Anak kecil

December 15, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Anak kecil itu biasanya dijadikan ukuran kebenaran. Potret kebenaran anak-anak bahkan lebih jitu dari pakar paling pintar, tokoh hebat penuh syahwat atau lembaga survey paling ok.

Sebab anak kecil melihat dengan mata hatinya, maka mereka bisa melihat kebenaran itu. Seperti ketika mereka melihatnya meski ada cagub nomer 1 di sekitarnya, jari jemari mereka tetap nomer 2. Itulah potret kebenaran.

KETIKA ANAK AHOK BERTANYA KENAPA PAPANYA DIJADIKAN TERSANGKA…

December 15, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

 

“Saya bilang gini sama mereka bertiga. Kalian harus bangga. Kalau ada yang bully kamu (soal tersangka) kamu harus bilang bangga tersangka bukan karena papa koruptor. Papa kamu ini lagi menegakkan NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika,” inilah jawaban Ahok pada anak-anaknya.

Jangankan anak-anak Ahok, anak-anak lain juga akan bangga mendengar jawaban Ahok. Bahkan Indonesia harus bangga. Perjuangan Ahok bukan perjuangan dirinya pribadi, tapi perjuangan bangsa ini untuk menegakkan demokrasi dan Pancasila.

Selamat berjuang Hok !

anak negeri ini

December 15, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Seiring dengan pertumbuhan anak saya yang semakin sadar lingkungan, paham situasi bangsanya – akhirnya muncul juga pertanyaan ‘heroik’ ini dari mulut my champ :

“Bagaimana caranya agar aku mencintai negeri ini ?” tanya anak lelaki saya.

“Tanamkan dalam jiwamu – setidaknya seringlah mengigatnya Nak : negeri ini sudah memberi terlalu banyak pada kita, juga padamu. Jauh lebih banyak dari yang bisa kita berikan kembali pada negeri ini.”

My champ terdiam. Pandangannya jauh menerawang ke depan. Semoga yang saya sampaikan bisa mengukir jiwanya, sebagai anak negeri ini.

anak tangga

October 25, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Setiap anak tangga akan membawa kita ke tempat tertinggi. Masalahnya, apakah kita bersedia mendaki setiap anak tangga itu…..

ANAK HARAM ITU DIUKIR OLEH TUHAN

October 25, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

 

Memangnya kenapa seandainya anak haram ? Anak haram juga anak manusia, anak kehidupan, dan diukir oleh tangan-NYA.

Sungguh gegabah jika kau melecehkannya – padahal dia juga hasil karya tangan-NYA. Dia diukir sendiri oleh tangan-Nya. Dia menjadi ‘haram’ – dengan ukuran manusia. Dia tak pernah meminta dilahirkan sebagai anak ‘haram’. Ulah kalian manusia dewasalah – langsung atau tidak – yang membuatnya disebut ‘haram’. Itupun menurut ukuran kalian sendiri. Sungguh gegabah. Sudah sedemikian sucikah dirimu menyebut ‘haram’ seorang anak ukiran tangan-NYA ? Padahal anak ‘haram’ itulah yang suci ketika dilahirkan.

Bukankah kebijaksanaan seseorang diukur dari sikapnya terhadap hal-hal semacam ini ? Bukankah sering kau ajarkan tentang cinta ? Ke mana cintamu terbang ?

PRESIDEN SAHABAT ANAK

July 17, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Presiden yang satu ini paham betul – puluhan tahun lagi – ketika generasi yang sekarang lenyap, pada pundak anak-anak inilah nasib bangsa Indonesia dipertaruhkan.

Dan sebagai RI-1, posisi dan peran paling tepat untuk ditanamkan ke dalam hati sanubari anak-anak iniadalah ‘Presiden sahabat anak’. Kesan ini akan membuat mereka selalu tegar dan berani menatap serta menggenggam masa depan – baik dirinya maupun bangsanya. Kenapa ? Sebab mereka merasa memiliki seorang sahabat istimewa dalam hidupnya, yaitu orang tertinggi di republik ini. Sang RI-1.

Dalam hal ini, Presiden bukan mengambil peran yang hebat, tapi peran yang mulia.

HORMATILAH ANAK PEREMPUANMU

May 16, 2016 by  
Filed under CORETANKU DI KOMPAS

Kompas, 16 Mei 2016

Oleh : Herry Tjahjono

 HORMATILAH ANAK PEREMPUANMU     

13244619_1059127247487097_1311906343567236945_nTragedi Yuyun masih menyisakan kemarahan publik, namun hari–hari ini kita sudah dikejutkan lagi dengan berita perkosaan dan pembunuhan Mistianah (10 tahun) yang diperkirakan terjadi pada 14 April 2016,  di Lampung Timur  – yang nyaris luput dari perhatian. Namun perlu disadari bahwa  kemarahan belaka tak akan menyelesaikan masalah. Memang secara aktual, kita sangat marah ketika membaca berita bahwa sebagian pelaku yang masih dibawah umur  itu sudah sedemikian rusak pribadinya  – ketika mereka berlagak ikut menggali kubur dan sebagainya. Kemarahan memuncak ketika tanpa rasa bersalah mereka cengengesan menghadapi penyelidikan polisi.  Demikian juga kita marah pada dua pemuda yang menculik Mistianah, lalu memperkosa dan membunuhnya.  

Khususnya kasus Yuyun, kemarahan kita bereskalasi ketika ada anggota DPR yang sekilas mengutuk para pelaku namun pesan utamanya justru “menyalahkan” korban :  kenapa berjalan sendirian di pinggir kebun yang sangat sepi dan membuka ruang bagi para pelaku untuk berbuat jahat.  Tanpa menunggu waktu lebih lama, anggota DPR itu di-bully habis-habisan di media sosial. Terlepas  masih ada anggota DPR yang baik dan punya integritas – tapi siapa yang bisa membantah bahwa legitimasi moral DPR berada di titik nadir di mata masyarakat ? Apa yang bisa diharapkan dari anggota DPR jika integritas mereka secara umum remuk-redam.

DPR – di mata rakyat – sudah tak punya legitimasi moral.  Konsep psikologi dan spiritualisme mempertanyakan :  dari pohon yang buruk mana mungkin diharapkan buah yang baik ? Legitimasi moral mereka terkait perilaku seksual juga dipertanyakan mengingat berbagai kasus penyimpangan seksual yang dilakukan oknum-oknum anggota DPR sering menjadi buah bibir masyarakat. Jadi, bagaimana bisa diharapkan mereka menghasilkan sikap dan kinerja  (produk UU) yang baik terkait seksualitas ?  (Logika ini juga berlaku untuk kasus-kasus lainnya termasuk  korupsi).

Kita juga marah dengan kemungkinan hukuman yang tidak akan maksimal bagi para pelaku. Kita maunya hukuman itu maksimal – kalau perlu super maksimal – apapun bentuknya. Sebab secara psikologis, kita semua bergidik  membayangkan penderitaan mereka  (baik  Yuyun maupun Mistianah) – baik sebelum meninggal, sampai dia meninggal serta  dibuang begitu saja. Dan jangan lupa, kasus Yuyun dan Mistianah ini hanya puncak gunung es.

Secara prinsip – kalau mau jujur – kita semua agak pesimis dengan upaya-upaya yang bersifat sistemik dan struktural selama ini. Baik itu dari sisi perbaikan regulasinya, eksekusinya, dan lainnya. Namun berhenti pada kemarahan dan apalagi pesimisme – juga tak berguna. Lalu, apa yang bisa kita lakukan ?  Bagi saya,  jika kita belum bisa berkontribusi  langsung untuk : menyelesaikan kasus Yuyun, menghentikan  kasus-kasus serupa di masa mendatang, memperbaiki atau bahkan merombak  DPR, menyempurnakan pranata hukum termasuk eksekusinya – maka marilah kita berkontribusi secara tidak langsung.

Jika cara-cara sistemik-struktural belum bisa efektif secara cepat, maka dalam perilaku psikologi massa : cara mobilisasi sosial (horisontal) adalah yang efektif untuk diupayakan. Yang perlu kita bangun adalah ‘budaya menghormati perempuan’. Semua wacana yang bermunculan atas kasus Yuyun (dan Mistianah) – secara tidak sadar – bermuara pada budaya yang kurang / tidak menghormati perempuan.

Pada dasarnya, perempuan masih ditempatkan sebagai ‘obyek’ secara sosial. Tajuk rencana Kompas (7 Mei 2016) menyebutkan : hasil survey menguatkan keyakinan selama ini bahwa kekerasan seksual atau pemerkosaan merupakan wujud subordinasi dan relasi tidak setara perempuan dan laki-laki. Pemerkosaan adalah bentuk kontrol laki-laki terhadap perempuan; laki-laki merasa berhak pada tubuh perempuan. Dan kekerasan bisa terjadi di mana-mana, di ruang publik atau ruang privat. Belum lagi cara pandang sebagian masyarakat yang justru menyalahkan perempuan, misalnya ungkapan soal cara berpakaian, riasan, atau perilaku perempuan yang menggoda. Sikap permisif masyarakat terhadap lunaknya hukuman bagi pelaku juga  berperan.

Prinsipnya, semua berhubungan dengan “tata nilai” (values system) dalam masyarakat. Dan pada dasarnya, membangun budaya adalah membangun serta mengelola nilai- nilai. Maka ada dua hal penting yang mendesak perlu dimobilisasikan bersama : 1) Membangun budaya keluarga (family culture). Secara praksis, budaya diartikan sebagai values in action. Budaya adalah nilai-nilai yang mewujud dalam tindakan keseharian. Maka yang perlu kita bangun lebih dulu adalah budaya keluarga – sebagai upaya mobilisasi sosial paling dekat dan cepat.  Budaya keluarga : bagaimana kita mewujudkan nilai-nilai keluarga itu dalam perilaku keseharian setiap anggota keluarga.

Dan keluarga sebagai sebuah organisasi  sosial terkecil dalam masyarakat – perlu memiliki core value (nilai inti) – yang dalam konteks ini adalah nilai untuk menghormati perempuan. Ucapan Malala Yousafzai – aktivis muda pendidikan perempuan dan pemenang Nobel bidang perdamaian 2014 dari Pakistan  berikut ini akan menggetarkan kita semua : “Honor your daughters. They are honorable.” Secara esensial, ungkapan itu sesungguhnya bicara tentang nilai-nilai untuk menghormati perempuan, yang dimulai dengan penghormatan kepada anak perempuan kita. Jadikan nilai “penghormatan terhadap (anak) perempuan” sebagai salah satu nilai inti keluarga, yang terus menerus diejahwantahkan dalam berbagai perilaku serta interaksi keluarga sehari-hari.

2) Secara konseptual diyakini, pembangunan budaya organisasi (termasuk keluarga) yang paling efektif adalah melalui eksekusi kepemimpinan – terlebih lagi jika konteksnya adalah mobilisasi sosial. Lalu, siapakah pemimpinnya ? Jawabannya sederhana : setiap kepala keluarga (orang tua) merupakan pemimpin. Merekalah yang wajib membangun dan mengelola nilai inti penghormatan kepada (anak) perempuan ini –  yang pada gilirannya adalah penghormatan pada istri, ibu, saudari, sahabat perempuan, dan semua perempuan. Merekalah yang berdiri sebagai garda depan dengan menyosialisasikan, mengkampanyekan, menjalankan, dan memberikan teladan bagaimana nilai-nilai penghormatan kepada “anak perempuan” itu diejahwatahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pembahasan ini adalah soal pembangunan peradaban jangka panjang, melalui nilai-nilai kehidupan yang menghormati perempuan – siapapapun mereka. Ada dikatakan bahwa perempuan adalah tiang Negara. Bahkan Napoleon Bonaparte  mengatakan :  “ Seorang Ibu menggoyang ayunan dengan tangan kanannya dan dunia dengan tangan kirinya.”  

Negara, dunia, dan peradaban sangat membutuhkan perempuan – dan betapa jahatnya kita jika pada saat yang sama budaya kita sangat merendahkan, mengobyekkan dan menghancurkan perempuan ? Kitalah sesungguhnya penghancur peradaban masa depan itu, ketika kita permisif, pasif, dan hanya bisa reaktif – setiap kali kejahatan (seksual) terhadap perempuan terjadi. Bangunlah budaya menghormati perempuan itu sejak sekarang, dimulai dari diri dan keluarga masing-masing.

***

DSC_0861_1Herry Tjahjono
Corp. Culture Therapist