantasan korupsi termasuk peneladanan hidup bersih (tidak KKN, dimulai dari keluarga presiden sendiri) akan menjadi peluang terbaik agar generasi pemimpin masa depan kita mampu menjalani tugas perkembangan simbolis fase oralnya dengan baik bahkan sempurna.

Nuansa kepemimpinan serta pemerintahan ini diharapkan menjadi antithesis dari pemerintahan Orba. Tentu saja ini bukan tugas yang ringan bagi pemerintahan Presiden Jokowi dan jajarannya, namun perjuangan yang tengah dilakukan di masa kini adalah demi persiapan benih-benih baik dan unggul kepemimpinan masa depan. Maka pencanangan pemerintah untuk fokus pada pembangunan SDM di tahun 2019 menemukan aksentuasinya.

Saya kira saat ini Presiden Jokowi tengah membangun sejarah, utamanya sejarah kepemimpinan masa depan dengan cara membantu dan mendampingi generasi pemimpin masa depan melewati tugas perkembangan simbolis fase oralnya dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.

***

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


Comments

comments

Komentar