Louis Braille dan Warisan Berharganya bagi Orang Tunanetra

January 10, 2019 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

“If my finger is the sky,
Then under it the fields prosper.”
John Lee Clark lahir sebagai tuli. Keadaan itu adalah “warisan” yang diterima dari kedua orang tuanya. Setiap saat, Clark berkomunikasi menggunakan Bahasa Isyarat Amerika (American Sign Language). Tapi kemudian keadaan berubah. Clark ternyata mewarisi pula sindrom usher, penyakit genetik yang bisa menghilangkan bukan hanya kemampuan pendengaran tapi juga penglihatan. Ia pun kehilangan satu lagi inderanya: penglihatan.

Kehilangan kemampuan penglihatan bukan akhir hidup bagi Clark. Di Minnesota State Academy for the Deaf, ia putar arah. Karena tak mungkin meneruskan studi mendalam soal bahasa isyarat, Clark mengambil kelas khusus Braille—suatu kode khusus yang merepresentasikan huruf bagi orang-orang buta seperti dirinya.

Mempelajari Braille memberikan hidup baru bagi Clark. Ia menjadi sastrawan yang lumayan produktif. Selain menerbitkan kumpulan esai Where I Stand: On the Signing Community and My DeafBlind Experience (2014), Clark pun merilis kumpulan puisi yang salah satunya bertajuk “Suddenly Slow”, yang nukilannya tertera di atas.

Clark beruntung. Ia lahir selepas Braille ditemukan. Dalam The Blind in French Society from the Middle Ages to the Century of Louis Braille (2009) yang ditulis Zina Weygand, orang-orang buta pada abad pertengahan hidup sebagai masyarakat kelas dua, apapun latar belakang mereka. Secara umum, orang buta abad pertengahan hanya bisa hidup di dalam rumah dan mengandalkan orang lain.

Keadaan kehilangan penglihatan kala itu tak cuma urusan penyakit atau kecelakaan. Banyak kasus yang memperlihatkan bahwa kebutaan bisa disebabkan oleh kebiadaban pelaku kriminal. Dan karena Braille belum ditemukan, sukar bagi orang-orang yang kehilangan penglihatan beranjak dari nasib malang mereka.

Maka, atas keberuntungan yang diraih Clark, ia sudah sepantasnya mengucap terima kasih pada Louis Braille, penemu Braille.

Metode Paling Sederhana

Dalam makalah berjudul “The Story of Louis Braille” (2009), John D. Bullock mencatat Louis Braille lahir pada 4 Januari 1809 dalam keadaan sehat wal afiat. Ayahnya, Simon-Rene Braille, merupakan pengrajin alat-alat berkuda dan bekerja di ruang khusus di rumahnya. Braille kecil senang bermain-main di tempat kerja ayahnya itu.

Suatu ketika, kala usianya menginjak 3 tahun, Braille terjatuh saat bermain dengan perkakas milik ayahnya. Sial, salah satu perkakas menancap tepat di mata kanan Braille. Ia pun buta sebelah.

Kemalangan tak berhenti. Braille menderita sympathetic ophthalmia, yang membuat mata kirinya bernasib sama dengan mata kanannya. Pada usia 5, Braille buta sepenuhnya.

Mengerti bahwa pendidikan sangat penting bagi anaknya, sang ayah tetap memaksa memasukkan Braille ke sekolah dasar kala usianya mencukupi. Tapi Braille kesulitan belajar karena kondisi matanya. Di sekolah umum, praktis Braille belajar hanya dengan mendengarkan guru. Dan ketika kurikulum mewajibkan seluruh siswa membaca, Braille keluar.

Keberuntungan akhirnya menyapa Braille. Di usia 10, remaja buta itu memperoleh beasiswa untuk bersekolah di Royal Institution for Blind Youth, Paris. Di sekolah itu, Braille diajari cara membaca tulisan menggunakan metode yang dikembangkan Valentin Hauy, pendiri sekolah. Sayang, metodenya susah dimengerti dan dipelajari. Braille gagal menyelami dalamnya ilmu pengetahuan karena ketidakmampuannya membaca.

Hingga tibalah saat itu. Mantan kapten artileri Perancis bernama Charles Barbier berkunjung ke sekolah. Barbier memperkenalkan “night writing,” suatu kode pengiriman pesan bagi orang lain dalam keadaan gelap gulita. Kode ini populer digunakan tentara tatkala perang di malam hari. Dengan memanfaatkan titik-titik yang timbul di kertas, penerima pesan bisa memahami apa yang disampaikan.

Vincent Ng Lau dalam “Regular Feature Extraction for Recognition of Braille” (1999) menyebut bahwa night writing merupakan kode yang disusun atas matriks/sel 12 titik, dengan dua titik mendatar dan enam titik menurun. Tiap matriks tersusun atas kombinasi titik yang merepresentasikan bunyi. Ketika night writing dikenalkan pada Braille, remaja itu “melihat” bahwa inilah jawaban atas keterbatasan yang menimpanya, dan orang-orang buta lainnya.

Sayangnya, night writing punya beberapa kelemahan. Masih dalam tulisan Lau, Braille menyadari night writing merupakan kode yang merepresentasikan bunyi, bukan huruf. Artinya, metode itu sukar diimplementasikan menjadi kode universal. Lalu, karena night writing tersusun atas matriks 12 titik, susah bagi pembacanya merasakan seluruh titik dalam sekali sentuh. Akhirnya, di usia ke-12, Braille bertekad memodifikasi night writing.

Menginjak usia ke-15, Braille sukses memodifikasi metode tersebut. Matriks 12 titik diubah menjadi matriks 6 titik. Pengerucutan ini dilakukan agar para pembaca dapat memahami tiap matriks hanya dalam sekali sentuhan. Pembeda lainnya ialah tiap matriks tersusun atas titik yang merepresentasikan huruf-huruf di alfabet, bukan bunyi. Dalam kertas ukuran normal, 11×11 inci, karena telah disederhanakan, dapat termuat 1.000 karakter yang dibuat dengan kode Braille.

Namun, pembuatnya harus hati-hati. Matriks Braille tersusun atas dua titik mendatar dan 3 titik menurun. Pada dua titik mendatar, jarak titik tak boleh lebih dari 4 milimeter. Lebih dari jarak itu pengguna akan sukar membaca huruf apa yang direpresentasikan matriks.

Untuk memudahkan masyarakat memahami temuannya, Braille menerbitkan Method of Writing Words, Music, and Plain Songs by Means of Dots, for Use by the Blind and Arranged for Them (1829). Itu adalah buku yang dicetak dengan sistem aksara ciptaan Braille sekaligus buku pertama di dunia yang bertuliskan huruf Braille.

Pada 1834, kala Braille menginjak usia 25, ia mendemonstrasikan hasil kerjanya pada Raja Louis-Philippe dan berharap agar ciptaannya dapat disebarluaskan untuk menolong orang-orang buta agar bisa berkomunikasi dan memperoleh informasi dengan mudah. Sayangnya, sang raja tak merestui temuan Braille.

Penolakan raja akhirnya membuat matriks enam titik hanya digunakan kalangan terbatas, dalam lingkup orang-orang yang mengenal Braille. Hingga ia meninggal pada 6 Januari 1852, tepat hari ini 167 tahun lalu, matriks enam titik itu gagal menyebar luas.

Barulah dua tahun selepas kematian Braille, pemerintah Perancis menyetujui penggunaan kode matriks enam titik sebagai alat komunikasi orang-orang buta. Pemerintah lantas menyebut kode itu sebagai “Braille.”

Tiga tahun berselang, dalam World Congress for the Blind, Braille didaulat sebagai standar sistem membaca dan menulis.

Tak Sebatas Braille

“How the Blind ‘See’ Braille: Lessons From Functional Magnetic Resonance Imaging” (2005), paper yang ditulis Norihiro Sadato, menjelaskan bagaimana seseorang bisa memahami suatu bentuk komunikasi. Katanya, untuk memahami sesuatu, manusia memiliki dua “alat”: tactile information atau primary visual cortex (V1) dan primary somatosensory cortex. Keduanya mentransformasikan informasi pada otak selepas memperoleh informasi melalui mata dan kulit. Kedua alat ini mengirim informasi pada otak melalui jalur berbeda di cerebral cortex, suatu area dalam otak.

Pada kasus orang-orang yang membaca menggunakan Braille, informasi dikirim oleh primary somatosensory cortex, yang mengubahnya dalam bentuk informasi taktil sederhana bersifat leksikal dan semantik. Pada akhirnya, meski tak memiliki kemampuan melihat, orang-orang buta bisa memahami suatu informasi dengan mudah, dibantu dengan Braille.

Namun, meski terlihat mudah, membaca dan memahami menggunakan Braille butuh kemampuan kognitif yang kompleks. Pemakainya harus mampu menggerakkan jemari dengan presisi, mampu mempersepsikan titik timbul yang dirasakan, hingga harus bisa mengenali pola.

Infografik Mozaik Braille

Dalam perkembangan zaman, teknologi memudahkan orang-orang berkebutuhan khusus untuk dapat berkomunikasi. Pada 2005 Apple merilis VoiceOver, teknologi screen reader atau pembaca informasi di layar, untuk memudahkan orang-orang buta berkomunikasi menggunakan perangkat-perangkat Apple.

VoiceOver merupakan fitur pembaca segala tulisan maupun tombol yang ada di layar. Ia hadir secara langsung di perangkat Apple. Fitur ini mampu membaca 0,66 kata per menit dan hadir pertama kali di sistem operasi Mac, OSX 10.4.

Pada 2009 VoiceOver hadir pada perangkat iPhone dalam seri iPhone 3GS dan iPod varian Shuffle. Tahun berikutnya, saat iPad pertama kali diluncurkan, VoiceOver juga disematkan pada perangkat ini.

Melalui VoiceOver, pengguna smartphone dapat melakukan hampir segala kegiatan di berbagai perangkat Apple. Memakai WhatsApp, misalnya. Segala tombol yang ada di WhatsApp, bahkan pesan yang terkandung di dalamnya, bisa dibacakan oleh VoiceOver.

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Ivan Aulia Ahsan
Sumber: tirto.id