BUDAYA OKOL BURUH

February 4, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Buruh lebih suka pakai budaya okol / otot dalam upaya mencapai tujuannya. Lewat pengerahan massa besar-besaran. Memang diatur dalam UU soal ini. Tapi secara substansial, sahabat buruh lupa – budaya okol seperti yang mereka andalkan selama ini tak akan pernah menghasilkan apapun secara substansial juga.

Mereka lupa, secara akumulasi jangka panjang – budaya okol ini akan kontraproduktif bagi kehidupan bisnis di negeri tercinta. Sederhana saja, siapa sih pengusaha, investor luar yang suka dengan budaya okol ? Jadi setiap kali mereka berdemo dengan pengerahan massa besar-besaran yang kadang anarkis dan merepotkan masyarakat umum – mereka mencuri tabungannya sendiri. Di era digital seperti sekarang ini – bahkan rencana demo mereka saja sudah saat ini sudah menyebar ke seantero dunia. Saya berani bertaruh, sekian persen dari investor itu langsung mengurungkan niatnya untuk datang ke Indonesia – meski cuma dalam hati mereka.

Dan ketika niat diurungkan, tabungan itu sudah berkurang.

Lalu, yang tak kalah penting untuk dipahami: BAHASA DIPLOMASI / NEGOSIASI TINGKAT TERTINGGI DAN PALING AMPUH ADALAH BERLANDASKAN PRINSIP :
“MEMENANGKAN HATI ORANG LAIN AKAN SELALU LEBIH HEBAT DARI KEKUASAAN SEBESAR APAPUN.”
JADI HARAP DISADARI, BUDAYA OKOL BURUH SELAMA INI TAK PERNAH MEMENANGKAN HATI SIAPAPUN – KECUALI MEREKA SENDIRI (ITUPUN BUKAN MEMENANGKAN, TAPI SEKADAR MEMUASKAN HATI MEREKA SENDIRI).

DAN JIKA TIDAK MEMENANGKAN HATI SIAPAPUN, MAKA KEMENANGAN TAK AKAN PERNAH DIRAIH.
www.haritrang.co.id

DSC_0861_1 Herry Tjahjono
Corporate Culture Therapist

KEGELAPAN ADALAH ANUGRAH

September 18, 2015 by  
Filed under CORETANKU DI KOMPAS

“ KEGELAPAN ADALAH ANUGRAH “
Oleh : Herry Tjahjono
Terapis Budaya Perusahaan

KOMPAS, 3 September 2015

            Tamparan demi tamparan krisis semakin pedas terasa. Kehidupan semakin sulit,  rasa frustrasi menyeruak di mana-mana. Situasi krisis bernanalogi dengan kondisi kegelapan. Dan dalam kegelapan yang muncul cenderung  respon frustrasi  : meraba-raba, menabrak kanan-kiri, memaki-maki. Maka unjuk rasa buruh besar-besaran tanggal 1 September 2015  adalah sebagian dari respon frustrasi terhadap kegelapan itu

            Tapi benarkah kegelapan atau krisis harus dimaki-maki ?  Jepang, Jerman, hanya sebagian kecil contoh Negara yang menjadi besar karena mampu melewati krisis dan memenangkannya. Keduanya adalah Negara yang kalah perang dan berada dalam situasi krisis puncak saat itu – kegelapan total – namun dari sanalah mereka justru mampu keluar menjadi bangsa maju.

            Sedangkan kita bangsa Indonesia – sejak kemerdekaan – langsung menikmati anugrah alam dan negeri yang gemah ripah loh jinawi – dan berujung pada ninabobo  nyanyian “tongkat kayu jadi tanaman”. Namun bukan berarti kita tak pernah menghadapi krisis. Kita juga mengalami krisis demi krisis, tapi kita menjadi rentan terhadap krisis. Respon kita terhadap krisis atau kegelapan bukan berorientasi pada mencari titik terang, melainkan sibuk dengan kegelapan itu sendiri. Kita memaki-maki kegelapan itu, kita sibuk dengan rasa frustrasi kita. Ini bukan hanya di level rakyat, namun juga para pejabat dan pemimpin negeri ini.

          Perilaku elite yang sibuk dengan kegelapan itu sendiri  tercermin dari berbagai perilaku frustrasi : saling serang atau pertentangan antar menteri, menteri dengan wakil presiden, wakil presiden dengan presiden, mantan presiden dan presiden, wakil rakyat dengan gubernur, dan seterusnya perilaku saling incar satu sama lain, perilaku saling menyalahkan, mencari kambing hitam. Rakyat, para elite dan pemimpin sama-sama terjebak dalam kegelapan yang sama dan kesibukan yang sama.

            Korea Selatan termasuk bangsa yang piawai mengelola krisis dan memenangkannya, bahkan sikap-mental mereka mendarah-daging ke segenap dimensi kehidupan. Contoh konkrit adalah apa yang disampaikan oleh Lee Kun Hee – tokoh kunci kebangkitan Samsung : karyawan tidak boleh puas meski sedang berada di puncak,  dan harus selalu merasa dalam keadaan krisis.  Sebab, persaingan  dunia industri sangat ketat. Kesadaran akan krisis adalah sebuah kebutuhan setiap waktu. Samsung harus berpikir dan bekerja lebih keras dari sebelumnya. Dan kita sekarang tahu kenapa Samsung adalah raksasa industri yang disegani. Sementara Korea Selatan sendiri berhasil lebih dulu menjadi bangsa maju  – meski umur kemerdekaannya relatif sama dengan kita.

            Alergi kita terhadap krisis itu bahkan tercermin dari cara kita mengartikan kata krisis itu sendiri.  Cara kita mengartikan krisis ini berpengaruh besar pada cara kita menyikapi krisis. Meminjam uraian Rhenald Kasali (Kompas.com, 31 Agustus 2015) : ….di Barat, krisis dimaknai sebagai “sebuah titik belok” – for better or for worse. Di China ia sebagai wei-ji yang artinya “kesempatan” atau “peluang” dalam bahaya. Tetapi di sini, di Indonesia, John Echols dan Hassan Shadily (Kamus Bahasa Inggris-Indonesia) menjelaskan krisis sebagai sebuah situasi yang gawat, genting atau kemelut. Sebagai tambahan, dalam konteks yang lain – Dahlan Iskan secara implisit sesungguhnya berbicara tentang esensi wei-ji ini ketika mengulas kehebatan China dalam mengatasi tantangan dan krisis, termasuk krisis ekonomi saat ini – dg melakukan devaluasi terhadap yuan.

            Belajar dari sejarah dan orang-orang besar yang telah memenangkan pertempuran dengan berbagai krisis terbesarnya, perlu disampaikan dua sikap-mental terkait kegelapan atau krisis berikut :

Pertama, kegelapan bukanlah fokus melainkan setitik sinar di ujung terowongan. There is a light at the end of the tunnel. Jika kita terfokus pada kegelapan terowongan, maka respon kita ditentukan oleh kondisi yang ada dalam kegelapan itu sendiri (conditional people). Jika kondisi serba krisis, penuh tekanan, kita kehilangan spirit,  cenderung meringkuk, atau paling tidak sekadar mengamankan diri. Kita akan  menjadi pecundang kehidupan. Jalan keluar dan sukses adalah penantian, tergantung apakah kondisi berpihak pada kita atau tidak. Namun jika kita fokus pada setitik sinar terang meski di ujung terowongan, maka segelap apa pun situasi di sekeliling kita – hidup menjadi pilihan – tanpa pusing dengan kondisi kegelapan di sekitar (unconditional people). Kita yang akan menentukan untuk jadi pemenang yang tetap positif dan penuh daya hidup menyapa kehidupan.

Kedua, lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Pepatah Cina inilah yang membuat bangsa itu cenderung  mampu berkelit dari masa sulit dan terus menjadi lebih besar seusai krisis. Sedangkan kita lebih gemar mengutuk dan memaki-maki kegelapan itu sendiri, setidaknya menyalahkan nasib. Itu tidak akan merubah apa pun, baik situasi di sekitar kita –  juga tidak diri kita sendiri.

 Dalam konteks bangsa kita saat ini – pemecahan masalah krisis tidak bisa kita serahkan sepenuhnya pada para pemimpin atau pemerintah. Setiap warganegara wajib menyalakan lilinnya masing-masing. Sekecil dan sesuram apa pun lilin kita, mari mulai kita nyalakan. Sekecil apa pun yang kita punya atau mampu, mari mulai kita berikan dan kerjakan masimal. Pemerintah dan pemimpin punya kewajiban menyalakan lilin-lilin mereka sendiri. Tapi semua lilin mereka itu tak akan menyala benderang bagi bangsa ini jika kita masing-masing tidak menyalakan lilin-lilin yang kita punyai. Berhenti mengutuk kegelapan, nyalakan lilin.

Dua sikap-mental itu akan mengubah cara pandang kita terhadap kegelapan. Kegelapan atau krisis adalah anugrah, bukan lagi bencana. Saat ini sikap-mental kita masih menganggap krisis sebagai bencana. Itu sebabnya perilaku kita adalah perilaku frustrasi yang sibuk dengan kegelapan dan krisis itu sendiri. Maka yang kita lakukan dalam kegelapan hanyalah terus meraba-raba, saling tendang dan sikut, serta memaki-maki kegelapan itu sendiri.

Ketika kegelapan menjadi anugrah, maka kita akan menjadi pemenang. Jika sebaliknya, kegelapan sebagai bencana – maka nasib kita sebagai bangsa sudah tergambar jelas : pecundang.

photo-3

 

 

Herry Tjahjono

Terapis Budaya Perusahaan

 

 

SEMINAR MOTIVASI BUDAYA DENGAN TEMA : ” OUR VALUES : OUR POWER, OUR SUCCESS” DI PT INDONESIA POWER.

September 7, 2015 by  
Filed under PAST EVENTS

BERSAMA DIREKTUR SDM PT INDONESIA POWER SESUAI ACARA SEMINAR MOTIVASI BUDAYA DENGAN TEMA : ” OUR VALUES : OUR POWER, OUR SUCCESS” DI PT INDONESIA POWER.

EVERYBODY HAPPY ! EVERYBODY WINS !

HERRY_T-INDONESIA_POWER-1
HERRY_T-INDONESIA_POWER-3