Dulu Satelit Palapa Pelopor ASEAN, Indonesia Kini Disalip Singapura

July 24, 2018 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


“Halo, Saudara Gubernur, selamat pagi!” Presiden Soeharto menyapa Gubernur DI Aceh saat itu, Muzakir Walad, melalui sambungan telepon.

“Ya, Muzakir di sini,” jawab Gubernur DI Aceh.

“Suaranya bisa jelas?” tanya Pak Harto kembali.

“Terang, Pak,” jawab Muzaki kembali.

Itulah potongan peristiwa percakapan saat acara peresmian pemakaian SKSD (Sistem Komunikasi Satelit Domestik) “Palapa”, 16 Agustus 1976, di ruang masuk utama Gedung DPR-MPR Senayan, seperti ditulis harian Kompas, 18 Agustus 1976.

Seremonial percakapan melalui telepon itu dilakukan untuk menunjukkan manfaat peluncuran infrastuktur satelit bernama Palapa pada 9 Juli di Cape Kennedy, Amerika Serikat. Peluncuran ini dilakukan dengan roket NASA “Delta 2941” yang terbagi atas tiga tingkatan dengan pendorong 9 roket tambahan.

Pada tahun itu, Indonesia menjadi negara pertama di kawasan ASEAN yang berhasil memiliki sistem satelit nasional sendiri. Oleh karena itu, negara tetangga di ASEAN turut memanfaatkan kehadiran “Palapa”. Saat itu, Satelit Palapa merupakan generasi A1. Setelahnya, beberapa generasi lain muncul, mulai dari B hingga D. Bahkan, pada 2021 nanti muncul generasi terbaru: Palapa-N1.

Satelit di ASEAN

Kini, bukan hanya Indonesia yang memiliki satelit domestik sendiri, tetapi juga Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Laos, dan Filipina.

Berdasarkan database dari Union of Concerned Scientists (UCS), per 31 Agustus 2017, Singapura adalah negara di ASEAN dengan jumlah satelit aktif terbanyak (10 satelit). Indonesia berada di bawah Singapura dengan 8 satelit aktif. Banyak satelit Indonesia yang tidak aktif atau mengalami perkembangan terbaru.

Infografik Periksa Data Satelit Palapa

Dari beragam tujuan penggunaan satelit, kasus yang terjadi di ASEAN cenderung didominasi dengan satelit komersial (53,1 persen). Satelit pemerintah hanya sekitar 28,1 persen. Di Indonesia, satelit dengan jenis penggunaan komersial dimiliki perusahaan seperti BRISat dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). BRISat dimaksudkan untuk membantu keterjangkauan pelayanan BRI di seluruh wilayah Indonesia.

Sementara itu, di Singapura, ada ST-2 (Singapore-Taiwan 2), yakni satelit komunikasi dari Singapore Telecommunications Ltd. (SingTel) dan Chunghwa Telecom Co. Ltd. Ini merupakan satelit komunikasi dengan daya jangkau cukup luas, tidak hanya mencakup Asia Tenggara, tapi juga Timur Tengah, Asia Tengah, India.

Infografik Periksa Data Satelit Palapa

Satelit sipil umumnya masuk dalam kategori satelit kecil (micro satelit) dengan fokus utama pada pengembangan IPTEK. Satelit generasi Velox dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura, misalnya. Selain sebagai sarana pengembangan teknologi satelit secara bertahap, satelit kecil umumnya fokus pada informasi iklim (climate satellite) atau satelit komunikasi dengan hal-hal baru (experimental communication satellite).

Selain NTU, ada kampus lain di Singapura yang mempunyai satelit: National University of Singapore (NUS). Ada Galassia dan Kent Ridge, satelit kecil yang digunakan untuk pengembangan informasi mengenai ilmu bumi. Untuk di Indonesia, pengembangan masih berpusat di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang memiliki satelit untuk pengembangan Iptek dan observasi bumi. Tiga satelit LAPAN yang aktif adalah LAPAN A2, LAPAN A3, dan LAPAN-Tubsat (LAPAN A1).

LAPAN A2, selain sebagai sarana untuk observasi bumi, juga bekerja untuk mitigasi bencana, penggunaan lahan, hingga pemantauan sumber daya alam dan lingkungan. LAPAN A3 selain memiliki misi dalam eksperimen untuk metode penginderaan jauh dan digunakan juga untuk komunikasi radio amatir. Terakhir, LAPAN-Tubsat (LAPAN A1) merupakan satelit mikro dengan kamera surveillance German DLR-Tubsat.

Infografik Periksa Data Satelit Palapa

Satelit LAPAN A2 dan LAPAN A3 termasuk satelit yang dikembangkan secara domestik: LAPAN sendiri menjadi kontraktor untuk membangun satelit itu. Umumnya, asal kontraktor satelit di ASEAN berasal dari negara maju seperti Amerika Serikat.

Perusahaan seperti Boeing Satellite Systems, Orbital Sciences Corp, Space System/Loral, dan Lockheed Martin Commercial Space Systems adalah contoh dari kontraktor satelit di wilayah ASEAN asal Amerika Serikat. Selain perusahaan Amerika Serikat, ada kontraktor seperti Thales Alenia Space dari Perancis/Italia, atau bahkan China Academy of Space Technology (CAST) dari Cina.

Amerika Serikat sendiri, berdasarkan database dari Union of Concerned Scientists (UCS) per 31 Agustus 2017, tercatat memiliki 803 dari total 1.738 satelit yang beroperasi di seluruh dunia. Cina mengoperasikan hampir seperempat jumlah milik Amerika Serikat, yakni 204 satelit, sedangkan Rusia tercatat punya 142 satelit aktif hingga saat ini.

Artinya, ketergantungan terhadap negara-negara tertentu untuk urusan satelit tidak dapat dibantah. Namun demikian, pengembangan satelit kecil dari NTU, NUS ( Singapura) ataupun LAPAN (Indonesia) sudah membuka potensi baru.

Tren Satelit Kecil

Laporan berjudul “Global Outlook 2018: Spatial Information Industry dari Australia and New Zealand Cooperative Research Centre for Spatial Information” memang menulis bahwa miniaturisasi satelit dan penyebaran satelit kecil, satelit nano, dan satelit kubus sebagai yang hal paling relevan dalam beberapa tahun terakhir (hal. 36). Hal yang sama ditegaskan juga dalam laporan “Satellite Value Chain: Snapshot 2017 dari Euroconsult”: satelit kecil semakin umum digunakan.

Hal itu masuk akal, mengingat infrastruktur satelit tidaklah murah. Pengeluaran pemerintah di wilayah ASEAN akan tampak kecil jika dibandingkan dengan negara-negara kunci di kawasan. Indonesia misalnya, menurut laporan Euroconsult 2017 dianggap mampu mengeluarkan $160 miliar (2016)—terbesar di ASEAN, tapi masih lebih kecil dari Australia ($235 miliar pada 2016). Apalagi dibandingkan dengan Cina ($4.909 miliar, 2016); Jepang ($3.018 miliar, 2016), India (1.092 miliar, 2016) dan Korea Selatan ($671 miliar, 2016).

Menurut proyeksi Global Space Launch Services Market, industri yang mencatatkan nilai sebesar $9,68 miliar pada 2017 ini akan mencapai $36,99 miliar pada tahun 2026. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi angka proyeksi itu, di antaranya: perkembangan permintaan pasar soal satelit kecil, kemajuan dalam teknologi Reusable Launch Vehicle (RLV), peningkatan misi eksplorasi ruang angkasa.

Terkait dengan tren satelit kecil ini, sudah waktunya kebanggaan akan Satelit Palapa sebagai pionir satelit domestik di ASEAN direfleksikan serta dikontekstualkan kembali. Indonesia semestinya tak sekadar membeli dan meluncurkan, tetapi juga lebih banyak mengembangkan teknologi satelit secara mandiri.

LAPAN sudah memulai dengan dua satelitnya plus satu satelit kerjasama. Selain itu, Indonesia perlu juga berkaca pada Singapura yang dua kampusnya mampu mendorong program satelit kecil. Siapkah kampus di Indonesia menyiapkan program pengembangan teknologi satelit?

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Frendy Kurniawan
(tirto.id – Teknologi)

Penulis: Frendy Kurniawan
Editor: Maulida Sri Handayani

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


Comments

comments

Komentar