RASA MALU KEPEMIMPINAN

July 24, 2018 by  
Filed under CORETANKU DI KOMPAS

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


Kompas, 23 Juli 2018
Penulis; Herry Tjahjono
CEO EMJI Group

Kepemimpinan tak akan pernah usang untuk dibahas, sebab perannya sangat sentral dalam organisasi apapun – bahkan organisasi keluarga sekalipun. Tanpa bermaksud melakukan simplifikasi, sesungguhnya mati hidup sebuah organisasi tergantung pada pemimpin dengan kapasitas kepemimpinannya.

Kepemimpinan juga sudah sangat banyak dibahas dari berbagai aspeknya : mulai dari kompetensi, pengalaman, kinerja, budaya dan lain sebagainya.

Namun yang sering dilupakan orang adalah sebuah fakta sederhana, bahwa di antara sekian banyak faktor penting itu – menyelip sebuah faktor non-teknis yang justru menjadi salah satu faktor terpenting, yakni : rasa malu (kepemimpinan). Rasa malu ini sesungguhnya faktor dominan yang mewarnai “nasib” kepemimpinan seorang pemimpin, kinerjanya, pengembangan dirinya, sikapnya – dan pada gilirannya menentukan “nasib” organisasi dan pengikut yang dipimpinnya.

Michael Lewis (Shame: Exposed Self, 1995) dan Stephen Pattison (Shame: Theory, Therapy, Theology, 2000) secara relatif menjelaskan soal malu dalam kaitan dengan perasaan yang dialami Hawa seusai melanggar perintah Tuhan untuk tak memakan buah kuldi di Taman Eden. Buah kuldi sebagai buah tentang pengetahuan baik dan jahat. Kisah itu juga akhirnya menuturkan tentang rasa malu Hawa tatkala sadar dirinya telanjang seusai melakukan perbuatan dosa, yaitu melanggar perintah Tuhan dengan memakan buah kuldi. Artinya, sejak itulah Hawa (dan Adam) mulai memiliki rasa malu – yang pada gilirannya membentuk sejarah umat manusia.

Secara garis besar – terkait konteks tulisan ini – ada dua jenis rasa malu kepemimpinan. Pertama, rasa malu terhadap diri sendiri, bersifat internal. Rasa malu internal ini menentukan apalah seorang pemimpin memperlakukan kursinya, kepemimpinannya, kekuasaannya – sebagai amanah atau ambisi. Pemimpin yang memiliki rasa malu internal, dia akan memperlakukan kepemimpinan atau kekuasaannya yang dipegangnya sebagai amanah.

Maka jika dalam menjalankan kepemimpinannya ia membuat kesalahan, kegagalan, keteledoran, dan kelemahan lainnya – sikap yang diambilnya adalah seperti Hawa – menutup aurat dan tubuh telanjangnya dengan pakaian (konon, dedaunan). Secara analogis, menutup aurat dan tubuh telanjang itu adalah mengakui kesalahannya, berani memikul tanggungjawab, memperbaiki diri dan muaranya adalah membentuk sebuah kerendahan hati (personal humility). Pemimpin yang memiliki rasa malu internal dan amanah, biasanya akan terus tumbuh dan berkembang menuju kesempurnaan kepemimpinannya – karena punya rasa jengah pada dirinya sendiri ketika salah, lalu punya kerendahan hati untuk mengakui kelemahan dirinya serta siap belajar untuk memperbaikinya. Sampai batas-batas tertentu, Presiden Jokowi termasuk model pemimpin yang memiliki rasa malu internal serta amanah.

Sedangkan pemimpin yang tak punya rasa malu internal, biasanya akan memperlakukan kepemimpinan dan kekuasaan yang dimilikinya sebagai ambisi. Pemimpin semacam ini tidak akan pernah mengakui kesalahannya, apalagi meminta maaf. Dia akan memanipulasi semua hal untuk melakukan pembenaran diri. Kita paham betapa banyak pemimpin semacam ini di negeri kita, baik wakil rakyat, gubernur atau lainnya. Baginya yang terpenting adalah memenuhi ambisi pribadinya. Dia tak punya rasa malu bahkan terhadap dirinya sendiri, dia tak pernah jengah dengan dirinya ketika melakukan berbagai kegagalan. Kalau perlu dia akan melemparkan kesalahan pada siapapun yang bisa disalahkannya, anak buah atau rakyat sekalipun.

Kedua, rasa malu terhadap orang lain, bersifat eksternal. Rasa malu eksternal ini yang akan menentukan apakah kekuasaan yang digenggamnya ditujukan untuk diri sendiri atau untuk organisasi. Jika ia punya rasa malu eksternal, maka ia akan memperlakukan kekuasaan yang dimilikinya sebagai sarana, bukan tujuan. Maka dalam prosesnya seorang pemimpin akan menggunakan kekuasaan yang digenggamnya semata-mata demi kemaslahatan dan keberhasilan organisasi (pengikut, warga, rakyat). Semua untuk organisasi atau Negara, bahkan keluarga tak boleh sedikitpun mencicipi kekuasaan yang ada dalam tangannya.

Sedangkan jika seorang pemimpin tak punya rasa malu eksternal, maka ia akan memperlakukan kekuasaan sebagai tujuan. Akibatnya dia akan menggunakan segala cara (termasuk yang paling memalukan sekalipun) untuk memenuhi kesenangan dirinya sendiri. Semua upayanya ditujukan untuk keberhasilan diri, bukan organisasi. Kalau perlu keberhasilan orang lain, pendahulunya pun dia klaim sebagai keberhasilan dirinya. Dia akan menggunakan fasilitas organisasi untuk kesenangan dirinya, termasuk keluarganya. Dia tak punya rasa malu eksternal, dia tak punya jengah untuk menutup aurat dan tubuh telanjangnya. Dan kita paham, betapa banyak pemimpin semacam ini berkeliaran setiap hari di depan mata kita.

Pedoman moral pemimpin yang tak punya rasa malu – baik internal maupun eksternal – sudah rusak. Meski dia tahu berbuat salah, melanggar, tak wajar—dan seterusnya – tetap tak peduli. Bahkan dia berani tanpa malu malah menantang balik siapa pun yang mengingatkannya atau mengkritiknya. Akibatnya, pemimpin tanpa rasa malu internal maupun eksternal akan sangat culas, oportunistik dan berbahaya dalam kepemimpinannya sehari-hari.

Muara dari tulisan ini sederhana namun sangat esensial bagi kelangsungan hidup sebuah organisasi – termasuk (organisasi) Indonesia, (organisasi) DPR, dan seterusnya termasuk (organisasi) di tingkat lebih bawah seperti Ibu Kota, kabupaten, kotamadya, kelurahan sampai keluarga di negeri ini.

Pemimpin yang memiliki rasa malu internal dan eksternal, ambang batas rasa malunya sangat rendah sehingga ia dengan sangat mudah merasa malu, jengah, sungkan jika tak bisa memberikan manfaat bagi orang lain, pekerjaan, masyarakat, bangsanya. Bahkan, ketika tidak berprestasi, tak memberikan kinerja serta manfaat – mereka merasa malu.
Sebaliknya, pemimpin tanpa rasa malu internal dan eksternal – akan membabi-buta dan pantang mundur meski gagal atau berbuat sesuatu yang memalukan. Mereka tak akan mundur dengan hormat, karena memilih untuk bertahan meski tanpa kehormatan sekalipun. Hanya pemimpin dengan rasa malu internal dan eksternal yang bersedia mundur secara dewasa dan sportif jika gagal atau melakukan sesuatu yang memalukan.

Bangsa yang miskin akan pemimpin dengan rasa malu internal dan eksternal, pada akhirnya akan menjadi bangsa yang memalukan. Ada dua hal yang bisa dilakukan : 1) Peneladanan kepemimpinan bernuansakan rasa malu internal dan eksternal yang signifikan dari atas, dalam konteks negeri ini – hal itu sudah coba dilakukan oleh Presiden Jokowi meski belum sempurna, 2) Mekanisme pemilihan pemimpin yang lebih berlandaskan meritokrasi dan bukan lagi didominasi oleh nuansa politik identitas. Sebab politik identitas itu sendiri adalah sebuah proses yang tak mengenal rasa malu terhadap siapapun, maka pemimpin yang dilahirkannyapun cenderung tak punya rasa malu kepemimpinan.

Share with:

FacebookTwitterGoogleLinkedIn


Comments

comments

Komentar