Johannes Leimena, Orang Paling Jujur di Mata Sukarno

April 5, 2018 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Hati berlian. Kemilau kejujuran sosok panutan.
Artikel dari: tirto.id –
Pengandaian itu tidak berlebihan. Faktanya, Sukarno memang mengagumi sosok Johannes Leimena, seorang dokter kelahiran Ambon yang terlibat aktif dalam Sumpah Pemuda 1928. Kekaguman Sukarno itu pun diterangkan secara gamblang dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2007) yang ditulis Cindy Adam.“Ambilah misalnya Leimena…saat bertemu dengannya aku merasakan rangsangan indra keenam, dan bila gelombang intuisi dari hati nurani yang begitu keras seperti itu menguasai diriku, aku tidak pernah salah. Aku merasakan dia adalah seorang yang paling jujur yang pernah kutemui,” aku Sukarno.

Apa yang dikatakan Sukarno bukanlah omongan seorang politisi. Kepercayaan Sukarno terwujud pada sejumlah tugas penting yang diberikan pada Leimena. Semasa Sukarno menjadi presiden, Leimena hampir tidak pernah absen dalam kabinetnya.

Om Jo, begitu sapaan akrab Johannes Leimena, memulai kariernya di dunia politik sejak masih menjadi mahasiswa Kedokteran di Sekolah Tinggi Kedokteran Geneeskunde Hogeschool (GHS) di Jakarta. Selama menjadi mahasiswa, dia aktif dalam sejumlah organisasi seperti Jong Ambon dan Christelijke Studentenvereniging (CSV).

Melalui organisasi itu dia pun mulai berkenalan dengan sejumlah tokoh besar, termasuk Sukarno. Menurut buku Johannes Leimena: Negarawan Sejati dan Politisi Berhati Nurani (2007), dalam Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, Om Jo pun terlibat aktif dan menjadi perwakilan dari Jong Ambon. Dia juga salah satu panitia kongres tersebut. Artinya karena dia juga Sumpah Pemuda 1928 tercetus.

Usai menyelesaikan kuliahnya, Om Jo memutuskan untuk mengabdi sebagai dokter sesuai dengan bidang keilmuannya. Dia pertama kali diangkat menjadi dokter pemerintah Hindia Belanda di rumah sakit CBZ Batavia yang kini menjadi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Om Jo tidak lama bekerja di sana. Saat Gunung Merapi meletus pada tahun 1930, dia pun ditugaskan ke Yogyakarta untuk membantu korban. Usai tugas di sana selesai, Om Jo pindah ke rumah sakit Zending Immanuel di Bandung. Dia pun bekerja di situ sampai mendekati kemerdekaan Indonesia.


Diplomasi Bermodal Baju Pinjaman

Setelah kemerdekaan Indonesia, Om Jo masih menjadi dokter. Sampai suatu hari, Sukarno datang menemuinya dan meminta Om Jo menjadi Menteri Kesehatan. Om Jo menyanggupi permintaan Sukarno. Om Jo menjadi Menteri Kesehatan dalam Kabinet Sjahrir II, ketika revolusi melawan militer Belanda berkecamuk. Di masa sulit itu, jangankan rakyat kecil, seorang dokter yang terpelajar dan harusnya punya uang seperti Om Jo pun ternyata hanya punya sedikit pakaian.

Konsekuensi menjadi seorang menteri, Om Jo pun dalam beberapa kesempatan harus mewakili Indonesia bertemu dengan perwakilan negara lain. Sialnya, selama ini, Om Jo tidak pernah memiliki pakaian yang pantas untuk bertemu dengan para utusan negara lain tersebut.

Suatu ketika dia harus ikut dengan Sukarno bertemu dengan diplomat Inggris dan Belanda. Karena tak punya pakaian, Leimena pun kemudian meminjam jas dan dasi temannya untuk tampil formal dalam pertemuan tersebut.

Bermodal pakaian pinjaman, Om Jo pun tampil meyakinkan. Para diplomat Belanda dan Inggris pun memanggilnya dengan “Yang Mulia”. Peristiwa itu membuat Sukarno terpingkal-pingkal jika mengingatnya.

“Orang-orang desa dengan baju pinjaman tiba-tiba terjun ke politik, duduk di meja perundingan berhadapan dengan wakil-wakil terhormat, seperti Ratu Juliana yang berpakaian mentereng. Kesulitan terbesar dari para menteriku adalah menahan ketawa bila memikirkan keganjilan ini semua,” kata Sukarno dalam Penyambung Lidah Rakyat.

 

Infografik mozaik johannes leimena


Puskesmas Juga Warisan Om Jo

Om Jo bukan sekadar seorang dokter. Dia juga seorang pemikir yang moncer. Menurut buku Johannes Leimena: Negarawan Sejati dan Politisi Berhati Nurani, semasa menjadi menteri, Om Jo bersama beberapa tokoh lainnya menggagas Bandung Plan pada 1951. Dalam Bandung Plan dicetuskan ide untuk mengintegrasikan institusi kesehatan di bawah satu pimpinan supaya lebih efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan.

Gagasan itu pun ditindaklanjuti dengan membuat Tema Work dalam pelayanan kesehatan pada 1956 dan kemudian terus dikembangkan. Dalam perjalanannya, integrasi institusi kesehatan yang hingga ke level kecamatan itu dikenal dengan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Pemikiran Om Jo tentang kesehatan tertuang juga dalam Kesehatan Rakjat di Indonesia: Pandangan dan Planning (1955).

Selain merintis cikal bakal Puskesmas, sebagai politisi sejak muda, Om Jo juga aktif di bidang politik. Pada 1945, dia turut serta mendirikan Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Lima tahun kemudian, ia dipercaya menjadi ketua umum. Di masa Orde Baru, Parkindo difusi ke dalam Partai Demokrasi Indonesia.

Selain partai politik, dalam membina kaum muda, Om Jo juga mendirikan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) sebagai organisasi pengkaderan pada tahun 1950. Kehadiran GMKI pun memberikan warna baru didunia pergerakan di Indonesia.

Organisasi bentukan Om Jo ini pun melahirkan kader-kader yang kini menduduki sejumlah posisi penting di Indonesia. Dua di antaranya adalah Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Kader-kader Om Jo memang banyak. Namun, mendapatkan kembali sosok seperti Om Jo, yang meninggal pada 29 Maret 1977, tepat hari ini 41 tahun lalu, sepertinya cukup sulit si masa sekarang.

(tirto.id – Humaniora)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Petrik Matanasi

8 Cara Orang Cerdas Menggunakan Kegagalan sebagai Keuntungan Bagi Mereka

January 25, 2018 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Salah satu rintangan terbesar menuju kesuksesan adalah rasa takut akan kegagalan. Ketakutan akan kegagalan lebih buruk daripada kegagalan itu sendiri. Karena pemikiran seperti itu dapat menyebabkan potensi anda yang belum direalisasikan hilang begitu saja.

Respons sukses terhadap kegagalan tergantung pada cara pendekatan anda. Dalam sebuah penelitian yang baru-baru ini diterbitkan dalam Journal of Experimental Social Psychology, para peneliti menemukan bahwa kesuksesan dalam menghadapi kegagalan berasal dari tingkat fokus kita terhadap hasil. (Apa yang ingin anda capai). Daripada mencoba untuk tidak gagal. Meskipun tergoda untuk mencoba dan menghindari kegagalan, orang-orang yang melakukan ini jauh lebih sering mengalami kegagalan daripada orang-orang yang dengan optimis memusatkan perhatian pada tujuan mereka.

Ini terdengar mudah dan intuitif, tetapi sangat sulit dilakukan bila konsekuensi kegagalannya besar. Para peneliti juga menemukan bahwa umpan balik positif meningkatkan peluang keberhasilan. Karena hal itu memicu optimisme yang sama dengan yang anda alami saat anda memusatkan perhatian sepenuhnya pada goals anda.

Orang-orang yang mengukir sejarah adalah para inovator sejati. Ambil langkah lebih jauh dan lihatlah kegagalan sebagai batu loncatan menuju kesuksesan. Thomas Alva Edison adalah contoh yang bagus. Diperlukan 1.000 percobaan untuk menemukan bola lampu yang benar-benar bekerja dengan sempurna. Ketika seseorang bertanya kepadanya bagaimana rasanya gagal 1.000 kali, beliau berkata, “Saya tidak gagal 1.000 kali. Bola lampu itu adalah penemuan dengan 1.000 langkah”.

Sikap itulah yang membedakan orang sukses dengan orang gagal. Thomas Alva Edison bukanlah satu-satunya. Naskah Harry Potterbuatan JK Rowling baru diterima setelah 12 penerbit menolaknya. Dan bahkan, saat itu dia hanya perlu membayar uang muka. Oprah Winfrey kehilangan pekerjaannya sebagai pembawa berita Baltimore karena terlalu emosional dalam bercerita, sebuah kualitas yang menjadi ciri khasnya. Henry Ford kehilangan pendukung keuangannya dua kali sebelum berhasil memproduksi prototipe mobil yang bisa dipasarkan.

 

Dan daftar tokoh bersejarah setelah mereka pun terus bertambah.

Jadi, apa yang memisahkan keduanya? Antara orang-orang yang membiarkan kegagalan menggagalkan mereka dari orang-orang yang menggunakan kegagalan sebagai keuntungan bagi mereka? Beberapa tips di bawah ini bermuara pada apa yang anda lakukan. Dan sisanya bermuara pada apa yang anda pikirkan.

Tindakan yang anda lakukan dalam menghadapi kegagalan sangat penting bagi kemampuan anda untuk pulih dari kegagalan tersebut. Dan tindakan itu memiliki implikasi besar dengan bagaimana cara orang lain memandang anda dan kesalahan anda. Ada 8 tindakan yang harus anda ambil saat anda gagal. 8 poin ini akan memungkinkan anda berhasil di masa depan dan orang lain akan melihat anda secara positif meskipun anda gagal.

1. Jangan menyembunyikan kesalahan anda

Jika anda membuat kesalahan, jangan menyilangkan jari-jari anda dan berharap tidak ada yang memperhatikan, karena pasti ada seseorang yang melihatnya. Anda tidak bisa menyembunyikan kesalahan anda. Bila ada orang lain yang menunjukkan kegagalan anda, maka anda akan merasa malu dua kali lipat. Jika anda tetap diam, orang akan bertanya-tanya mengapa anda tidak mengatakan sesuatu, dan kemungkinan besar mereka akan menganggap anda sebagai pengecut atau hanya berpura-pura tidak tahu.

 

2. Tawarkan penjelasan, tetapi jangan membuat alasan

Mengakui kesalahan anda benar-benar dapat meningkatkan citra diri anda. Hal ini menunjukkan kepercayaan diri, akuntabilitas, dan integritas. Pastikan untuk berpegang teguh pada fakta. “Saya tidak membuat laporan karena saya ketinggalan deadline“. Ini hanyalah alasan. “Saya tidak membuat laporan karena anjing saya sakit sepanjang akhir pekan dan itu membuat saya kehilangan deadline“. Itu adalah alasan.

 

3. Anda memiliki rencana untuk memperbaiki sesuatu

Berani mengakui kesalahan merupakan sesuatu yang hebat. Tapi itu bukanlah akhir. Apa yang anda lakukan selanjutnya sangat penting. Alih-alih menunggu orang lain membersihkan kekacauan Anda, tawarkan solusi untuk diri anda sendiri. Lebih baik lagi jika anda bisa memberi tahu atasan anda (atau siapapun), langkah spesifik yang telah anda lakukan untuk mengembalikan semuanya ke jalur semula.

 

4. Anda memiliki rencana sebagai pencegahan

Selain memiliki rencana untuk memperbaiki sesuatu, anda juga harus memiliki rencana untuk menghindari kesalahan yang sama di masa depan. Itulah cara terbaik untuk meyakinkan orang lain, bahwa hal baik akan datang dari kegagalan anda.

 

5. Anda harus berani mencoba kembali

Penting untuk tidak membiarkan kegagalan membuat anda malu. Pola pikir yang negatif akan membuat anda emosi setiap kali anda mengalami kegagalan. Luangkan cukup waktu untuk menyerap pelajaran dari kegagalan anda. Dan segera setelah anda melakukannya, cobalah memperbaiki kegagalan anda. Menunggu hanya akan memperpanjang perasaan buruk dan meningkatkan kemungkinan anda kehilangan keberanian.

Sikap anda saat menghadapi kegagalan sama pentingnya dengan tindakan yang anda lakukan. Menggunakan kegagalan sebagai keuntungan membutuhkan ketahanan dan kekuatan mental. Keduanya merupakan ciri kecerdasan emosional. Bila anda gagal, itu artinya ada tiga sikap yang perlu anda pertahankan.

 

6. Perspektif

Ini adalah faktor terpenting dalam menangani kegagalan. Orang yang ahli dalam reboundsetelah kegagalan lebih cenderung menyalahkan kegagalan pada tindakan yang salah dan kesalahan spesifik, bukan sesuatu yang mereka lakukan.

Orang-orang yang buruk dalam menangani kegagalan cenderung menganggap kegagalan terjadi karena kemalasan, kurangnya kecerdasan, atau kualitas pribadi lainnya. Hal ini menyiratkan bahwa mereka tidak memiliki kendali atas situasi ini. Inilah membuat mereka lebih cenderung menghindari pengambilan risiko di masa depan.

 

7. Optimisme

Ini adalah karakteristik lain orang-orang yang bangkit kembali dari kegagalan. Sebuah studi di Inggris terhadap 576 pengusaha menemukan bahwa mereka jauh lebih mungkin menemukan kesuksesan daripada pengusaha yang menyerah setelah kegagalan pertama mereka. Rasa optimis itulah yang membuat orang lain merasa bahwa gagal adalah kondisi permanen. Sebaliknya, mereka cenderung melihat setiap kegagalan sebagai dinding penghalang yang perlu dirobohkan untuk menuju kesuksesan tertinggi. Bagi mereka, kegagalan adalah sebuah pembelajaran.

 

8. Kegigihan

Optimisme adalah perasaan positif. Sedangkan kegigihan adalah apa yang anda lakukan dengan rasa optimis. Ini artinya sebuah optimisme dalam tindakan. Ketika semua orang berkata, “Sudah cukup” dan memutuskan untuk berhent, orang-orang yang gigih akan melepaskan kegagalan tersebut dan terus berjalan. Orang yang gigih itu istimewa, karena optimisme mereka tidak pernah mati. Hal ini yang membuat mereka hebat karena mereka mampu bangkit dari kegagalan.

 

Bringing it all together!!

Kegagalan adalah hasil dari perspektif anda. Apa yang orang anggap sebagai kekalahan yang menghancurkan, anda dapat melihatnya hanya sebagai kemunduran kecil. Anda bisa mengubah cara anda melihat kegagalan, sehingga anda bisa menggunakannya untuk memperbaiki diri. Sukses untuk anda, salam hebat luar biasa..!!

Salah satu rintangan terbesar menuju kesuksesan adalah rasa takut akan kegagalan.

Salah satu rintangan terbesar menuju kesuksesan adalah rasa takut akan kegagalan. 

Salah satu rintangan terbesar menuju kesuksesan adalah rasa takut akan kegagalan. Ada 8 tindakan yang harus anda ambil saat anda gagal. 8 poin ini akan memungkinkan anda berhasil di masa depan dan orang lain akan melihat anda secara positif meskipun anda gagal.

BURUH KEBUN YANG MEMPUNYAI 50 GERAI KUE

November 21, 2017 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Saat masih berusia 9 tahun, Cleusa Maria lebih mahir menggunakan cangkul dan garu dibanding harus bermain dengan boneka. Tak seperti anak-anak sebayanya, wanita yang dibesarkan di pinggiran kota Sao Pao, Brazil ini harus menjalani usia mudanya untuk bekerja sebagai buruh anak.

Setiap hari, Maria membantu sang ayah bekerja di kebun. Meski bukan milik sendiri, kebun yang digarapnya tersebut setidaknya bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Hari-harinya berjalan seperti biasa, hingga pada usia 12 tahun sang ayah meninggal dunia. Tidak ada lagi yang bisa menafkahi keluarga, ibunya juga harus berjuang mati-matian menghidupi Maria dan 9 saudaranya.

Bosan dengan hidup yang serba kesusahan, Maria akhirnya bertekad untuk bisa mengubah nasibnya. Di usia 17 tahun ia memutuskan hijrah ke kota untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Kehidupan yang dijalaninya kala itu pun jauh dari cukup. Ia hanya punya waktu libur dua hari selama sebulan. Semua gajinya pun ia kirim ke kampung untuk membantu ibu dan adik-adiknya.

Menjalani hidup sebagai pembantu rumah tangga tak lantas membuat Maria puas. Ia merasa banyak kesenjangan yang harus dirasakannya apalagi ketika bekerja dengan orang berada.

Dengan tekad yang besar, Maria akhirnya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan. Ia kemudian masuk ke sekolah kejuruan agar bisa bekerja kantoran sebagai seorang resepsionis.

Di tahun 1995, Maria dihadapkan pada satu kesempatan yang mengubah hidupnya. Istri dari bos tempat ia bekerja memintanya untuk membantu membuat kue. Tak tanggung-tanggung, Maria diminta merancang kue seberat 35 kilogram.

“Istri bos saya senang untuk menjual kue. Suatu hari, ia mengalami cedera kaki. Dia kemudian meminta saya untuk membantunya membuat kue. Saya tidak pernah memanggang sebelumnya, saya hanya mengikuti instruksi. Untungnya hasil kue itu memuaskan,” cerita Maria.

Sang istri bos sangat senang dengan kue yang Maria buat. Ia pun menghadiahi Maria sebuah mixer dan meminta Maria membuat kue lebih banyak untuk teman-temannya.

Setelah itu, semua kesempatan makin terbuka lebar untuk Maria. Ia tak hanya bekerja sebagai resepsionis, kala malam Maria juga sibuk membuat pesanan berbagai kue.

Dua tahun setelahnya, Maria memutuskan untuk keluar dari pekerjaan. Ia membuka gerai toko kue pertamanya yang diberi nama Sensacoes Doces.

Kerja kerasnya membuahkan hasil. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, ia mampu membuka cabang di empat tempat berbeda.

Setelah mampu dikenal luas oleh masyarakat, salah seorang teman menyarankan Maria untuk membuat franchise. Meski ia tidak terlalu tahu tentang dunia franchise, wanita ini akhirnya memutuskan untuk mengikuti saran temannya tersebut.

Benar saja, hanya dalam waktu singkat, gerai kuenya kini menjamur di 50 lokasi berbeda.

Dua dekade setelah ia membuka gerai toko pertamanya, Maria kini memiliki lebih dari 300 outlet di 13 negara bagian di Brazil. Tiap toko, ia mempekerjakan lebih dari 15 orang pegawai.

Maria menuturkan, ia memiliki dua mimpi besar dalam hidupnya. Ia ingin membuat sang ibu tidak lagi harus bekerja di ladang tebu. Ia juga ingin anak-anaknya tidak merasakan pengalaman pahitnya dulu.

“Awalnya saya takut bisnis ini berkembang sangat pesat dan saya tidak memiliki pengalaman yang cukup. Tapi di satu poin saya mengerti bahwa semuanya akan baik-baik saja. Saya bahkan harus bersyukur sudah bisa berada di titik ini,” tutur Maria.

Sumber: liputan6.com

BELAJAR DARI SEMUT

November 9, 2017 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Semut bekerja keras di masa sulit, agar hidup tercukupi di masa yang lebih sulit.

Semut tidak mengeluh, tidak ada yang bersantai ria saat semut yang lain bekerja.

Semut mengutamakan kerjasama daripada sok bossy dan merasa lebih keren sendiri.

Semut tidak mengharapkan pemberian mudah, dan tidak marah kalau tidak ada yang memberinya gratisan.

Semut jago mencium peluang, makanan yang jatuh di lokasi yang tidak ada semut, dalam beberapa jam kemudian akan banyak semut yang datang bergotong-royong mengambil makanan itu

Semut tidak pernah menyerah, ketika ada yang menghalangi jalannya, maka semut akan mencari jalan lain untuk mencapai tujuannya

Semut tidak malas, tidak suka menunda, tidak menyalahkan orang lain atas kesulitan hidup, dan patuh kepada fitrahnya yang baik.

Mari belajar dari semut 

Sumber: BiMO Adi Pradono

HATI YANG PENUH RASA SYUKUR

November 9, 2017 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Guru : Tadi kamu minum segelas air yang aku beri satu sendok gula, apa yang kamu rasakan?

Murid : Rasanya manis, guru.

Guru : Lalu yang aku beri satu sendok garam, bagaimana rasanya?

Guru : Waduh, kalau yang itu benar-benar asin rasanya.

Lalu sang Guru mengajak murid itu menuju ke telaga yang airnya sangat jernih, lalu menaburkan satu sendok gula, satu kemudian….

Guru : Coba kamu minum air telaga ini, dan apa yang kamu rasakan?

Murid : Segar bangeeeet, guru.

Kemudian Guru menaburkan satu sendok garam ke dalam telaga itu dan…..

Guru : Sekarang kamu minum lagi air telaga ini dan bagaimana rasanya?

Murid : Tetap segar, guru.

Guru : Itulah kehidupan, manis dan asin itu menjadi tidak terasa bagi orang yang hatinya jembar, luas dan penuh dengan rasa syukur.

source: iphincow.com

SECUIL KISAH MAHABARATA

September 4, 2017 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Tak ada cerita yang paling menyedihkan di Mahabarata selain kisah hidup Karna. Terlahir sebagai anak dewa dan putri raja, tapi menjalani hidup di kasta rendah. Ibunya bukanlah Bunda Maria atau Maryam Ummu Isa yang teguh mesti didera cacian, mempunyai anak tanpa bapak.

Kunti terlampau takut dengan pandangan orang. Sebelum semua tahu, dia larungkan bayinya yang masih merah di sungai deras. Hidup atau tidak, ibu muda itu pasrah.

Untungnya, keluarga kusir yang menemukan Karna mencurahinya penuh kasih sayang. Radha membesarkan seperti anak kandungnya sendiri. Karena itulah, Karna lebih suka dipanggil Radheya (anak Radha) dibanding Kuntiya (anak Kunti) sampai ajalnya tiba.

Ketika remaja, Guru Durna tak menerima Karna yang cerdas karena dia hanya anak kusir. Dia beralih guru ke Ramaparasu. Pendekar sakti itu menolak mengajari para kasta ksatria. Karna mengaku dia bukan dari kasta itu karena memang tidak tahu.

Ramaparasu menjadikan Karna murid kinasih hingga diajarkan jurus dan mantra andalan. Dia tidur di pangkuan. Malang, seekor semut kecil mengigit Karna. Tak ingin gurunya terbangun, Karna rela menahan sakit.

Tubuhnya menahan gatal, keringat mengucur, Karna tak ingin menimbulkan gerakan yang membangunkan gurunya . Hingga Ramaparasu terkejut melihat muridnya. Sang guru murka.

“Siapa kau sebenarnya? Hanya kasta ksatria saja yang rela menahan sakit demi memperjuangkan sesuatu,” ucap Ramaparasu. Kutukan dilontarkan. Kelak pada saat genting, Karna sama sekali tak ingat rapalan mantra pemberian gurunya itu.

Karna bingung. Setelah diusir, dia belajar ilmu secara otodidak. Banyak orang yang mengejek, tak terkecuali Pandawa, yang ternyata adiknya sendiri. “Masak, anak kusir sok-sokan pengen jadi ksatria,” ejek Bima.

Pandawa tak menerima pertemanan dengan Karna. Kurawa yang malah menyambut baik layaknya seorang sahabat. Biarkan orang lain menyebut Duryudana atau Yudana yang jahat, tapi bagai Karna adalah Suyudana atau Yudana yang baik.

Menjelang dewasa. Terdengarlah sayembara memperebutkan Drupadi yang cantik dan molek, putri Raja Drupada. Perlombaan memanah burung tanpa melihat langsung. Banyak yang gagal mengangkat busur, apalagi memanah. Tentu saja ini sebenarnya keahlian Karna.

Bertekad Radheya putra Radha itu ke palagan. Belum sampai dia mengangkat gendhewa, Drupadi menolak. “Aku tak mau menjadi seorang istri anak kusir,” ujarnya. Karna patah hati.

Sabar Karna, kelak kau akan mendapatkan pasangan yang setia sampai mati. Putri raja yang mau hidup sederhana dan akan kau cintai tanpa ada yang lain. Surtikanti namanya, pemilik rasa cinta tanpa batas.

Sebagai prajurit sakti, Karna tentu sangat ditakuti. Anak Dewa Matahari ini memperoleh perisai yang menempel di badannya. Perisai yang tak bisa tembus oleh senjata apapun. Tapi sayangnya, Karna terlalu baik sampai merelakan perisai itu lepas dari badannya setelah seorang pengemis meminta. Padahal, pengemis itu adalah Dewa Indra, bapak Arjuna yang menyaru agar anaknya mudah mengalahkan Karna.

Sampai menjelang pertempuran Baratayuda, Karna tak pernah tahu kalau dia putra Kunti. Sampai suatu ketika, ibu Pandawa, perempuan anggun yang selalu dia kagumi dari jauh, datang menemuinya. Kunti menangis di hadapannya dan mengatakan bahwa Karna adalah putra sulungnya.

Bagai disambar petir, batin Karna terguncang. Bagaimana mungkin dia bisa membunuh adik-adiknya sendiri? Kunti terus menangis di hadapannya, tak ingin salah satu anaknya mati. Karna tak tahu, apakah ibu biologisnya itu takut kehilangannya atau putra-putranya yang lain?

Karna berjanji tak akan membunuh adiknya, kecuali Arjuna. Tujuannya agar anak Kunti tetap lima. Sebagai ksatria, dia penuhi janji itu. Yudhistira, Bima, Nakula, Sadewa, hanya seperti diajak latihan bertempur saat berperang.

Hingga saatnya tiba, Karna melawan Arjuna. Pemanah tampan itu dikusiri Kresna, manusia titisan dewa. Sementara kereta Karna dikusiri Salya, mertua yang setengah hati merestui karena tak ingin putrinya bersuamikan anak kusir.

Selama pertempuran, Arjuna hanya memutar dan menghindar. Arjuna terlmpau takut dengan keahlian Karna. Tapi malang tak dapat ditolak, Salya yang sedari dulu ingin mempunyai menantu seperti Arjuna malah menjebloskan roda kereta ke dalam lubang.

Mau tak mau, Karna turun dari kereta. Diangkatnya roda dari kubangan, tapi lubang terlampau dalam.

“Ayah, tolong bantu aku mengangkat roda kereta ini, ” permohonan Karna.
“Coba kau angkat sendiri. Tak elok, seorang raja seperti aku mengangkat roda kereta seoarang anak kusir.” jawab mertuanya.

Karna mulai putus asa. Tiba-tiba, dia melihat Arjuna mengarahkan busur panah ke arahnya. Karna panik, senjatanya masih di atas kereta. Dia butuh alat melawan yang cepat. Senjata pamungkas telah dia gunakan saat menghadapi Gatutkaca. Mantra rapalan dari gurunya, Ramaparasu, sekejab tak bisa diingat. Perisai di tubuh sudah tak dia miliki lagi.

Karna tahu, inilah waktu ajalnya menjemput. Anak panah Arjuna tepat menancap lehernya. Karna menghembuskan nafas terakhir. Kunti, Radha, Surtikanti, tiga permpuan dalam hidup Karna segera berlari menghampiri.

Dengan kesetian tinggi, Surtikanti mengambil panah dan menancapkan ke jantungnya sendiri. Salya terhenyak menyesal.

Sementara tangisan Kunti membingungkan semua orang. Kuntipun mengaku. Ternyata Karna yang selama ini orang anggap sebagai anak kusir yang berkasta rendah, adalah keturunan bangsawan, darah dagingnya. Pandawa marah kepada ibunya, mengapa menyimpan rahasia sedari awal.

Tapi penyesalan semua orang sudah tiada arti. Radheya, Karna anak Radha, ksatria yang senjatanya telah dilucuti berkali-kali dan keberanian berperang telah tergurih oleh tangisan ibu kandung yang tak pernah membesarkannya, telah pergi selamanya.

Sumber ilustrasi: deviantart
—–
Bagaimana kalau cerita ini dijadikan sebuah novel? Apakah menarik?

Sumber: https://www.facebook.com/ndari.sudjianto

SUATU PAGI DI TAHUN 1963

September 4, 2017 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Bung Karno duduk di beranda Istana Negara, ia sedang menikmati pagi dengan segelas teh hangat dan membaca beberapa koran yang dikirim staf istana. Tiba-tiba ia menoleh ke arah tangga karena seorang datang dan sepertinya membawa beberapa dokumen.

Orang itu melaporkan bahwa massa di Malaysia terjadi penyerbuan ke Kantor Duta Besar Indonesia. Foto Bung Karno dirobek robek, dan Lambang Negara dikabari diinjak injak, bahkan ada beberapa laporan yang beredar menyatakan Tunku Abdurrahman, diminta para demonstran menginjak injak lambang negara Pancasila. Inilah yang membuat marah besar Bung Karno, ia tak ingin lambang negara bangsanya diinjak injak oleh Malaysia.

Beberapa waktu kemudian Bung Karno berpidato yang menggetarkan …Pidato Ganjang Malaysia…

“Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

==========

Dalam konflik Malaysia itu sebenarnya Bung Karno ingin membela wilayah Sarawak merdeka dari Inggris, dan Bung Karno curiga bahwa Federasi Malaysia adalah buatan Inggris untuk menjaga kepentingan kaum Nekolim menguasai permodalan di Asia Tenggara.

BIARKAN MEREKA TERJATUH DAN MENANGIS

May 29, 2017 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

M. Fikri Mabruri (18 tahun) – sembari berangkat ke sekolah – setiap hari berjualan bubur kacang hijau dan bakwan kawi (Kompas, 3 Mei 2016).

Sungguh anak muda yang perkasa…..

Kita – orang tua memang harus selalu menyediakan pundak kita sebagai tempat bersandar anak. Mereka boleh menangis sesekali ketika perjuangan sangat menyakitkan. Tapi pundak itu bukan tempat anak menyandarkan kepalanya setiap saat mereka ingin ditimang atau dininabobokan.

Anak harus menjadi petarung kehidupan yang perkasa. Sebab pada saatnya mereka tak akan punya lagi pundak untuk selalu menyandarkan kepalanya. Maka biarkan anak terjatuh sesekali, jangan selalu dituntun agar tak sampai terjatuh. Katakan : ‘ Jatuhlah Nak, jika memang harus jatuh.’ Lalu bangkitkan mereka dan dorong untuk berjalan lagi. Janganlah lalu dipeluk, dielus, dan ditimang seolah orang tua ingin menanggung rasa sakit anak. Anak memang harus merasakan sakit kehidupan itu. Biarkan ia kokoh bak pohon mangga yang tumbuh perkasa karena tak segan menerima sayatan pisau di batangnya.

Anak harus berlayar ke samudra lepas. Biarkan mereka menghadapi ombak dan gelombang ganas. Sebab pelaut yang hebat hanya jika terbiasa mengarungi gelombang dahsyat dan sekaligus menaklukkannya. Laut yang tenang tak akan menghasilkan pelaut hebat. Anak harus mengemudikan mobil kehidupannya sendiri, melewati jalanan berkelok dan tak ramah – agar tumbuh menjadi pengemudi yang hebat. Jalanan yang lurus mulus tak akan melahirkan pengemudi hebat. Jangan biarkan anak hanya duduk di samping pengemudi karena orang tua khawatir anak mengalami benturan dengan mobil lain.

Pada saatnya anak harus berada di jalanan kehidupan. Jangan bentuk dia seperti anak yang hidup di belantara hutan sunyi, lalu kebingungan dan panik bahkan ketika harus menyeberangi jalan. Anak harus paham mengeluarkan tetes keringatnya, namun bukan hanya tetes keringat karena sibuk bermain – tapi karena menjaga hidupnya sendiri dengan baik.

Menangislah bersama anak pada saat diperlukan, agar mereka belajar bahwa menangis itu bukan dosa atau kelemahan dan air mata itu sangat mujarab membasuh luka kehidupan. Namun jangan ajarkan anak menangis jika keinginanannya tak tercapai. Jika itu soalnya, bukan air dari sepasang mata yang diperlukan, melainkan air dari segenap tubuhnya dan bahkan jiwanya untuk terus berlari menuju garis finish.

Tertawalah bersama anak pada saat diperlukan, agar mereka belajar bahwa tawa itu perekat kebahagiaan bersama orang2 yang tercinta. Tapi jangan biarkan anak belajar tertawa diatas tangis orang lain, agar anak tidak tumbuh menjadi pribadi yang suka menertawakan kehidupan sebagai anugrah Tuhan terindah.

Peluklah anakmu agar dia belajar memeluk kehidupannya sendiri. Ciumlah anakmu agar dia paham mencium kehidupannya sendiri. Doronglah anakmu agar dia mahir mendorong kereta kehidupannya sendiri.

Reĺakan anakmu untuk tumbuh menjadi pribadi dewasa, yang bukan hanya pintar dan trampil – namun terlebih penting – bijak. Agar pada saatnya kelak, semua orang akan mafhum dan dengan rela mengakui bahwa anak muda yang perkasa itu adalah anakmu. Lalu engkau boleh tersenyum pada-Nya, sebab diberinya kesempatan untuk menjaga, merawat dan mendampingi anak kehidupan yang dititipkan-Nya kepadamu dengan baik.

SURAT TERBUKA HT KEPADA PRESIDEN JKW

May 13, 2017 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Bapak Jokowi yang saya hormati,

Pada saat pilpres yang lalu, sesungguhnya saya tidak memilih bapak – melainkan Prabowo. Tentang kenapa pilihan saya seperti itu, biarlah untuk saat ini tak perlu saya jelaskan. Ada hal lebih penting ingin saya sampaikan kepada bapak. Meskipun Prabowo jagoan saya waktu itu keok, namun tidak otomatis saya gagal move on – lalu membenci bapak seperti para “hater Jokowi” yang membabi-buta itu. Saya belajar untuk menjadi WNI yang dewasa, yaitu dengan cara patuh dan mendukung pemerintahan bapak – tanpa kehilangan daya kritis. Kedewasaan seorang warga negara diukur dari kesediaannya untuk hormat kepada pemimpin yang sah, sekalipun itu bukan pilihannya.

Dan setelah sekian tahun bapak memerintah, respek saya makin tumbuh dan kuat. Bapak – setidaknya sampai hari ini – membuktikan sebagai RI 1 yang bersih, berani, tegas, dan pekerja keras tanpa pamrih demi bangsa dan rakyat. Hasilnya mulai bisa dirasakan dan dilihat. Itu sebabnya saya ingin bapak bisa lebih panjang memerintah dan membangun negeri ini. Namun ketika sampai pada keinginan ini, kekhawatiran justru mulai merambah hati saya.

Pilkada DKI Jakarta yang baru usai ternyata menyisakan pekerjaan rumah besar bagi bangsa ini. Pilkada paling brutal itu telah merusak sendi-sendi berbangsa dan bernegara yang selama ini kokoh dan relatif harmonis. SARA, politisasi agama dan ektrimnya “segala cara” telah dipakai – dan akibatnya : gubernur petahana kalah. Pilkada ini – setidaknya menurut saya – harus dibayar mahal oleh kita semua, yakni : tersingkirnya seorang manusia baik, terlemparnya seorang gubernur terbaik yang pernah dimiliki republik ini.

Tapi itu belum seberapa pak, sebab saya yakin – sesakit apapun gubernur petahana itu – ia masih bisa menanggungkannya. Ekses lain yang jauh lebih buruk mesti kita hadapi bersama. Kehidupan sosial politik yang mulai kacau-balau dan dipenuhi oleh radikalisme serta intoleransi – yang bahkan merambah jantung pertahanan terakhir sebuah bangsa : pendidikan. Berbagai sekolah sudah diracuni oleh radikalisme dan SARA. Ada sekolah yang siswanya menolak Ketua OSIS karena berbeda agama. Ada sekolah yang mengajar siswa SD nya untuk membenci Cina, sebab Cina itu penjajah. Sebuah video pendek beredar, tentang seorang warga yang memaki-maki pemilik toko Cina. Dia mengancam akan membasmi orang Cina. Orang itu berani pongah dan petentengan, seolah merasa tak akan tersentuh hukum. Banyak lagi lainnya pak. Situasi masyarakat sangat gerah, dipenuhi kecemasan – seperti orang yang gelisah menunggu sebuah bom waktu. E.F. Schumacher – seorang filsuf hebat dan pakar ekonomi madya pernah bilang : “pendidikan adalah aset terbesar sebuah bangsa.” Dan kini aset terbesar kita itu telah diracuni oleh virus SARA, radikalisme dan intoleransi. Jika aset itu rusak, masa depan bangsa ini akan rusak pula.

Pada saat-saat menyesakkan seperti inilah saya teringat pada bapak sebagai Presiden saya. Ada asa yang terselip dalam hati saya, bahwa bapak bisa berbuat sesuatu bagi bangsa yang sedang sempoyongan ini. Kita tak perlu membesarkan hati atau menipu diri seolah tak terjadi apa-apa di tengah masyarakat kita pak. Sesuatu yang buruk dan mencemaskan sedang terjadi. Saya berharap banyak pada bapak. Tapi untuk itu bapak harus memerintah lebih lama lagi di negeri yang kita cintai ini.

Dua tahun lagi pilpres kembali digelar pak. Dan itu waktu yang tak banyak, kita tak punya kemewahan waktu untuk berkata “tarsok, tarsok – ntar besok, ntar besok”. Kemenangan kelompok radikal dan para politisi dalam kubu seberang membuat mereka berada di puncak kepercayaan diri. Mereka yakin sekali dengan keberhasilan dalam pilkada Jakarta. Ada “benchmark” strategi yang akan mereka lakukan lagi dalam pilpres mendatang. Kemungkinan besar mereka akan memakai jasa konsultan politik yang sama, yang hanya mempedulikan trofi kemenangan di atas apapun. Hati-hati pak, kalau tidak salah – konsultan itu juga pernah membantu bapak dalam pilpres yang lalu. Jika Ahok dipolitisir habis lewat isu non Muslim dan Cina, maka bapak yang Jawa dan Muslim sudah mulai dipolitisir dengan isu PKI. Virus PKI itu telah terasa disebarkan di tengah masyarakat pak. Tapi bisa jadi mereka juga tengah menggodok isu lain – plan B – untuk dijadikan bom bagi bapak.

Pada saat yang sama radikalisme terus bergerak berdentam-dentam setiap hari. Sudah saatnya bapak melakukan sesuatu dengan lebih tegas dan konkrit pak, sebelum semuanya terlambat. Mayoritas rakyat yang cinta NKRI sudah siap di belakang bapak. NU dengan Banser dan GP Ansornya yang luarbiasa kuat itu bahkan sudah mulai bergerak. Menurut saya, Negara tidak bisa hanya berdiri di tengah pak. Negara harus berpihak. Kenapa ? Sebab yang kita hadapi adalah musuh Negara. Kenapa musuh Negara ? Sebab kelompok radikal itu ingin mengubah Pancasila dan NKRI. Bukankah jelas itu musuh Negara ? Kenapa Negara ragu untuk berpihak pada rakyat dan kaum yang sudah jelas membela Negara ?
Banser dan GP Ansor siap “perang” pak, namun mereka membutuhkan dukungan Negara. Musuh Negara sudah jelas harus dibereskan. Semakin lama pembiaran ini, semakin brutal dan merajelela mereka. Negara juga harus memobilisasikan sumber dayanya – termasuk masyarakat – untuk menghadapi mereka.

Ada kekhawatiran bahwa pihak luar akan menunggangi sekaligus membela mereka jika dihantam dengan keras, sebab mereka akan langsung “playing victim”. Tapi selama mayoritas rakyat dan unsur-unsur terkuat Islam tradisional di negeri ini bersatu di belakang bapak (NU dan Muhammadiyah) – tak satupun musuh Negara (baik dari luar dan dalam) akan mampu menghancurkan kita pak. Jadi kini sudah saatnya bertindak pak, jika mereka tidak dibubarkan – setidaknya segera dinyatakan sebagai ormas terlarang. Dengan demikian, segenap komponen masyarakat beserta Banser, GP Ansor, ormas-ormas lain pro NKRI serta aparatus Negara dengan leluasa dan obyektif bisa menghentikan mereka setiap saat.

Bapak tentu tahu Revolusi Bunga sedang melanda negeri kita. Setelah terjadi pada Ahok yang ternyata sangat dicintai rakyat Indonesia (bukan hanya Jakarta), kini Revolusi Bunga itu merembet kepada POLRI yang kita banggakan pak. Artinya, mayoritas rakyat mendukung polisi, sekaligus mengandalkan polisi untuk segera bertindak membasmi kelompok radikal musuh Negara itu. Jendral Tito menjadi harapan kita. Juga Jendral Gatot, pak. Bapak mempunyai jendral-jendral terbaik yang tak perlu diragukan.

Dua tahun tak lama lagi pak. Persiapan “perang” itu harus dilakukan sejak sekarang. Redam radikalisme secepat mungkin, dukung habis setiap komponen masyarakat yang cinta NKRI dan Pancasila. Sekolah-sekolah harus segera disterilkan dari semua virus radikalisme dan SARA. Mendikbud harus berani, keras, tegas dan menerapkan manajemen kontrol yang super ketat. Menteri Agama tidak hanya sekadar mengeluarkan seruan dan himbauan, tapi peraturan yang tegas dan keras – semua tempat ibadah bukanlah ajang untuk menyebarkan kebencian, SARA dan radikalisme dan politik. Manajemen kontrol juga sama, harus super ketat.

TV yang tidak nasionalis dalam siarannya juga harus dikontrol, dan kalau ada yang menyebarkan radikalisme serta kebencian harus diberangus. Itu hak negara. Seperti kata bapak : demokrasi tidak boleh kebablasan. Semua TV swasta wajib menyiarkan lagu Indonesia Raya secara periodik. Jangan hanya mars partai saja. TV-TV itu cari makan di Indonesia. Wajib hukumnya.

Terlepas dari berbagai kekurangannya, Pak Harto punya manajemen kontrol yang hebat soal beginian pak. Bapak bisa menirunya, tanpa harus terjebak menjadi otoriter dan totaliter. Tegas dan keras itu tidak harus otoriter pak. Pedomannya sederhana, jika NKRI dan Pancasila terancam – kita harus menghancurkan musuh itu tanpa kompromi.

Percayalah pak, jika bapak tidak segera berbenah dan bertindak soal ini – kekalahan yang tidak adil pada gubernur petahana pilkada DKI akan terulang pada pilpres. Sekali lagi, saya tidak menginginkan hal itu. Bersihkan Negara dari radikalisme, intoleransi, lalu majulah dalam pilpres yang fair dan obyektif. Jadi kalaupun kalah, maka pemenangnya adalah yang terbaik bagi bangsa ini. Namun jika pilpres nanti dikooptasi oleh situasi brutal seperti pilkada DKI dan bapak kalah – itu akan menyakitkan bagi bangsa ini.

Secara subyektif, kekalahan bapak – meski akan menyakitkan – tak akan menghancurkan bapak secara pribadi. Sebab saya percaya bapak adalah pribadi dan pemimpin yang berjiwa besar dan legowo. Tapi jika itu terjadi, bangsa inilah yang akan hancur berkeping-keping pak. Dan kita semua, khususnya bapak sebagai pemimpin tertinggi republik – akan menanggung dosa paling besar pada para pendiri republik tercinta ini.

Demikianlah surat yang cukup panjang ini saya kirimkan kepada pak Jokowi yang baik dan rendah hati. Semoga bapak sempat dan berkenan membacanya. Ini hanya surat seorang rakyat pak, namun naluri saya mengatakan – saya tak sendiri soal ini.

Jangan ragu menggunakan kekuasaan bapak dengan bijak pak. Bijak, tidak berarti lunak dan terlalu baik pak.

Salam hormat saya pak, semoga bapak selalu dilindungi dan diberi kesehatan oleh Tuhan YME.

Thank you Mr. President…wish you all the best…

HT (Herry Tjahjono)

Karya Besar dari Orang Desa

May 13, 2017 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Dulu, ide Khoirul ditertawakan. Namun akhirnya dinikmati banyak orang. Termasuk para ilmuwan yang mencemooh itu.

Khoirul Anwar dianggap gila. Ditertawakan. Bahkan dicemooh. Idenya dianggap muskil. Tak masuk akal. Semua ilmuwan yang berkumpul di Hokkaido, Jepang, itu menganggap pemikiran yang dipresentasikan itu tak berguna.

Dari Negeri Sakura, Anwar terbang ke Australia. Tetap dengan ide yang sama. Setali tiga uang. Ilmuwan negeri Kanguru itu juga memandangnya sebelah mata. Pemikiran Anwar dianggap sampah.

Pemikiran Anwar yang ditertawakan ilmuwan itu tentang masalah power atau catu daya pada Wi-Fi. Dia resah. Saban mengakses internet, catu daya itu kerap tak stabil. Kadang bekerja kuat, sekejap kemudian melemah. Banyak orang mengeluh soal ini.

Tak mau terus mengeluh, Anwar memutar otak. Pria asal Kediri, Jawa Timur, itu ingin memberi solusi. Dia menggunakan algoritma Fast Fourier Transform (FFT) berpasangan.

FFT merupakan algoritma yang kerap digunakan untuk mengolah sinyal digital. Anwar memasangkan FFT dengan FFT asli. Dia menggunakan hipotesis, cara tersebut akan menguatkan catu daya sehingga bisa stabil.

Ide itulah yang diolok-olok ilmuwan pada tahun 2005. Banyak ilmuwan beranggapan, jika FFT dipasangkan, keduanya akan saling menghilangkan. Tapi Anwar tetap yakin, hipotesa ini menjadi solusi keluhan banyak orang itu.

Ilmuwan Jepang dan Australia boleh mengangapnya sebagai dagelan. Tapi dia tak berhenti. Anwar kemudian terbang ke Amerika Serikat. Memaparkan ide yang sama ke para ilmuwan Paman Sam.

Tanggapan mereka berbeda. Di Amerika, Anwar mendapat sambutan luar biasa. Ide yang dianggap sampah itu bahkan mendapat paten. Diberi nama Transmitter and Receiver. Dunia menyebutnya 4G LTE. Fourth Generation Long Term Evolution.

Yang lebih mencengangkan lagi, pada 2008 ide yang dianggap gila ini dijadikan sebagai standar telekomunikasi oleh International Telecommunication Union (ITU), sebuah organisasi internasional yang berbasis di Genewa, Swiss. Standar itu mengacu prinsip kerja Anwar.

Dua tahun kemudian, temuan itu diterapkan pada satelit. Kini dinikmati umat manusia di muka Bumi. Dengan alat ini, komunikasi menjadi lebih stabil.

Karya besar ini ternyata diilhami masa kecil Anwar. Dulu, dia suka menonton serial kartun Dragon Ball. Dalam film itu, dia terkesan dengan sang lakon, Son Goku, yang mengeluarkan jurus andalan berupa bola energi, Genkidama.

Untuk membuat bola tersebut, Goku tidak menggunakan energi dalam dirinya yang sangat terbatas. Goku meminta seluruh alam agar menyumbangkan energi. Setelah terkumpul banyak dan berbentuk bola, Goku menggunakannya untuk mengalahkan musuh yang juga saudara satu sukunya, Bezita.

Prinsip jurus tersebut menjadi inspirasi bagi Anwar. Dia menerapkannya pada teknologi 4G itu. Jadi, untuk dapat bekerja maksimal, teknologi 4G menggunakan tenaga yang didapat dari luar sumber aslinya.

***

Ya, karya besar ini lahir dari orang desa. Anwar lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 22 Agustus 1978. Dia bukan dari kalangan ningrat. Atau pula juragan kaya. Melainkan dari kalangan jelata.

Sang ayah, Sudjiarto, hanya buruh tani. Begitu pula sang bunda, Siti Patmi. Keluarga ini menyambung hidup dengan menggarap sawah tetangga mereka di Dusun Jabon, Desa Juwet, Kecamatan Kunjang.

Saat masih kecil, Anwar terbiasa ngarit. Mencari rumput untuk pakan ternak. Pekerjaan ini dia jalani untuk membantu kedua orangtuanya. Dia ngarit saban hari. Setiap sepulang sekolah.

Meski hidup di sawah, bukan berarti Anwar tak kenal ilmu. Sejak kecil dia bahkan mengenal betul sosok Albert Einstein dan Michael Faraday. Ilmuwan dunia itu. Anwar suka membaca buku-buku mengenai dua ilmuwan tersebut, padahal tergolong berat.

Hobi ini belum tentu dimiliki anak-anak lain. Dan dari dua tokoh inilah, Anwar menyematkan cita-cita menjadi ‘The Next Einstein’ atau ‘The Next Faraday’.

Cita-cita tersebut hampir saja musnah. Saat sang ayah meninggal pada tahun 1990. Sang tulang punggung tiada. Siapa yang akan menopang keluarga? Perekonomian sudah tentu tersendat. Padahal kala itu Anwar baru saja menapak sekolah dasar.

Anwar tentu khawatir, sang ibu tak mampu membiayai sekolah. Apalagi hingga perguruan tinggi. Tapi Anwar memberanikan diri, mengungkapkan keinginan bersekolah setinggi mungkin kepada sang ibu. Kepada emak.

Anwar menyiapkan diri. Sudah siap apabila sang emak menyatakan tidak sanggup. Tapi jawaban yang dia dengar di luar dugaan. Bu Patmi malah mendorongnya untuk bersekolah setinggi mungkin.

“ Nak, kamu tidak usah ke sawah lagi. Kamu saya sekolahkan setinggi-tingginya sampai tidak ada lagi sekolah yang tinggi di dunia ini,” ucap Anwar terbata, karena tak kuasa menahan haru saat mengingat perkataan emaknya itu.

Perkataan itu menjadi bekal Anwar untuk melanjutkan langkah meraih mimpi. Lulus SD, dia diterima di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Kunjang. Kemudian dia meneruskan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) 2 Kediri. Salah satu sekolah favorit di Kota Tahu itu.

Saat SMA itulah dia memilih meninggalkan rumah. Dia tinggal di rumah kost, tidak jauh dari sekolah. Jarak rumah dengan sekolah memang lumayan jauh. Dia sadar pilihan ini akan menjadi beban sang ibu.

Masalah itu membuat Anwar harus memutar otak. Dia lalu memutuskan untuk tidak sarapan demi menghemat pengeluaran. Tetapi, itu bukan pilihan tepat. Prestasi Anwar turun lantaran jarang sarapan.

“ Karena tidak sarapan, setiap jam sembilan pagi kepala saya pusing,” kata dia.

Kondisi Anwar sempat terdengar oleh ibu salah satu temannya. Merasa prihatin dengan kondisi Anwar, ibu temannya itu menawari dia tinggal menumpang secara gratis. Anwar tidak perlu lagi merasakan pusing saat sekolah. Sarapan sudah terjamin dan prestasi Anwar kembali meninggi.

Lulus dari SMA 2 Kediri, Anwar lalu melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia diterima sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Elektro dan ditetapkan sebagai lulusan terbaik pada 2000. Dia kemudian mengincar beasiswa dari Panasonic dan ingin melanjutkan ke jenjang magister di sebuah universitas di Tokyo.

Sayangnya, Anwar tidak lolos seleksi universitas tersebut. Dia merasa malu dan tidak ingin dipulangkan. Alhasil, dia memutuskan beralih ke Nara Institute of Science and Technology NAIST dan diterima.

Di universitas tersebut, Anwar mengembangkan tesis mengenai teknologi transmitter dan menggarap disertasi bertema sama dalam program doktoral di universitas yang sama pula.

Dan Anwar, kini telah menelurkan karya besar. Temuan yang ditertawakan itu dinikmati banyak orang. Termasuk para ilmuwan yang mengolok-olok dulu…

Sumber: Dream.co.id

« Previous PageNext Page »