Daftar Menu

January 10, 2019 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

gado

37. Belajar Menertawakan Diri Sendiri dari Gus Dur
36. Louis Braille dan Warisan Berharganya bagi Orang Tunanetra
35. Pencak Silat Memeluk Semua yang Mencintainya
34.Motor Pribadi Versus Naik Ojek Online Mana Lebih Irit
33. Mengenal Soda Tradisional dari Jawa
32. Biar Miskin Yang Penting Gaya
31. Dulu Satelit Palapa Pelopor ASEAN, Indonesia Kini Disalip Singapura
30. Monopoli: Ditemukan Aktivis, Dipopulerkan Pengangguran
29. Steve Jobs, Apple, dan Revolusi Pengoperasian Komputer
28. Johannes Leimena, Orang Paling Jujur di Mata Sukarno
27. 8 CARA ORANG CERDAS MENGGUNAKAN KEGAGALAN
26. BURUH KEBUN YANG MEMPUNYAI 50 GERAI KUE
25. BELAJAR DARI SEMUT
24. HATI YANG PENUH RASA SYUKUR
23. SECUIL KISAH MAHABARATA
22. SUATU PAGI DI TAHUN 1963
21. BIARKAN MEREKA TERJATUH DAN MENANGIS
20. Surat Terbuka HT Kepada Presiden JKW

19. Karya Besar dari Orang Desa
18. Semua Butuh Waktu
17. Kuda dan Semangat Tak Putus Asa
16. Rezeki Itu Ada di Langit, Bukan di Bumi!

15. Pemulung yang menyekolahkan 37 anak

14. BELAJAR DARI KISAH BOB SADINO
13. Menyidang Ahok dan Menimbang Amok
12. Manajemen Krisis Ala Gusdur
11. Sarapan Buat Anakku
10. Lalat
9. OK, Siap Pak
8. Kompetensi Istri
7. TP
6. William
5. Tidak Nak
4. My Champ
3. Kompetensi Tampah
2.Perubahan
1. Profesi yang agung

Belajar Menertawakan Diri Sendiri dari Gus Dur

January 10, 2019 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

eberapa pekan setelah menjadi presiden pada 1999, Abdurrahman Wahid berpidato di depan para tamu negara asing. Peristiwanya terjadi di Denpasar, Bali. Ia berpidato dalam bahasa Inggris tanpa teks. Di awal pidato, orang yang akrab disapa dengan panggilan Gus Dur ini berujar:

“Saya dan Megawati adalah pasangan presiden dan wakil presiden yang lengkap: saya tidak bisa melihat, dia tidak bisa ngomong.”

Semua tamu ger-geran tanpa kecuali. Gus Dur bersikap biasa saja melihat orang tertawa bahak-bahak. Wajahnya lempang belaka.

Waktu itu banyak omongan soal wakil presiden yang irit bicara. Megawati Soekarnoputri jarang sekali memberi komentar soal apapun. Gus Dur, sementara itu, hampir saban hari mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial yang sering bikin panas berita-berita di surat kabar.

Diamnya Megawati memang membuat orang bertanya-tanya, terutama menyangkut kapasitas pribadinya sebagai wakil presiden dan ketidakcocokannya dengan sang presiden. Gus Dur tahu betul tentang itu dan ia mencoba menetralkan situasi dengan kemampuannya yang menyenangkan: lelucon dan menertawakan diri sendiri.

“Maju Aja Susah, Apalagi Mundur”

Pada kesempatan lain, ketika desakan pengunduran diri kepada Gus Dur makin kencang di mana-mana, Emha Ainun Nadjib mampir ke istana. Berdasarkan cerita yang pernah dituturkan Emha, ia mendatangi lelaki kelahiran Jombang, 7 September 1940 itu sebagai seorang sahabat yang bermaksud mengingatkan.

“Gus, sudahlah, mundur saja. Mundur tidak akan mengurangi kemuliaan sampeyan,” kira-kira begitu kata Emha kepada Gus Dur.

Jawaban Gus Dur: “Aku ini maju aja susah, harus dituntun, apalagi suruh mundur.”

Dua orang itu ngakak.

Waktu itu memang posisi Gus Dur berada di ujung tanduk. Sepanjang Juni-Juli 2001, lawan-lawan politiknya terus menyerang dengan isu Buloggate lewat DPR dan MPR. Suasana memanas akibat pendukung Gus Dur dan penentangnya tiap hari melakukan demonstrasi dan unjuk kekuatan di depan istana. Gus Dur sempat mengeluarkan senjata pamungkas berupa Dekrit Presiden yang salah satu poinnya adalah membekukan DPR dan MPR.

Dekrit yang dikeluarkan pada 23 Juli 2001 pukul 01.10 itu ditentang banyak institusi negara, termasuk TNI dan Mahkamah Agung. MA bahkan mengeluarkan fatwa di hari itu juga bahwa dekrit Gus Dur bertentangan dengan hukum.

Siang harinya, Gus Dur berpendapat fatwa MA tersebut sebagai sesuatu yang tidak sah. “Pertimbangan itu tidak diputuskan melalui sidang dalam Mahkamah agung melainkan hanya oleh Ketua MA saja,” kata Juru Bicara Kepresidenan Yahya C. Staquf, seperti dilaporkan Kompas (23/7/2001).

Tapi langkah-langkah politik Gus Dur sudah begitu lunglai. Segala jurus yang dikeluarkannya percuma saja karena dukungan politik kian surut. Akhirnya, Gus Dur benar-benar mundur.

Ada peristiwa yang kemudian jadi ikonik ketika di malam sebelum ia meninggalkan istana, Gus Dur melambaikan tangan kepada para pendukungnya. Busana yang dipakai: baju tidur, celana pendek, dan sandal jepit.

Malam itu, ia menjadi Presiden RI pertama yang menampakkan diri kepada publik dengan celana pendek di Istana Negara.

Mantan Presiden yang Tetap Lucu

Setelah turun dari jabatan presiden, Gus Dur tetap sibuk dan tetap lucu. Ia masih melakukan safari ke daerah-daerah. Biasanya untuk berkunjung ke teman-temannya atau mengisi pengajian sampai kampung-kampung yang jauh.

Pada suatu ceramah di sebuah kampung, Gus Dur mengajak semua yang hadir di situ bersalawat. Para hadirin senang sekali melafalkan salawat dipimpin seorang kiai besar.

Di akhir ceramah, cucu pendiri NU K.H. Hasyim Asy’ari itu nyeletuk.

“Saya minta Anda semua bersalawat agar tahu berapa banyak jumlah yang hadir. Saya, kan, gak bisa melihat.”

Satu lapangan terpingkal-pingkal.

Salah satu humor Gus Dur yang paling dikenal adalah leluconnya soal kedekatan Tuhan dengan umat beragama. Ini juga mengandung unsur penertawaan diri terhadap sesuatu yang dianggap sakral tapi sering dipahami secara kaku: agama.

“Orang Hindu merasa paling dekat dengan Tuhan karena mereka memanggilnya ‘Om’. Orang Kristen apalagi, mereka memanggil Tuhannya dengan sebutan ‘Bapak’. Orang Islam? Boro-boro dekat, manggil Tuhannya aja pakai Toa.”

Seluruh Indonesia, tentu saja, tertawa.

Infografik Mozaik Belajar Ngetawain Diri Sendiri dari Gus Dur

Agar Politik Tak Muram

Gus Dur memang sangat lihai memainkan lelucon penertawaan diri sendiri sekaligus mencairkan ketegangan politik lewat humor. Dengan begitu, politik tak lagi muram dan hubungan sosial tidak kehilangan makna.

Kala mengomentari soal betapa banyak uang yang dikeluarkan seseorang untuk menjadi capres, Gus Dur berseloroh, “Saya dulu jadi presiden cuma modal dengkul, itupun dengkulnya Amien Rais.”

Seperti ia tulis dalam Kata Pengantar buku Mati Ketawa Cara Rusia (1986): “Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak, dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain.”

Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009,  Jika masih hidup, ia barangkali cuma cengar-cengir melihat politik Indonesia saat ini yang penuh makian tapi miskin imajinasi dan kekurangan lelucon.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 7 September 2017 dalam rangka merayakan tanggal lahir Abdurrahman Wahid. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Penulis: Ivan Aulia Ahsan
Editor: Zen RS
Sumber: Tirto.id

Louis Braille dan Warisan Berharganya bagi Orang Tunanetra

January 10, 2019 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

“If my finger is the sky,
Then under it the fields prosper.”
John Lee Clark lahir sebagai tuli. Keadaan itu adalah “warisan” yang diterima dari kedua orang tuanya. Setiap saat, Clark berkomunikasi menggunakan Bahasa Isyarat Amerika (American Sign Language). Tapi kemudian keadaan berubah. Clark ternyata mewarisi pula sindrom usher, penyakit genetik yang bisa menghilangkan bukan hanya kemampuan pendengaran tapi juga penglihatan. Ia pun kehilangan satu lagi inderanya: penglihatan.

Kehilangan kemampuan penglihatan bukan akhir hidup bagi Clark. Di Minnesota State Academy for the Deaf, ia putar arah. Karena tak mungkin meneruskan studi mendalam soal bahasa isyarat, Clark mengambil kelas khusus Braille—suatu kode khusus yang merepresentasikan huruf bagi orang-orang buta seperti dirinya.

Mempelajari Braille memberikan hidup baru bagi Clark. Ia menjadi sastrawan yang lumayan produktif. Selain menerbitkan kumpulan esai Where I Stand: On the Signing Community and My DeafBlind Experience (2014), Clark pun merilis kumpulan puisi yang salah satunya bertajuk “Suddenly Slow”, yang nukilannya tertera di atas.

Clark beruntung. Ia lahir selepas Braille ditemukan. Dalam The Blind in French Society from the Middle Ages to the Century of Louis Braille (2009) yang ditulis Zina Weygand, orang-orang buta pada abad pertengahan hidup sebagai masyarakat kelas dua, apapun latar belakang mereka. Secara umum, orang buta abad pertengahan hanya bisa hidup di dalam rumah dan mengandalkan orang lain.

Keadaan kehilangan penglihatan kala itu tak cuma urusan penyakit atau kecelakaan. Banyak kasus yang memperlihatkan bahwa kebutaan bisa disebabkan oleh kebiadaban pelaku kriminal. Dan karena Braille belum ditemukan, sukar bagi orang-orang yang kehilangan penglihatan beranjak dari nasib malang mereka.

Maka, atas keberuntungan yang diraih Clark, ia sudah sepantasnya mengucap terima kasih pada Louis Braille, penemu Braille.

Metode Paling Sederhana

Dalam makalah berjudul “The Story of Louis Braille” (2009), John D. Bullock mencatat Louis Braille lahir pada 4 Januari 1809 dalam keadaan sehat wal afiat. Ayahnya, Simon-Rene Braille, merupakan pengrajin alat-alat berkuda dan bekerja di ruang khusus di rumahnya. Braille kecil senang bermain-main di tempat kerja ayahnya itu.

Suatu ketika, kala usianya menginjak 3 tahun, Braille terjatuh saat bermain dengan perkakas milik ayahnya. Sial, salah satu perkakas menancap tepat di mata kanan Braille. Ia pun buta sebelah.

Kemalangan tak berhenti. Braille menderita sympathetic ophthalmia, yang membuat mata kirinya bernasib sama dengan mata kanannya. Pada usia 5, Braille buta sepenuhnya.

Mengerti bahwa pendidikan sangat penting bagi anaknya, sang ayah tetap memaksa memasukkan Braille ke sekolah dasar kala usianya mencukupi. Tapi Braille kesulitan belajar karena kondisi matanya. Di sekolah umum, praktis Braille belajar hanya dengan mendengarkan guru. Dan ketika kurikulum mewajibkan seluruh siswa membaca, Braille keluar.

Keberuntungan akhirnya menyapa Braille. Di usia 10, remaja buta itu memperoleh beasiswa untuk bersekolah di Royal Institution for Blind Youth, Paris. Di sekolah itu, Braille diajari cara membaca tulisan menggunakan metode yang dikembangkan Valentin Hauy, pendiri sekolah. Sayang, metodenya susah dimengerti dan dipelajari. Braille gagal menyelami dalamnya ilmu pengetahuan karena ketidakmampuannya membaca.

Hingga tibalah saat itu. Mantan kapten artileri Perancis bernama Charles Barbier berkunjung ke sekolah. Barbier memperkenalkan “night writing,” suatu kode pengiriman pesan bagi orang lain dalam keadaan gelap gulita. Kode ini populer digunakan tentara tatkala perang di malam hari. Dengan memanfaatkan titik-titik yang timbul di kertas, penerima pesan bisa memahami apa yang disampaikan.

Vincent Ng Lau dalam “Regular Feature Extraction for Recognition of Braille” (1999) menyebut bahwa night writing merupakan kode yang disusun atas matriks/sel 12 titik, dengan dua titik mendatar dan enam titik menurun. Tiap matriks tersusun atas kombinasi titik yang merepresentasikan bunyi. Ketika night writing dikenalkan pada Braille, remaja itu “melihat” bahwa inilah jawaban atas keterbatasan yang menimpanya, dan orang-orang buta lainnya.

Sayangnya, night writing punya beberapa kelemahan. Masih dalam tulisan Lau, Braille menyadari night writing merupakan kode yang merepresentasikan bunyi, bukan huruf. Artinya, metode itu sukar diimplementasikan menjadi kode universal. Lalu, karena night writing tersusun atas matriks 12 titik, susah bagi pembacanya merasakan seluruh titik dalam sekali sentuh. Akhirnya, di usia ke-12, Braille bertekad memodifikasi night writing.

Menginjak usia ke-15, Braille sukses memodifikasi metode tersebut. Matriks 12 titik diubah menjadi matriks 6 titik. Pengerucutan ini dilakukan agar para pembaca dapat memahami tiap matriks hanya dalam sekali sentuhan. Pembeda lainnya ialah tiap matriks tersusun atas titik yang merepresentasikan huruf-huruf di alfabet, bukan bunyi. Dalam kertas ukuran normal, 11×11 inci, karena telah disederhanakan, dapat termuat 1.000 karakter yang dibuat dengan kode Braille.

Namun, pembuatnya harus hati-hati. Matriks Braille tersusun atas dua titik mendatar dan 3 titik menurun. Pada dua titik mendatar, jarak titik tak boleh lebih dari 4 milimeter. Lebih dari jarak itu pengguna akan sukar membaca huruf apa yang direpresentasikan matriks.

Untuk memudahkan masyarakat memahami temuannya, Braille menerbitkan Method of Writing Words, Music, and Plain Songs by Means of Dots, for Use by the Blind and Arranged for Them (1829). Itu adalah buku yang dicetak dengan sistem aksara ciptaan Braille sekaligus buku pertama di dunia yang bertuliskan huruf Braille.

Pada 1834, kala Braille menginjak usia 25, ia mendemonstrasikan hasil kerjanya pada Raja Louis-Philippe dan berharap agar ciptaannya dapat disebarluaskan untuk menolong orang-orang buta agar bisa berkomunikasi dan memperoleh informasi dengan mudah. Sayangnya, sang raja tak merestui temuan Braille.

Penolakan raja akhirnya membuat matriks enam titik hanya digunakan kalangan terbatas, dalam lingkup orang-orang yang mengenal Braille. Hingga ia meninggal pada 6 Januari 1852, tepat hari ini 167 tahun lalu, matriks enam titik itu gagal menyebar luas.

Barulah dua tahun selepas kematian Braille, pemerintah Perancis menyetujui penggunaan kode matriks enam titik sebagai alat komunikasi orang-orang buta. Pemerintah lantas menyebut kode itu sebagai “Braille.”

Tiga tahun berselang, dalam World Congress for the Blind, Braille didaulat sebagai standar sistem membaca dan menulis.

Tak Sebatas Braille

“How the Blind ‘See’ Braille: Lessons From Functional Magnetic Resonance Imaging” (2005), paper yang ditulis Norihiro Sadato, menjelaskan bagaimana seseorang bisa memahami suatu bentuk komunikasi. Katanya, untuk memahami sesuatu, manusia memiliki dua “alat”: tactile information atau primary visual cortex (V1) dan primary somatosensory cortex. Keduanya mentransformasikan informasi pada otak selepas memperoleh informasi melalui mata dan kulit. Kedua alat ini mengirim informasi pada otak melalui jalur berbeda di cerebral cortex, suatu area dalam otak.

Pada kasus orang-orang yang membaca menggunakan Braille, informasi dikirim oleh primary somatosensory cortex, yang mengubahnya dalam bentuk informasi taktil sederhana bersifat leksikal dan semantik. Pada akhirnya, meski tak memiliki kemampuan melihat, orang-orang buta bisa memahami suatu informasi dengan mudah, dibantu dengan Braille.

Namun, meski terlihat mudah, membaca dan memahami menggunakan Braille butuh kemampuan kognitif yang kompleks. Pemakainya harus mampu menggerakkan jemari dengan presisi, mampu mempersepsikan titik timbul yang dirasakan, hingga harus bisa mengenali pola.

Infografik Mozaik Braille

Dalam perkembangan zaman, teknologi memudahkan orang-orang berkebutuhan khusus untuk dapat berkomunikasi. Pada 2005 Apple merilis VoiceOver, teknologi screen reader atau pembaca informasi di layar, untuk memudahkan orang-orang buta berkomunikasi menggunakan perangkat-perangkat Apple.

VoiceOver merupakan fitur pembaca segala tulisan maupun tombol yang ada di layar. Ia hadir secara langsung di perangkat Apple. Fitur ini mampu membaca 0,66 kata per menit dan hadir pertama kali di sistem operasi Mac, OSX 10.4.

Pada 2009 VoiceOver hadir pada perangkat iPhone dalam seri iPhone 3GS dan iPod varian Shuffle. Tahun berikutnya, saat iPad pertama kali diluncurkan, VoiceOver juga disematkan pada perangkat ini.

Melalui VoiceOver, pengguna smartphone dapat melakukan hampir segala kegiatan di berbagai perangkat Apple. Memakai WhatsApp, misalnya. Segala tombol yang ada di WhatsApp, bahkan pesan yang terkandung di dalamnya, bisa dibacakan oleh VoiceOver.

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Ivan Aulia Ahsan
Sumber: tirto.id

Pencak Silat Memeluk Semua yang Mencintainya

August 30, 2018 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Wewey Wita
Atlet Pencak Silat
Dari: tirto.id

Segala hal tentang hidupku serupa paradoks.

Aku seorang perempuan. Aku berdarah Tionghoa dan papaku warga negara Singapura. Aku bertarung untuk Indonesia.

Ada sebuah streotipe di negara ini bahwa orang-orang Tionghoa pasti mapan dan berada. Tentu saja itu omong kosong. Percayalah, jika situasi ekonomi setiap keluarga ibarat garis start bagi anak-anak yang terlahir darinya, aku mulai jauh, jauh, dari belakang.

Pada mulanya keluarga kami berkecukupan. Namun, suatu ketika Papa, yang berbisnis kayu, ditipu rekannya sendiri. Hidup seketika jadi bak abu di atas tanggul. Segalanya goyah, lalu ambruk. Bank menyita rumah, mobil, dan harta lainnya. Hidup di kota semakin menekan. Kemiskinan mendesak kami ke tepi.

Papa memboyong seluruh keluarganya ke kampung halaman Mama di Ciamis. Tinggal di kota kecil tak serta merta membuat hidup kami membaik. Papa enggan menumpang di rumah nenek karena ia enggan jadi beban. Ia ingin mandiri walau sulit.

Kami tinggal di rumah kontrakan yang sempit. Papa dan Mama mencoba bangkit berkali-kali, mulai dari berjualan bakso hingga barang-barang kelontong. Kami berdiri, jatuh, berdiri lagi, jatuh lagi.

Utang membengkak. Kami bahkan tak sanggup menanggung biaya keperluan sehari-hari seperti beras, minyak, gula dan lain-lain. Suatu kali listrik rumah kami diputus karena pembayaran terlalu lama ditunggak. Bermalam-malam gelap gulita. Untuk mengecas ponsel Papa, satu-satunya alat komunikasi kami, aku terpaksa menumpang di rumah tetangga.

“Memang listrik punya nenek moyang lu?”

Bentakan itu akan selalu tergiang dalam kepalaku.

Papa bernama asli Yeo Meng Tong. Ketika ia masih berduit, orang-orang memanggilnya Mr. Tong dengan lagak manis. Begitu kami kere, orang enteng saja menyapanya Atong. Terkadang malah Otong. Itu membuatku jengkel. Kau tahulah, itu nama yang sering diberikan laki-laki buat alat kelaminnya sendiri.

Bagaimana pun, aku selalu merasa beruntung memiliki Papa yang tangguh dan penyabar. Dia tak pernah menyuruh istri atau anak-anaknya bekerja buat meringankan bebannya. Bahkan hal-hal sepele seperti menyapu, mengepel, atau mencuci piring, sering ia lakukan sendiri.

Aku pernah memergokinya berkata, dengan mesra, kepada Mama: “Biar Papa saja.” Papa adalah pemimpin keluarga kami, dan ia mengerti bahwa pemimpin sejatinya ialah pelayan.

Papa tak banyak bicara. Dia selalu memberi contoh dengan tindakan. Sifat konsekuen papa mulai kutiru sejak aku kecil. Sedari dulu aku sudah menyadari aku harus punya andil dalam keluarga ini.

Sejak kecil aku terbiasa bergaul dengan laki-laki. Aku jago bermain kartu dan gundu. Jika menang, gundu dan kartu mereka yang kumenangkan bisa kujual kembali. Uangnya kuserahkan ke Mama.

Itu bukan satu-satunya trik yang kupunya buat mencari uang. Bukan, bukan beternak tuyul. Dulu, ada snack berharga Rp500 yang kadang berisi hadiah uang Rp.5,000. Di warung langgananku, satu demi satu bungkus snack itu kukocok, kutimbang, kudengarkan bunyinya. Kalau cocok, aku ambil. Jika tidak, dengan polosnya aku akan berlalu meninggalkan penjaga warung yang cemberut karena barang dagangannya aku acak-acak. Konyol, jelas. Naif, mungkin. Tapi kisah itu benar belaka.

Saat aku lahir, Papa menamaiku Yeo Chuwey. Dalam bahasa Indonesia, artinya cukup keren: nomor satu yang paling bersinar. Sayang, kegaduhan politik di Indonesia waktu itu membuat Papa berpikir nama Tionghoa hanya akan membuat hidupku makin sulit. Maka, di akta kelahiranku tertera nama utama yang “lebih Indonesia”: Wewey Wita.

Sampai di sini, setelah mengetahui latar belakang keluargaku, kau mungkin mengira aku seorang atlet badminton, wushu, kungfu, basket, bridge, atau olahraga-olahraga yang telanjur lekat dengan etnis Tionghoa. Salah, aku adalah seorang pesilat.

Pencak silat cenderung lebih dekat dengan identitas keindonesiaan yang dibatasi pada satu entitas yakni etnis Melayu. Berkulit coklat, bukan kuning. Tentu pencak silat sendiri tak melahirkan sekat-sekat itu. Pembatasan, kukira, hanya ada dalam kepala kita. Pencak silat, seperti Indonesia, memeluk siapa saja yang mencintainya, termasuk aku.

Aku sendiri tak menyangka silat bisa jadi bagian dari hidupku. Memang semasa kecil aku biasa bermain dengan anak lelaki dan ikut beragam ekstrakurikuler olahraga, mulai dari voli dan basket hingga karate dan taekwondo. Mama selalu memaksaku menampakkan sisi feminin, sampai-sampai dia pernah memaksaku ikut lomba peragaan busana yang diadakan Radio Pitaloka, stasiun radio terkenal di Ciamis.

Aku terpilih sebagai juara 2.

Tetapi aku tak peduli. Buatku, berlenggak-lenggok itu tak nyaman. Kurasa bakatku memang olahraga. Semua guru olahraga mengenalku. Dalam berbagai kejuaraan olahraga antar sekolah, namaku selalu muncul dan mereka banggakan. Lalu, terjadilah sesuatu yang mengubah hidupku.

Dalam sebuah pesta perpisahan kakak kelas, seorang guru mendatangiku. Dengan enteng dia bilang: “Wewey, Bapak udah daftarin kamu, ya. Uang pendaftaran sudah masuk. Dua hari lagi pertandingan.”

Tentu aku terbelalak. “Tanding apa, Pak?” kataku.

“Silat.”

Aku bingung. Mau membantah takut durhaka. Tapi kalau harus mengembalikan uang pendaftaran, aku tak tahu harus mencari ke mana. Dengan terpaksa, aku menurut.

Hanya ada dua hari untuk belajar. Dan yang lebih ajaib, guru itu hanya mengajariku etiket masuk gelanggang, salam kepada wasit, dan hal-hal sepele lainnya. Sama sekali tak ada teknik pertarungan. Dan, oh, untuk kejuaraan pertamaku itu, meski masih kelas 4 SD, berat badanku melewati ambang batas yang ditentukan. Maka, aku diturunkan melawan anak-anak SMP.

Takut? Jelas. Musuhku adalah atlet-atlet pencak yang punya jam terbang, sedangkan aku cuma berlatih memberi salam selama dua hari. Aku menang dengan skor 3-2 dalam pertandingan pertamaku berkat teknik tendangan karate. Tendang, tendang, dan tendang. Aku gagal menjadi juara umum, namun saat juara terbaik diumumkan, namaku disebutkan di podium. Sejak saat itulah aku diminta guru-guru menggeluti pencak silat secara serius.

Popwilnas. Popda. Popnas. Satu demi satu kejuaraan berjenjang untuk pelajar itu kuikuti.

Seperti aku jelaskan di awal, hidupku penuh paradoks. Dan itu terjadi lagi di kejuaraan senior pertamaku, saat membela Kabupaten Ciamis di ajang Pekan Olahraga Daerah (Porda).

Dalam sebuah kompetisi, lazimnya kasus pencurian umur terjadi saat si atlet mengurangi umur jagar tak melebihi batasan. Aku malah sebaliknya. Waktu itu, atlet Porda harus berusia 17-35 tahun, sedangkan aku baru 14 tahun. “Kalau kamu siap, gampang, semuanya bisa diurus,” kata pelatih kepadaku.

Saat itu, aku tak begitu paham dan peduli apakah yang kulakukan benar. Yang kuinginkan hanya ikut kejuaraan dan berprestasi. Lagi pula, kita sama-sama tahu, sulap-menyulap bukan hal yang aneh di negara ini.

Aku memenangkan emas. Kabar soal pencurian umur yang kulakukan pun bocor dan jadi perbincangan. Namun, orang-orang sepertinya malah bangga sebab seorang atlet berusia dini mampu mengalahkan atlet-atlet yang lebih senior.

Emas Porda itu semestinya berarti bonus Rp10 juta untukku, tetapi yang kuterima hanya Rp7,5 juta—kukira aku tak perlu menjelaskan kepadamu bagaimana itu bisa terjadi. Aku tak mempermasalahkan hakku yang raib, lagi pula Rp7,5 juta bagi seorang anak SMP sepertiku saat itu sudah teramat besar.

Dari titik itulah karierku sebagai atlet pencak silat melejit. Aku bergabung dengan PPLP di Bandung.

Selain Papa dan Mama, aku beruntung memiliki kakek dan nenek yang amat berjasa ketika aku meniti karier di Bandung. Meski sulit, mereka selalu memaksaku menerima uang pemberian mereka, yang aku tahu didapat dengan susah payah.

Saat di Bandung, aku kadang tak bisa makan dengan lahap. Apakah keluarga di Ciamis sudah makan atau belum? Aku merasa telah meninggalkan keluargaku dalam situasi sulit.

Namun, pilihan pelik merantau ke Bandung harus kuambil. Hanya dari sanalah aku bisa berharap membantu Mama, Papa, dan lima adikku menyambung hidup dengan uang saku dan bonus kemenanganku di pelbagai kejuaraan.

Jika boleh jujur, aku sebenarnya sudah letih. 15 tahun aku bertarung, bertarung, bertarung. Aku sadar bahwa menjadi atlet bukan jaminan pasti untuk masa depan—ibarat bunga, segar dipakai layu dibuang. Namun, di sisi lain, kerja belum selesai, belum apa-apa. Aku akan berhenti hanya jika sudah memberikan prestasi terbaik bagi bangsaku, negaraku: Indonesia.

Motor Pribadi Versus Naik Ojek Online, Mana Lebih Irit?

July 24, 2018 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Hingga pertengahan 2015, transportasi di ibukota didominasi oleh angkutan kota (angkot), bus (Metromini, Kopaja, dan TransJakarta), dan kereta rel listrik (KRL). Layanan taksi, salah satu transportasi yang bersifat privat yang tersedia. Namun, kehadiran layanan ride sharing seperti Go-Jek dan Grab, menjadi warna baru layanan transportasi di kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya.

Suka tak suka, ride-sharing seperti Go-Jek dan Grab telah merevolusi transportasi. Farhad Manjoo, pengelola kanal “State of the Art” The New York Times sekaligus penulis buku “True Enough: Learning to Live in a Post-Fact Society,” mengatakan layanan ride-sharing “sangat berpotensi menurunkan tingkat kepemilikan kendaraan pribadi”.

Prediksinya bersumber dari hasil analisis Susan Shaheen, direktur Transportation Sustainability Research Center University of California, yang mengatakan bahwa ride-sharing sukses mengurangi kepemilikan kendaraan oleh masyarakat.

Shaheen mengatakan “selama 17 tahun penelitiannya di ranah transportasi, baru kali ini perangkat mobile sukses mengubah lanskap industri transportasi.” Penurunan kepemilikan kendaraan pribadi terjadi salah satu sebabnya karena layanan ride-sharing disebut menawarkan pilihan yang lebih murah.

Benarkah?

Mari kita hitung, sebut saja Iwan, 25 tahun, bekerja di kawasan Kemang, Jakarta Selatan dan tinggal di daerah Pondok Cina, Depok. Jarak Pondok Cina ke Kemang sekitar 14 km. Dengan rute tersebut, setidaknya ada dua alternatif transportasi publik yang digunakan. Pertama, menggunakan Commuter Line, dari Stasiun Pondok Cina hingga Stasiun Pasar Minggu, stasiun terdekat ke kawasan Kemang. Kemudian dilanjutkan menggunakan Go-Jek ataupun Grab.

Biaya yang harus dikeluarkan Iwan, antara lain Rp3.000 untuk Commuter Line dan Rp8.000 untuk tarif Go-Jek atau Grab. Total rute pulang-pergi membutuhkan biaya Rp22.000. Selama sepekan aktivitas kerja, uang Rp110.000 harus dikeluarkan Iwan, atau Rp440.000 per bulan .

Alternatif kedua ialah hanya memanfaatkan layanan ride-sharing. Dari Pondok Cina menuju Kemang Go-Jek mematok tarif Rp28.000 dan Rp30.000 jika memilih Grab. Artinya, perjalanan pulang-pergi selama sebulan bekerja membutuhkan biaya antara Rp1,12 juta-Rp1,20 juta.

Bagaimana bila menggunakan kendaraan pribadi terutama sepeda motor?

Mengutip laman dealer Honda Cengkareng, motor matik mampu menempuh jarak antara 50 hingga 60 kilometer hanya dengan seliter bensin. Artinya, jarak 14 kilometer dari tempat tinggal Iwan menuju kantor, cukup ditebus dengan biaya tak lebih dari Rp10.000, dengan memilih bensin berjenis Pertalite maupun Pertamax. Dengan estimasi jarak tempuh per liter tersebut, maka hanya butuh Rp30 ribu per minggu atau Rp120 ribu per bulan.

Jika hanya melihat biaya bensin, menggunakan motor jauh lebih irit dibandingkan menggunakan layanan ride-sharing. Namun, selain biaya bensin, biaya pembelian motor serta biaya perawatan berkala wajib diperhitungkan.

Di pasaran, khusus untuk tipe matic, motor dijual secara kontan dalam rentang harga Rp15,45 juta hingga Rp22,5 juta. Melalui skema cicilan, untuk tipe Honda Vario 125, dengan cicilan hingga 35 kali, misalnya. Perlu dana sebesar Rp900 ribu per bulan.

Rata-rata biaya perawatan motor, seperti mengganti oli, dalam sebulan ialah Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Artinya, menggunakan motor pribadi sama dengan mengeluarkan uang senilai Rp980 ribu hingga Rp1,020 juta tiap bulan.

Dari total pengeluaran cicilan dan perawatan, maka dengan menambah biaya bensin per bulan sekitar Rp120 ribu, artinya biaya punya kendaraan sepeda motor sendiri dengan layanan ride-sharing relatif sama. Namun, bila aspek biaya cicilan dikeluarkan dari perhitungan, maka menggunakan sepeda motor pribadi jauh lebih hemat dari naik transportasi umum atau ride-sharing.

Namun, ada juga yang tetap memilih layanan ride-sharing karena pertimbangan lain di luar persoalan biaya. Ubaidillah Pratama, 26 tahun, karyawan startup keuangan, lebih memilih menggunakan layanan ride-sharing daripada kendaraan pribadi.

Ia mengatakan ride-sharing “lebih irit” juga lebih nyaman dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi karena ada aspek menghemat tenaga agar tak lelah di jalan. “Lalu lintas Jakarta ampun. Enggak tahu kenapa merasa lebih capek aja berkendara sendiri di Jakarta,” katanya kepada Tirto.

Berbeda dengan Ubaidillah, Indra Nur Fajar, 26 tahun, wirausahawan sekaligus mahasiswa di Jakarta ini lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan layanan ride-sharing. Alasannya sederhana karena lebih fleksibel

“Misalnya awalnya saya ke kampus, ternyata di kampus tidak ada dosennya, nah kalau saya bawa motor sendiri saya bisa mampir makan dulu di restoran atau nonton,” katanya.

infografik perbandingan biaya ojek online dan kendaraan pribadi

Ride Sharing Vs Kendaraan Pribadi

“Di banyak kota, kini sangat mudah merencanakan kegiatan tanpa kendaraan,” kata David A. King, profesor Urban Planning pada Columbia University. Layanan ride-sharing seperti Uber, Grab, hingga Go-Jek saat ini bisa diandalkan seperti yang dikatakan oleh David.

F. Todd Davidson dan Michael E. Webber, peneliti dari University of Texas at Austin, dalam ulasannya di The Conversation, sempat melakukan riset membandingkan biaya berkendara menggunakan kendaraan pribadi versus layanan ride-sharing. Mereka menyimpulkan bila seseorang berkendara lebih dari 15 ribu mil atau sekitar 24 ribu km per tahun, maka memiliki kendaraan pribadi jadi pilihan terbaik karena paling irit.

Namun, bila seseorang bepergian kurang dari 10 ribu mil atau sekitar 16 ribu km per tahun, maka menggunakan layanan ride-sharing seperti Uber jadi pilihan bijak. Namun, bila merujuk data statistik, dua peneliti tersebut mengatakan rata-rata orang Amerika berkendara sekitar 13 ribu mil atau sekitar 20 ribu km per tahun.

Dalam konteks di Amerika Serikat (AS), memiliki kendaraan pribadi, khususnya mobil, bukan perkara murah. Peneliti dari University of Texas itu menyebut bahwa setidaknya tiap pemilik mobil harus mengeluarkan kocek $16.667 per tahun. Angka itu terdiri dari berbagai pengeluaran untuk asuransi, lisensi, pajak, dan depresiasi sebesar $5.742 per tahun,

Selain itu, biaya sebesar $1.186 harus disiapkan untuk perawatan, perbaikan, ganti oli, ban. Juga biaya $1.539 untuk bahan bakar minyak (BBM), belum lagi biaya parkir hingga $1.440 untuk setiap 20 hari per bulan, $6/hari, dan $6.760 biaya untuk kehilangan jam kerja di jalanan karena kemacetan.

Hampir senada dengan apa yang diungkap Davidson dan Webber, Kyle Hill pendiristartup bernama HomeHero, diwartakan Techcrunch, mengatakan jika seseorang berkendara kurang dari 9.481 mil atau sekitar 15 ribu kilometer per tahun, lebih irit menggunakan ride-sharing seperti Uber (khususnya UberX) dibandingkan menggunakan mobil pribadi.

Menurut perkiraannya, jika benar-benar bergantung pada Uber, seorang warga Los Angeles hanya mengeluarkan biaya sebesar $18.115 tiap tahun atau sedikit di atas saat seseorang memilih menggunakan kendaraan pribadi.

Layanan ride-sharing merevolusi bagaimana masyarakat bepergian. Jika biaya layanan-layanan tersebut bisa jauh lebih ditekan lagi, kemungkinan orang akan benar-benar berpikir ulang jika hendak memiliki kendaraan pribadi. Faktor tarif layanan ride-sharing akan sangat menentukan.

(tirto.id – Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra

Mengenal Soda Tradisional dari Jawa

July 24, 2018 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

inuman berkarbonasi, populer dikenal sebagai soda, adalah salah satu minuman paling populer sejagat. Di kategori minuman ini, ada Coca-Cola yang amat termasyhur. Indonesia sebenarnya punya produk soda lokal yang sempat berjaya. Masa keemasan ini memang tidak lama, hanya berlangsung sekitar tiga dekade. Salah satu merek minuman soda yang kala itu mengecap manisnya pasaran adalah limun Oriental Cap Nyonya asal Pekalongan, Jawa Tengah.

Nama minuman limun Oriental Cap Nyonya digunakan sejak 1950 oleh pendirinya Njoo Giok Lien. Sebelumnya, limun yang dirintis tahun 1920 itu bernama Fabriek Lemonade en Mineral Water Njoo Giok Lien. Oriental Cap Nyonya dikenal dengan sebutan banyu Londo (air Belanda). Pada masa itu, minuman ini menjadi primadona dan gaya hidup bagi priyayi Jawa.

Bisnis limun Oriental Cap Nyonya itu kini dijalankan oleh generasi kelimanya, Bernardi Sanyoto, sejak tahun 2017. Dengan menggunakan bendera PT Oriental Langgeng Sentosa, Bernardi bilang bahwa melanjutkan bisnis keluarga ini tak mudah. Ia harus memutar akal untuk terus mengembangkan layar bisnis yang didirikan sang kakek buyut.

Menurut penuturan Bernardi, surutnya bisnis limun terjadi ketika memasuki periode 2000. Indikasinya adalah angka produksi yang terus menurun. Sebelum masuk era 2000, mereka biasanya menjual 20.000 botol per bulan. Jumlah itu terus merangkak turun hingga jadi 2.000-an botol per bulan. Dulu, karyawan kerap lembur hingga pukul 8 malam untuk memenuhi permintaan pasar. Sekarang, hal itu tinggal kenangan.

Agar tetap bisa bertahan, Bernardi membuat konsep baru. Pada Februari 2018, ia menambahkan konsep wisata ke pabrik limunnya. Ide ini sebenarnya bukan hal yang muncul begitu saja. Pabrik limunnya memang banyak dikunjungi masyarakat yang penasaran cara pembuatan limun klasik ini.

“Pabrik kami sering menjadi tujuan kunjungan edukasi, dari anak sekolah hingga masyarakat umum. Dari sanalah saya memiliki tekad mengubah desain pabrik konvensional,” kata Bernardi saat dihubungi Tirto, Jakarta, Selasa (19/6/2018).

Untuk tujuan itu, Bernardi menggunakan dekorasi bercitarasa vintage. Dari bangku, radio, hiasan rumah, hingga alat produksi limun. Rumah kuno yang dulu hanya difungsikan untuk kantor dan produksi, kini jadi tempat yang asyik dikunjungi. Pengunjung bisa langsung melihat proses pembuatan limun. Mereka juga bisa mengecap segarnya minuman soda tradisional ini, langsung dari pabriknya, dengan harga Rp6 ribu per botol.

Infografik Selera Prijaji Djawa

Mampukah Bertahan Hidup?

Limun Oriental Cap Nyonya, bukan satu-satunya minuman soda lokal yang mengalami kesulitan. Ada beberapa minuman soda lokal lain dengan nasib serupa. Antara lain: limun cap Badak dari Sumatera Utara, limun cap Ay Hwa dari Yogyakarta, dan limun Darnilla 66 dari Aceh.

Dalam skripsi berjudul “PT Pabrik Es Siantar di Pematang Siantar 1959-1990” (2013), Kuasa Agustino Saragih menjelaskan bahwa bahan baku Limun Cap Badak yang berbeda-beda menyebabkan perusahaan sulit mendapatkannya. Apalagi bahan baku itu harus dipesan dari Jakarta maupun Eropa.

“Globalisasi, dana, serta banyaknya kendala yang dihadapi perusahaan tersebut menyebabkan pengurangan produksi. Pada awalnya ada delapan jenis minuman yang diproduksi, lalu berubah menjadi dua jenis minuman yaitu sarsaparilla dan soda water dan tentu saja es batangan,” tulis Saragih.

Pada masa kejayaan, produksi Cap Badak bisa mencapai 35 ribu krat per bulan. Sekarang, produksinya diperkirakan hanya separuhnya. Jenis rasa pun berkurang. Dari yang awalnya delapan, kini hanya tinggal dua: sarsaparila dan air soda.

Perjuangan untuk bertahan juga makin susah karena pemerintah sempat mengenakan cukai untuk minuman soda. Kebijakan ini berlangsung pada 2001-2002. Namun setelah mendapat protes keras dan pengkajian ulang, kebijakan ini akhirnya dicabut. Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) pernah melakukan riset tentang kebijakan cukai itu. Temuannya adalah: ada penurunan permintaan dan produksi.

Pada 2017, isu pengenaan cukai terhadap minuman soda dan bahan penyedap kembali mengemuka. Wacana ini kembali dikritik. Asosiasi Minuman Ringan (Asrim) mengatakan bahwa jika minuman soda dikenakan cukai, harga sudah pasti akan naik. Dan, ujar Sekretaris Jenderal Asrim Suroso Natakusumah, setiap harga naik 10 persen, permintaan akan turun 17 persen.

Produk soda lokal seperti Indo Saparella dan Ay-Hwa juga terus terdesak karena ekspansi minuman soda impor yang cepat dan merambah ke semua tempat: pasar tradisional, mini market, hingga supermarket. Selain itu, ada faktor-faktor lain semisal sulitnya mempertahankan keaslian kemasan berupa botol dengan pengait kawat. Belum lagi jika bicara pasokan essence yang sukar didapat.

Hal ini juga diungkapkan oleh Bernardi. Pihaknya mengaku susah mendapat botol kaca. Apalagi perusahaan botol kaca langganannya di Surabaya dalam proses pemeliharaan mesin sehingga belum bisa meningkatkan produksi. Kendala lain mulai dari biaya promosi, pembuatan botol plastik, pembelian mesin baru, dan renovasi bangunan berstandar SNI.

“Untuk pengembangan produk Oriental Cap Nyonya diperkirakan membutuhkan biaya Rp2 miliar,” kata Burnardi.

Penulis: Reja Hidayat
Editor: Nuran Wibisono

Sapeur, Biar Miskin Yang Penting Gaya

July 24, 2018 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Anggota komunitas La Sape di Kongo hidup di tempat kumuh. Sebagian dari mereka pengangguran tetapi busana mereka berharga ribuan dolar.

Seorang warga Brazzaville, Kongo, menyatakan keluhan dengan nada suara yang menyiratkan amarah. Ia merasa seperti budak di negara miskin. Dia kesal melihat orang-orang di sekitarnya harus susah payah untuk mendapatkan air bersih padahal mereka tinggal di dekat sungai Kongo. Keluhan pria ini tayang dalam The Congo Dandies, film dokumenter yang diproduksi oleh Russia Today (RT).

Keluhan yang sama sebetulnya dialami pula oleh para Sapeurs, sebutan bagi anggota komunitas La Sape, singkatan dari Société des ambianceurs et des personnes elegantesatau Society of Atmosphere-setters and Elegant People. Sebuah komunitas pecinta fesyen. LuzoloSapeurs yang bekerja sebagai penjual DVD mengaku tidak memiliki pasokan air di apartemennya. Tetapi ia punya baju Dolce & Gabbana. Seorang Sapeurs tidak peduli terhadap permasalahan ekonomi. Mereka hanya memedulikan satu hal: tampil gaya.

Para Sapeurs berjalan di kawasan kumuh Brazzaville mengenakan setelan jas warna warni, topi, sepatu kulit, kacamata hitam, dan payung. Mereka tampil layaknya pria kelas atas Eropa yang mengenakan busana dan aksesori dengan material dan potongan yang tepat. Setiap akhir pekan, para Sapeurs berkumpul di tepi jalan yang dipadati pedagang kaki lima. Di sana mereka saling memamerkan busana yang dikenakan. Warga yang bukan bagian dari La Sape menilai Sapeurs berpenampilan terbaik. Tidak ada hadiah bagi yang pakaiannya paling apik. Sapeurs cuma butuh pengakuan bahwa mereka keren.

Tampilan yang dianggap keren membuat nama mereka dielukkan di tempat umum. Ini terjadi pada Maxime Pivot, yang pernah menyandang predikat Sapeurs terbaik. Bila ia datang ke pasar, para pedagang menyorakkan namanya. Pivot bagai selebritas. Para pedagang menyalami dan berusaha memegangnya.

Hal serupa terjadi pula pada seorang lansia bernama Severin Muengo. Di jalan, ia kerap diikuti oleh anak-anak. Namanya kerap dipanggil-panggil. Pada RT ia berkata bangga bahwa hal itu membuat dirinya merasa sebagai orang terkaya dan membuatnya merasa seperti di surga.

Muengo bangga memamerkan karung-karung berisi dasi dan syal, serta puluhan setelan jas yang menggantung di empat sisi dinding ruang penyimpanan baju di rumahnya. Ia mengaku meminjam uang sekitar US$6.000 – US$8.000 untuk membeli baju bermerek.

Di Kongo, praktik ini telah berlangsung sejak akhir tahun 1980-an. Dalam naskah yang terbit pada tahun 1988, New York Times menulis bahwa harga busana Sapeurs rata-rata tiga kali lipat lebih besar dari penghasilan bulanan mereka. Untuk Sapeurs yang tidak mampu membeli busana, tersedia jasa penyewaan baju. Bagi yang punya uang, baju bisa dibeli di sebuah toko yang menjual barang bermerek asal Paris seperti Yves Saint Laurent dan Yohji Yamamoto. Toko dimiliki oleh seorang Sapeurs yang kerap datang ke Paris untuk memborong busana guna dijual kembali.

Mereka pantang mengenakan busana tiruan karena jenis busana itu dianggap sebagai penghinaan dan tidak dibenarkan. Sapeurs di Kongo punya prinsip sapologieAljazeera menulis bahwa sapologie ialah ajaran agar Sapeurs tidak melakukan kekerasan serta ketidakadilan, tetap bahagia dan tampil elegan meski tak cukup makan.

Sapologie terkesan kontras dengan hal yang terjadi pada Sapeurs yang bermigrasi ke kota Paris. Merekalah cikal bakal La Sape yang jadi inspirasi gaya busana para Sapeurs di Brazzaville.

infografik lasape

Asal-Usul La Sape

Dalam “La Sape: Tracing the History and Future of the Congos’ Well-Dressed Men”(2017), Hannah Rose Steinkopf-Frank menyebut bahwa pada tahun 1976 Jean Marc Zeita, remaja pria asal Kongo pindah ke kota Paris. Ia membentuk perkumpulan imigran muda asal Kongo bernama Aventuriers. Mereka meniru gaya penampilan orang Prancis. Gaya itu kemudian dibawa pulang ke kampung halaman, agar dianggap sukses. Mereka turut membawa berbagai busana dan majalah untuk referensi gaya.

Masalahnya: para Sapeur di Paris ini pun bukan orang kaya. Untuk bisa membeli pakaian mahal, mereka menceburkan diri ke perdagangan narkoba. Hannah, mengutip makalah “Dream and Drama: The Search for Elegance among Congolese Youth”, menulis bahwa para Sapeur di Paris ini memanfaatkan pakaian rapi sebagai citra kesuksesan.

Tidak semua Sapeur di Kongo tahu kisah ini. Tiap Sapeur bisa punya cerita berbeda tentang asal usul La Sape. Ada yang menganggap La Sape muncul pada zaman koloni Prancis ketika tuan tanah memberi upah pada buruh dalam bentuk pakaian. Hector Mediavilla, fotografer yang pernah mendokumentasikan Sapeur di Kongo berkata bahwa warga lokal meniru gaya penampilan orang Prancis saat mereka dijajah.

“Bergaya ialah salah satu cara mengekspresikan diri dalam situasi yang serba terbatas. Sapeurs bicara tentang bagaimana menumbuhkan rasa percaya diri di tengah situasi buruk,” katanya.

Dulu Satelit Palapa Pelopor ASEAN, Indonesia Kini Disalip Singapura

July 24, 2018 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

“Halo, Saudara Gubernur, selamat pagi!” Presiden Soeharto menyapa Gubernur DI Aceh saat itu, Muzakir Walad, melalui sambungan telepon.

“Ya, Muzakir di sini,” jawab Gubernur DI Aceh.

“Suaranya bisa jelas?” tanya Pak Harto kembali.

“Terang, Pak,” jawab Muzaki kembali.

Itulah potongan peristiwa percakapan saat acara peresmian pemakaian SKSD (Sistem Komunikasi Satelit Domestik) “Palapa”, 16 Agustus 1976, di ruang masuk utama Gedung DPR-MPR Senayan, seperti ditulis harian Kompas, 18 Agustus 1976.

Seremonial percakapan melalui telepon itu dilakukan untuk menunjukkan manfaat peluncuran infrastuktur satelit bernama Palapa pada 9 Juli di Cape Kennedy, Amerika Serikat. Peluncuran ini dilakukan dengan roket NASA “Delta 2941” yang terbagi atas tiga tingkatan dengan pendorong 9 roket tambahan.

Pada tahun itu, Indonesia menjadi negara pertama di kawasan ASEAN yang berhasil memiliki sistem satelit nasional sendiri. Oleh karena itu, negara tetangga di ASEAN turut memanfaatkan kehadiran “Palapa”. Saat itu, Satelit Palapa merupakan generasi A1. Setelahnya, beberapa generasi lain muncul, mulai dari B hingga D. Bahkan, pada 2021 nanti muncul generasi terbaru: Palapa-N1.

Satelit di ASEAN

Kini, bukan hanya Indonesia yang memiliki satelit domestik sendiri, tetapi juga Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Laos, dan Filipina.

Berdasarkan database dari Union of Concerned Scientists (UCS), per 31 Agustus 2017, Singapura adalah negara di ASEAN dengan jumlah satelit aktif terbanyak (10 satelit). Indonesia berada di bawah Singapura dengan 8 satelit aktif. Banyak satelit Indonesia yang tidak aktif atau mengalami perkembangan terbaru.

Infografik Periksa Data Satelit Palapa

Dari beragam tujuan penggunaan satelit, kasus yang terjadi di ASEAN cenderung didominasi dengan satelit komersial (53,1 persen). Satelit pemerintah hanya sekitar 28,1 persen. Di Indonesia, satelit dengan jenis penggunaan komersial dimiliki perusahaan seperti BRISat dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). BRISat dimaksudkan untuk membantu keterjangkauan pelayanan BRI di seluruh wilayah Indonesia.

Sementara itu, di Singapura, ada ST-2 (Singapore-Taiwan 2), yakni satelit komunikasi dari Singapore Telecommunications Ltd. (SingTel) dan Chunghwa Telecom Co. Ltd. Ini merupakan satelit komunikasi dengan daya jangkau cukup luas, tidak hanya mencakup Asia Tenggara, tapi juga Timur Tengah, Asia Tengah, India.

Infografik Periksa Data Satelit Palapa

Satelit sipil umumnya masuk dalam kategori satelit kecil (micro satelit) dengan fokus utama pada pengembangan IPTEK. Satelit generasi Velox dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura, misalnya. Selain sebagai sarana pengembangan teknologi satelit secara bertahap, satelit kecil umumnya fokus pada informasi iklim (climate satellite) atau satelit komunikasi dengan hal-hal baru (experimental communication satellite).

Selain NTU, ada kampus lain di Singapura yang mempunyai satelit: National University of Singapore (NUS). Ada Galassia dan Kent Ridge, satelit kecil yang digunakan untuk pengembangan informasi mengenai ilmu bumi. Untuk di Indonesia, pengembangan masih berpusat di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang memiliki satelit untuk pengembangan Iptek dan observasi bumi. Tiga satelit LAPAN yang aktif adalah LAPAN A2, LAPAN A3, dan LAPAN-Tubsat (LAPAN A1).

LAPAN A2, selain sebagai sarana untuk observasi bumi, juga bekerja untuk mitigasi bencana, penggunaan lahan, hingga pemantauan sumber daya alam dan lingkungan. LAPAN A3 selain memiliki misi dalam eksperimen untuk metode penginderaan jauh dan digunakan juga untuk komunikasi radio amatir. Terakhir, LAPAN-Tubsat (LAPAN A1) merupakan satelit mikro dengan kamera surveillance German DLR-Tubsat.

Infografik Periksa Data Satelit Palapa

Satelit LAPAN A2 dan LAPAN A3 termasuk satelit yang dikembangkan secara domestik: LAPAN sendiri menjadi kontraktor untuk membangun satelit itu. Umumnya, asal kontraktor satelit di ASEAN berasal dari negara maju seperti Amerika Serikat.

Perusahaan seperti Boeing Satellite Systems, Orbital Sciences Corp, Space System/Loral, dan Lockheed Martin Commercial Space Systems adalah contoh dari kontraktor satelit di wilayah ASEAN asal Amerika Serikat. Selain perusahaan Amerika Serikat, ada kontraktor seperti Thales Alenia Space dari Perancis/Italia, atau bahkan China Academy of Space Technology (CAST) dari Cina.

Amerika Serikat sendiri, berdasarkan database dari Union of Concerned Scientists (UCS) per 31 Agustus 2017, tercatat memiliki 803 dari total 1.738 satelit yang beroperasi di seluruh dunia. Cina mengoperasikan hampir seperempat jumlah milik Amerika Serikat, yakni 204 satelit, sedangkan Rusia tercatat punya 142 satelit aktif hingga saat ini.

Artinya, ketergantungan terhadap negara-negara tertentu untuk urusan satelit tidak dapat dibantah. Namun demikian, pengembangan satelit kecil dari NTU, NUS ( Singapura) ataupun LAPAN (Indonesia) sudah membuka potensi baru.

Tren Satelit Kecil

Laporan berjudul “Global Outlook 2018: Spatial Information Industry dari Australia and New Zealand Cooperative Research Centre for Spatial Information” memang menulis bahwa miniaturisasi satelit dan penyebaran satelit kecil, satelit nano, dan satelit kubus sebagai yang hal paling relevan dalam beberapa tahun terakhir (hal. 36). Hal yang sama ditegaskan juga dalam laporan “Satellite Value Chain: Snapshot 2017 dari Euroconsult”: satelit kecil semakin umum digunakan.

Hal itu masuk akal, mengingat infrastruktur satelit tidaklah murah. Pengeluaran pemerintah di wilayah ASEAN akan tampak kecil jika dibandingkan dengan negara-negara kunci di kawasan. Indonesia misalnya, menurut laporan Euroconsult 2017 dianggap mampu mengeluarkan $160 miliar (2016)—terbesar di ASEAN, tapi masih lebih kecil dari Australia ($235 miliar pada 2016). Apalagi dibandingkan dengan Cina ($4.909 miliar, 2016); Jepang ($3.018 miliar, 2016), India (1.092 miliar, 2016) dan Korea Selatan ($671 miliar, 2016).

Menurut proyeksi Global Space Launch Services Market, industri yang mencatatkan nilai sebesar $9,68 miliar pada 2017 ini akan mencapai $36,99 miliar pada tahun 2026. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi angka proyeksi itu, di antaranya: perkembangan permintaan pasar soal satelit kecil, kemajuan dalam teknologi Reusable Launch Vehicle (RLV), peningkatan misi eksplorasi ruang angkasa.

Terkait dengan tren satelit kecil ini, sudah waktunya kebanggaan akan Satelit Palapa sebagai pionir satelit domestik di ASEAN direfleksikan serta dikontekstualkan kembali. Indonesia semestinya tak sekadar membeli dan meluncurkan, tetapi juga lebih banyak mengembangkan teknologi satelit secara mandiri.

LAPAN sudah memulai dengan dua satelitnya plus satu satelit kerjasama. Selain itu, Indonesia perlu juga berkaca pada Singapura yang dua kampusnya mampu mendorong program satelit kecil. Siapkah kampus di Indonesia menyiapkan program pengembangan teknologi satelit?

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Frendy Kurniawan
(tirto.id – Teknologi)

Penulis: Frendy Kurniawan
Editor: Maulida Sri Handayani

Monopoli: Ditemukan Aktivis, Dipopulerkan Pengangguran

April 5, 2018 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Melempar dadu. Petak-petak menunggu wangi uangmu.
Untuk menunjukan pada anak-anak kondisi negara mereka di era kekuasan Uni Soviet, pada 2011 Institute of National Remembrance (IPN) Polandia merilis permainan Monopoli versi komunis. Mereka menyebutnya “Kolejka” atau “antre”. Pembuatnya adalah Karol Madaj, seorang perancang permainan papan kelahiran 9 Februari 1980.

Permainan Monopoli versi komunis tentu saja tak berlomba mengumpulkan uang, tanah, dan properti lainnya, serta membikin bangkrut lawan agar bisa memenangkan pertandingan. Para pemain justru diberi daftar 10 barang penting, dari makanan sampai perabotan—seperti roti dan kertas toilet—yang harus mereka dapatkan secara mengantre. Mereka antre di toko-toko milik pemerintah, yang paling pertama bisa mendapatkan 10 barang adalah pemenangnya.

Bila dalam permainan Monopoli asli para pemain mendapatkan uang, maka dalam Monopoli versi komunis ini para pemain akan mendapatkan kartu yang berfungsi untuk memotong antrean sehingga lebih cepat mendapatkan barang.

“Permainan ini tidak hanya membuat para pemain memahami cara berbelanja di era komunis, namun juga mengajari apa dan bagaimana mengantre itu, sesuatu yang saat ini mulai dilupakan orang-orang,” ujar Madaj seperti dilansir The Sun(21/1/2011).

Permainan Monopoli rancangan Madaj cukup populer dan sempat dijadikan bahan pengajaran di kelas sejarah di Polandia. Permainan ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Prancis. Pada 2016, pemerintah Rusia melarang Monopoli ini karena dianggap kontroversial.

Pihak IPN melaporkan bahwa sebelum dilarang beredar di Rusia, pengawas konsumen Rusia telah memperingatkan: permainan ini dianggap anti-Rusia dan terlalu kritis terhadap sistem Soviet. Trefl, perusahan yang membeli lisensi permainan ini dari IPN, diminta pihak berwenang Rusia untuk menghapus referensi sejarah atau mengambil risiko produk tersebut dilarang.

“IPN tidak menyetujui pelaksanaan perubahan ini dan karena itulah ‘Kolejka’ tidak lagi berada di toko-toko Rusia,” ujar Andrzej Zawistowski, direktur pendidikan di IPN seperti dikutip Newsweek (21/3/2016).

Zawistowski menambahkan bahwa permintaan Rusia untuk menghilangkan unsur sejarah dari permainan tersebut ia anggap tidak masuk akal dan salah memahami keseluruhan masalah.

“Klaim Rusia terhadap sejarah Soviet, membuat beberapa orang Rusia berpikir bahwa kritik terhadap Uni Soviet sebagai negara totaliter juga merupakan penghinaan terhadap Rusia modern,” tambahnya.

Sebelum permainan Monopoli berkembang dan menyebar ke berbagai negara, serta dalam beberapa kasus mengalami modifikasi, bagaimana riwayatnya bermula?

Pengangguran Mujur yang Mencuri Ide

Warsa 1935, Parker Brothers—perusahan mainan di Amerika Serikat—mulai memproduksi permainan Monopoli secara massal dan dengan cepat meraup untung yang tak sedikit, serta membuat “penciptanya”, Charles Darrow, menjadi kaya raya.

Tiga tahun sebelumnya, di pengujung 1932, seperti dipublikasikan Guardian, Charles Darrow mula-mula mengenal permainan papan ini dari pengusaha Philadelphia, Charles Todd dan Olive, istrinya. Mereka menjalankan permainan melempar dadu, membeli properti, dan lain-lain.

Beberapa bulan kemudian, pada 7 Maret 1933, tepat hari ini 85 tahun lalu, Charles Darrow berhasil menciptakan permainan Monopoli. Permainan ini tidak memiliki nama resmi, tidak dijual dalam kemasan, dan hanya disebarkan lewat jaringan pertemanan. Namun semua orang menyebutnya “Monopoli”.

Suatu hari, Darrow, yang menganggur dan membutuhkan uang untuk membantu keluarganya, meminta salinan tertulis permainan tersebut pada Charles Todd. Namun Todd tidak bisa memenuhinya, karena ia tak pernah menuliskannya. Darrow tak patah arang, ia mencoba memodifikasi permainan tersebut.

Hari-hari Darrow di masa menganggur digambarkan Mary Bellis yang ia kutip dari The Monopoly Book: Strategy and Tactics of the World’s Most Popular Game (1974) karya Maxine Brady:

“Pengangguran yang tinggal di Germantown, Pennsylvania. Dia sedang berjuang dengan pekerjaan serampangan untuk mendukung keluarganya di tahun-tahun setelah jatuhnya pasar saham pada 1929. Darrow teringat akan musim panasnya di Atlantic City, New Jersey yang menghabiskan waktu luangnya dengan luntang-lantung di jalan-jalan.”

Darrow kemudian menjual hasil modifikasinya kepada Parker Brothers dan ia segera dipayungi dewi fortuna. “Temuannya” disukai banyak orang. Monopoli dimainkan anak-anak dan orang-orang dewasa.

Kesuksesan Darrow yang berhasil meraup keuntungan dari penjualan dan royalti memancing seorang wartawan untuk bertanya ihwal bagaimana ia berhasil menemukan Monopoli.

“Ini aneh,” ungkap Darrow kepada Germantown Bulletin seperti dikutip Guardian.

“Sepenuhnya tak terduga dan tidak masuk akal,” ia menambahkan.

Bermula dari Aktivis Kiri

Dalam berbagai buku dan pemberitaan, Darrow kemudian menjadi mitos sebagai si penemu Monopoli. Tapi kemudian terungkap bahwa Monopoli adalah modifikasi dari sebuah permainan yang diciptakan Elisabeth Magie atau Lizzie pada 1903 di Washington DC.

Lizzie, yang lahir pada 1866, adalah seorang perempuan progresif yang banyak menentang norma-norma dan kebijakan politik pada masanya. Ia sempat mengiklankan diri di koran sebagai seorang “budak perempuan muda Amerika” untuk dijual kepada penawar tertinggi. Sikapnya ini dimaksudkan untuk menggugat pandangan masyarakat terhadap perempuan yang kerap dipandang berada di bawah laki-laki.

“Kami bukan mesin. Anak perempuan memiliki pikiran, keinginan, dan ambisi,” ujarnya seperti dilansir BBC.

Lizzie terinspirasi buku klasik Henry George berjudul Progress and Poverty (1879) yang diberikan ayahnya, James Magie, seorang politisi anti-monopoli. Ada sebuah ungkapan di buku tersebut yang menghunjamnya: “Semua orang memiliki hak yang sama untuk menggunakan lahan sebagaimana hak mereka untuk menghirup udara. Ini merupakan hak yang mengiringi fakta keberadaan diri mereka.”

Setelah mempelajari buku tersebut, ia kemudian memutuskan untuk menentang kepemilikan properti dalam sistem kapitalisme. Agar pikiran-pikiran progresifnya yang dipengaruhi Henry George dapat dipahami oleh masyarakat luas, Lizzie kemudian mencoba menuangkannya dalam bentuk permainan.

“Malam demi malam, setelah pekerjaan di kantornya selesai, Lizzie duduk di rumahnya, menggambar dan menggambar ulang, berpikir dan kembali berpikir. Itu awal 1900-an, dan ia menginginkan permainan papan yang mencerminkan pandangan politik progresifnya,” tulis Mary Pilon dalam The Monopolists: Obsession, Fury, and the Scandal Behind the World’s Favorite Board Game (2015).

Mary Pilon menambahkan bahwa di tempat tinggalnya di daerah Prince George, Washington DC, Lizzie berada di lingkungan yang ditinggali pesuruh, pedagang, pelaut, tukang kayu, dan pemusik. Ia berbagi rumahnya dengan aktor pria yang membayar sewa, serta seorang pelayan wanita kulit hitam.

Keyakinan politiknya ia sampaikan kepada masyarakat lewat kelas yang ia isi malam hari selepas kerja di kantor. Kekurangan waktu dan tenaga membuatnya bersiasat untuk membuat media baru yang kreatif dan interaktif. Dari sinilah kemudian—setelah proses yang panjang—Lizzie melahirkan Landlord’s Game, sebuah permainan yang mendidik masyarakat untuk mengetahui praktik para tuan tanah dalam menguasai lahan.

infografik mozaik monopoly

“Ini adalah demonstrasi praktis dari sistem perampasan tanah saat ini dengan semua hasil dan konsekuensinya yang biasa. Mungkin ini disebut ‘Game of Life’, karena mengandung semua elemen kesuksesan dan kegagalan di dunia nyata, dan objeknya sama seperti yang diperlihatkan pada ras manusia pada umumnya: akumulasi kekayaan,” ujar Lizzie.

Pada 23 Maret 1903, Lizzie mematenkan Landlord’s Game. Dua tahun kemudian ia menerbitkan sebuah versi permainan melalui Economic Game Company, sebuah perusahaan di New York. Perusahaan inilah yang membantu memopulerkan permainan ciptaan Lizzie. Landlord’s Game populer di kalangan intelektual kiri dan kampus.

Tiga dekade berikutnya, permainan papan ini sampai ke sebuah komunitas Quaker di Atlantic City. Mereka menyesuaikan permainan itu dengan nama-nama di lingkungannya. Dari sinilah kemudian permainan ini sampai ke Charles Darrow—pengangguran yang memodifikasi Landlord’s Game dan melejitkan Monopoli.

Di seluruh dunia, Monopoli telah terjual ratusan juta kopi dan Darrow menerima royalti sepanjang hidupnya. Sementara Lizzie hanya menerima $500 dan tanpa royalti ketika Parker Brothers membeli hak paten Landlord’s Game pada pertengahan 1930-an.

Mulanya Lizzie tidak menaruh curiga ketika permainannya dibeli Parker Brothers. Namun ketika ia sadar bahwa perusahaan mainan itu memproduksi permainan lain yang mirip dengan Landlord’s Game dan laris manis di pasaran, ia murka dan hendak membalas dendam terhadap perusahaan yang menurutnya telah mencuri idenya.

Pada 1948, saat Lizzie meninggal, Monopoli tetap diidentikan dengan Darrow. Di obituari dan nisan janda tanpa anak itu, tak ada yang menyebut tentang temuannya.

Sejawat Lizzie di tempat kerja terakhirnya sebelum ia wafat hanya mengenalnya sebagai seorang juru ketik tua yang sering berbicara tentang penemuan permainan papan.

Sumber: TIRTO.ID
(tirto.id – Humaniora)
Reporter: Irfan Teguh
Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan

Steve Jobs, Apple, dan Revolusi Pengoperasian Komputer

April 5, 2018 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Sepotong apel. Cita rasa komputer mewah nan simpel.
Pada dekade 1950-an, antara San Fransisco hingga San Jose di Amerika Serikat banyak dibangun rumah-rumah bagi kaum urban yang bermigrasi selepas Perang Dunia II usai. Rumah-rumah tersebut dirancang dengan gaya sederhana tetapi merepresentasikan masyarakat modern. Secara umum, rumah dengan gaya demikian terinspirasi dari kerja arsitektur ternama AS bernama Frank Lloyd Wright. Josep Eichler merupakan salah satu developer perumahan yang mewujudkan visi Wright jadi nyata.

Sebuah hunian yang berlokasi di 2066 Crist Drive, Los Altos, merupakan salah satu bagian dari rumah-rumah itu. Bangunan tersebut merupakan rumah yang dihuni Steve Jobs di masa kecil.

“Eichler melakukan hal yang luar biasa,” kata Jobs pada Smithsonian Magazine. “Rumah yang dibangunnya cerdas dan murah dan baik. Mereka membawa desain bersih dan bercitarasa sederhana bagi kaum berpenghasilan rendah […] Saya suka ketika Anda dapat menghadirkan desain yang sangat bagus dan sederhana tetapi tidak terlalu mahal.”

Rumah masa kecil Jobs di San Fransisco tidak sekadar menyimpan memori masa-masa bermainnya. Kesederhanaan, desain yang bersih, dan citarasa modern dari rumah yang ditinggalinya turut membentuk selera pribadi Jobs. Bahkan, melalui Apple, Jobs seakan-akan mentransformasikan citarasa arsitektural Frank Lloyd Wright ke dalam benda-benda teknologi.

Pendirian Apple

Apple didirikan oleh Steve Jobs dan Steve Wozniak pada 1 April 1976, tepat hari ini 42 tahun silam, di California, AS. Banyak yang percaya, perusahaan yang kini memiliki kapitalisasi pasar sebesar $851,32 miliar ini didirikan di garasi rumah Jobs. Wozniak membantah kepercayaan itu. Menurutnya, Apple tidak dibentuk di sebuah garasi.

“Garasi adalah sedikit mitos yang dimiliki Apple. Ini berlebihan. Garasi mewakili kita lebih baik daripada yang lain, tapi kami tidak mendesain Apple di sana. Kami hanya akan membawa produk jadi ke garasi, mencoba menjalankannya, dan kemudian akan kami antarkan mereka ke toko yang memberi kami uang tunai,” ucap Wozniak pada CNET.

Meski Job terlihat bagai “sosok pertama” Apple, awal mula penciptaan perusahaan itu justru datang dari Wozniak, sang “sosok kedua”. Kelahiran Apple merupakan buah dari keinginan Wozniak menciptakan komputer buatannya sendiri, yang semakin menjadi-jadi manakala mikroprosesor Altair 8800 meluncur di pasaran pada 1975.

Didorong oleh rekan-rekannya di sebuah klub komputer bernama Homebrew, seperti dicatat Encyclopedia Britannica, Wozniak lalu merancang mikroprosesor buatannya sendiri. Sayangnya, Hewlett-Packard (HP), perusahaan yang menaungi Wozniak magang, enggan merealisasikan rancangan mikroprosesor tersebut kala pemuda itu menawarkannya.

Steve Jobs, teman Wozniak semasa SMA, lalu jadi penyelamat mewujudkan rancangannya itu. Sebagai modal awal, Jobs menjual minibus VW miliknya. Sementara Wozniak, yang memang memiliki kemampuan teknikal lebih tinggi dari Jobs, menjual program kalkulator miliknya sebagai modal.

Tepat tiga bulan selepas Apple didirikan, produk pertama bernama Apple I diluncurkan ke pasaran. Apple I merupakan komputer berotak MOS 6502 dan memiliki RAM sebesar 4k. Komputer itu dirancang Wozniak untuk dapat bekerja pada bahasa BASIC.

Dalam standar awam, Apple I bukanlah komputer utuh. Ia lebih merupakan motherboard yang perlu dipasangi berbagai perangkat pendukung untuk dapat digunakan. Namun, sebuah toko komputer bernama Byte Shop tertarik untuk membeli 50 unit Apple I yang masing-masing dihargai $500.

Setahun kemudian, Apple merilis produk keduanya, yang merupakan pembaruan Apple I, bernama Apple II. Jika Apple I lebih layak disebut motherboard, Apple II lahir dalam wujud komputer sungguhan.

Dalam dua perilisan produk tersebut, Wozniak lebih berperan. Sayangnya, baik Apple I maupun Apple II bukanlah perangkat yang sederhana. Apple I misalnya. Hanya orang yang gila komputer yang akan membeli produk “sebatas motherbord” itu. Ini tak sesuai dengan angan-angan Steve Jobs, yang ingin menciptakan produk sederhana, mudah digunakan, tapi tetap modern.

Lisa dan Konsep User Interface

“Itu adalah visi asli Apple. Itulah yang kami coba lakukan dengan Mac pertama. Itu yang kami lakukan dengan iPod,” kata Jobs dengan tegas.

Visi asli Apple yang diutarakan Steve Jobs ialah merealisasikan nilai-nilai kesederhanaan, desain yang bersih, dan citarasa modern—sebagaimana yang ditampilkan rumah masa kecilnya—pada produk-produk Apple.

Jika Apple I dan Apple II lebih menonjolkan sisi teknis dan bahkan seakan-akan ditujukan bagi mereka yang benar-benar memahami komputer, Lisa alias Locally Integrated Software Architecture merupakan komputer yang hendak mewujudkan visi jobs tersebut.

David T. Craig dalam papernya berjudul “The Legacy of the Apple Lisa Personal Computer: An Outsider’s View” mengatakan bahwa proyek penciptaan Lisa mulai dilakukan pada 1979. Lisa merupakan proyek komputer yang dibuat agar mudah digunakan, bahkan oleh orang awam.

Dalam penciptaan Lisa, Craig mengatakan bahwa Apple membutuhkan 200 pekerja dengan dana pengembangan sebesar $50 juta. Di awal, Lisa dikembangkan dengan pendekatan komputer pada umumnya, yakni komputer berbasis teks. Sayangnya, ini akan membuat orang-orang awam kesulitan menggunakan Lisa—sesuatu yang tidak diinginkan Apple.

Infografik Mozaik Apple

Guna mengubah rancang awal tersebut, mengutip pemberitaan Vox, Steve Jobs memperoleh akses melihat demonstrasi teknologi yang dikembangkan Xerox di salah satu fasilitas penelitian mereka di Palo Alto, AS. Teknologi yang ditunjukkan Xerox itu ialah konsep graphical user interface (GUI), yang memungkinkan pengoperasian komputer hanya dengan klik dan klik sederhana (Microsoft mempopulerkan konsep ini dengan nama N2F—next, next, and finish), bukan menggunakan teks-teks pengkodean yang dibenci awam. Konsep windows, menu, ikon, dan konsep-konsep GUI lainnya, muncul dalam demonstrasi itu.

Karena Xerox tidak memiliki keseriusan merealisasikan hasil penelitiannya menjadi barang konsumen, Apple mengambil ide itu. Beberapa mantan teknisi Xerox yang terlibat di penelitian tersebut direkrut Apple.

Lisa lalu dikembangkan. Pada 1 Januari 1983, Lisa muncul ke pasaran. Dari sisi perangkat keras, Lisa disusun atas komputer yang bekerja dengan prosesor 68000, memori berukuran 1 megabyte, dan monitor hitam putih 12 inci. Sebagai tambahan, Lisa memiliki dua port floppy disk, keyboard, serta temuan baru bernama “mouse”—komponen yang menjadi kunci penerapan GUI pada komputer.

Dari sisi perangkat lunak, terutama soal GUI, Lisa lahir dengan menu bar di bagian atas, yang terdiri atas “file”, “edit”, “view”, dan “special”. Jika diklik menggunakan mouse, masing-masing menu akan mengeluarkan submenu yang kemudian berubah menjadi perintah-perintah tertentu yang akan dijalankan komputer. Selain itu, Lisa juga menghadirkan kemampuan untuk menggerak-gerakkan file hanya dengan menggunakan mouse.

GUI milik Lisa membuat komputer menjadi bersahabat dengan orang awam. Dengan inilah Apple merevolusi dunia komputer.

Kekuatan Lisa dari sisi perangkat lunak tercipta atas 90.000 garis kode Pascal. Saat meluncur ke pasaran, Lisa hadir dengan aplikasi yang langsung dapat digunakan untuk kebutuhan perkantoran seperti LisaWrite, LisaDraw, LisaCalc, LisaGraph, LisaProject, LisaList, dan LisaTerminal.

Di awal kemunculannya, Lisa dijual seharga $9.995, nilai yang setara dengan $24.986,60 saat ini. Membeli komputer Lisa artinya membeli komputer secara keseluruhan. Pengguna tidak perlu disibukkan dengan pengaturan njelimet yang hadir pada komputer-komputer sebelum Lisa. Saat Lisa dibeli dan pertama kali dihidupkan, misalnya, pengguna langsung dapat menulis menggunakan LisaWrite.

Meski merevolusi cara manusia mengoperasikan komputer, secara bisnis Lisa kurang sukses. Salah satu alasannya ialah harga yang mahal. Selama dua tahun ada di pasaran, Lisa hanya terjual sebanyak 200.000 unit. Atas kegagalan bisnis ini, Apple lalu mematikan Lisa.

Pada 24 Januari 1984, Apple merilis Macintosh (pertama kali disebut Macintosh XL atau X-Lisa). Produk ini kemudian menjadi seri komputer ikonik dari Apple.

Dalam urusan bisnis, Lisa boleh saja gagal. Tapi ia sebetulnya sukses mengubah bagaimana manusia berinteraksi dengan komputer. Kesederhanaan pengoperasian Lisa juga merupakan kesuksesan Jobs dalam merealisasikan nilai-nilai yang dipelopori Frank Lloyd Wright dalam dunia arsitektur.

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Ivan Aulia Ahsan

Next Page »