PEMIMPIN BUKAN AGEN DAN PEMANDU SORAK

September 18, 2018 by  
Filed under CORETANKU DI KOMPAS

Kompas, 17 September 2018
Oleh: Herry Tjahjono

Tahun 2019 di depan mata, sebuah tahun yang ditunggu dengan harap-harap cemas oleh bangsa ini. Pileg dan Pilpres menanti di sana. Perhelatan akbar itu kembali memberi kita kesempatan untuk menemukan pemimpin-pemimpin terbaik. Dan titik krusial pemilu jarang disadari oleh rakyat, bahwa pada momen itu rakyat hendak menitipkan kuasanya. Namun pengalaman sejak era reformasi sampai hari ini : kita semua lebih sering meleset dalam menitipkan kuasa pada dimensi kepemimpinan lembaga tertentu.

Ada dua prinsip utama kepemimpinan (leadership) dalam kaitannya dengan perhelatan akbar tahun 2019 :

ILUSTRASI: CHEER GROUP

Pertama – Leadership is not dealership. Dealership (keagenan), secara konstekstual ternyata memang berhubungan dengan leadership. Namun ini bukan cuma soal otak-atik kata leader menjadi dealer. Secara substansial memang bisa dianalisa : pemimpin yang tak mau dan tak mampu menunjukkan tipikal (dan kualitas) leadershipnya – maka ia hanya akan menjadi pemimpin dengan tipikal (dan kualitas) dealership. Berikut akan diuraikan tentang dealership terkait kepemimpinan, sehingga kita bisa melihat dengan jelas, bahwa selama ini kita hanya dipimpin oleh sebagian pemimpin tipikal dealership (keagenan) yang menyedihkan.

Arti harfiah menurut kamus, dealership is an authorized seller – seseorang atau badan yang mendapatkan otorisasi untuk mendistribusikan atau menjual barang / jasa di daerah tertentu. Dan jika kita perhatikan – pengertian “dagang atau bisnis” itulah yang terjadi pada para pemimpin bangsa selama ini. Mereka menerima otorisasi kekuasaan dari rakyat pemilihnya dan mereka menjual-belikan kekuasaan itu seenaknya. Dealership para pemimpin itu mengejahwantah dalam beberapa gejala kekuasaan berikut :
1) Mereka bekerja dengan prinsip transaksional ! Semuanya dijalankan berdasarkan transaksi-transaksi tertentu yang tujuannya jelas : taking advantage, mencari keuntungan bagi diri sendiri – bukannya giving advantage sebagai prinsip dasar kepemimpinan. Prinsip kerja ini bahkan memlesetkan makna hidup (meaning of life) : bahwa kehidupan, pekerjaan, mandat justru harus bisa memberikan “makna” (manfaat) bagi dirinya selaku pemimpin, padahal seharusnya merekalah yang memberikan makna pada kehidupan. Itu sebabnya para pemimpin tipe keagenan ini tak lebih dari parasit kehidupan. Berbagai kasus korupsi para pemimpin, penyelewengan kekuasaan, ketidakmampuan dalam memimpin, adalah refleksi dari para pemimpin dealership yang orientasi kepemimpinannya hanya pada kepentingan diri sendiri.

2) Pemimpin tipe keagenan tak punya keikhlasan, mereka penuh kepalsuan ! Mengadaptasi pemikiran Prof. Dr. H. Imam Suprayogo – mantan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang – dalam pemaparannya (Beberapa Prinsip Dasar Kepemimpinan) : bahwa pemimpin yang menjalankan peran sebagai broker (baca : dealer), hanya dipenuhi oleh kepalsuan. Dan dengan gamblang kita bisa menatap dan sekaligus merasakan, demikian banyak pemimpin berhati palsu yang hanya bisa berkoar-koar, cari muka, penuh janji tak berdasar, omong doang, pencitraan, populis, provokatif – di berbagai pemberitaan – baik media cetak, televisi maupun media sosial.

Kedua – Leader is not cheerleader. Pemimpin tipe pemandu sorak ini tidak menjalankan tugas-tugas pokok kepemimpinan, seperti memberi arah, menggerakkan, mengawasi, memotivasi demi mencapai tujuan bersama (esensial) – melainkan fokus pada menciptakan suasana ramai dan hingar-bingar bersama dalam organisasi yang dipimpinannya (sensasional).

Ada dua ciri menonjol pemimpin tipe pemandu sorak :
1) Mengadaptasi pakar kepemimpinan Harvey Schachter ; seorang pemimpin terutama harus memberikan hasil, tapi pemimpin tipe pemandu sorak lebih menjaga ego (status, jabatan) dalam prioritas kepemimpinan mereka. Pemimpin pemandu sorak akan cenderung mendukung siapapun yang bisa ikut melindungi ego (status, jabatan) mereka daripada mendukung orang-orang yang punya kontribusi terhadap hasil. Maka jangan heran dengan oknum anggota dewan, misalnya – yang suka berteriak kencang dan miring membela sekelompok orang yang dianggap bisa melindungi ego mereka secara massal. Ini bukan soal esensial, melainkan sensasional. Mereka tak peduli jika tak menghasilkan apapun selama jadi pemimpin.

2) Pemimpin tipe pemandu sorak lebih suka mengambil keputusan yang mengedepankan harmoni meski tak esensial, karena mereka cenderung menghindari konflik dan ketidaksetujuan. Mereka tidak peduli jika keputusan tak esensial itu sama sekali tidak produktif, selama harmoni bisa dijaga. Itu sebabnya keberanian pemimpin tertinggi bangsa ini untuk mengambil beberapa keputusan tak populis dan beresiko tinggi namun produktif – perlu mendapatkan apresiasi dan dukungan dari rakyat. Di jaman ini, di negeri ini, lebih banyak pemimpin tipe pemandu sorak berkeliaran di segenap dimensi organisasi bangsa.
Menjelang tahun 2019 ini – terkait dengan konteks tulisan ini – betapa perlunya kita sebagai rakyat pemilih bekerja ekstra keras untuk menyeleksi para calon pemimpin (baik legislatif maupun eksekutif) yang setidaknya memiliki rekam jejak sebagai berikut :

Pertama, pemimpin dengan kepemimpinan berlandaskan giving principle : mereka yang bersedia memberi lebih dulu, bukan mengambil lebih dulu. Ini tak melulu berkaitan dengan materi, uang – namun juga etos kerja. Carilah pemimpin yang mendahulukan pekerjaan mereka daripada status dan imbalan, yang punya rekam jejak mau bekerja dengan ikhlas, bekerja keras meski tak diawasi, atau tak terlalu berhitung dalam bekerja.

Kedua, pemimpin yang tak punya jiwa “agen” – sehingga mereka bersedia memaknai kekuasaan yang dipercayakan sebagai amanah. Sebagai amanah, mereka akan memimpin dengan prinsip transendental. Mereka bukan memimpin “hanya” untuk kemaslahatan bangsa, rakyat dan Negara – melainkan demi memuliakan Tuhan. Dan semua kemaslahatan yang terjadi sebagai output tak lebih dari konsekuensi logis dari upaya kepemimpinannya memuliakan Tuhan. Kekuasaan, bagi mereka hanyalah sarana untuk memuliakan dan menyenangkan Tuhannya – bukannya diri sendiri, kelompok atau partai. Jika mereka mau memuliakan Tuhan, akan lebih mudah mereka memuliakan rakyatnya.

Ketiga, carilah pemimpin yang siap dihujat demi kebenaran. Bukan pemimpin yang mencari harmoni dan popularitas demi melindungi kursi jabatan, status atau harta yang mereka kumpulkan. Dalam kriteria ini sudah terkandung prinsip integritas yang sangat diperlukan dalam sebuah kepemimpinan. Tanpa integritas, seorang pemimpin tak akan mau mengejar kebenaran dalam memimpin. Integritas adalah satunya kata dan laku.

Perhelatan akbar itu sudah di depan mata, tentu tak mudah mendeteksi dan memilih para pemimpin sesuai uraian ini. Namun setidaknya – uraian ini diharapkan bisa memberikan bekal agar kita tidak memilih seadanya, minimalis, atau sekadar memenuhi hak konstitusional. Pada jari kita ada kewajiban konstitusional : untuk memilih dengan penuh tanggungjawab sebagai WNI yang dewasa dan mengedepankan kepentingan bangsa ini secara utuh. Mencari para pemimpin bangsa yang bukan agen dan pemandu sorak.

***

Herry Tjahjono
CEO EMJI Group

A MAN OF HONOR: AHOK ITU MASA DEPAN, BUKAN MASA LALU

September 4, 2017 by  
Filed under BOOK GALLERY

TELAH NAIK CETAK 2 KALI DAN TERJUAL RIBUAN EKSEMPLAR KE SELURUH INDONESIA DAN LUAR NEGERI!

Ahok akan jadi membosankan jika kita membahasnya dari sisi masa lalu. Namun
akan sangat menarik dan menggairahkan jika membahas Ahok sebagai masa
depan. Ahok sebagai masa depan akan jauh lebih berguna bagi kita khususnya
generasi penerus masa depan.

Ahok masa depan adalah tentang : nilai-nilai yang melandasi perilaku seorang
Ahok baik dalam hidupnya maupun karir politiknya. Di sana kita bisa melihat
betapa asyik dan indahnya ia mencapai puncak kepemimpinannya dengan
melayani, gaya manajemen eksekusinya, jiwa altruismenya, puncak
kepemimpinan dengan melayani, menjadi manusia sejati, dan seterusnya
sehingga bermuara pada pribadi sebagai A Man of Honor.

Ahok adalah kisah tentang manusia dengan nyali rajawali, bukan nyali (anak)
ayam ketika harus menjaga dan mengawal kebenaran apapun resiko yang
dihadapi dan diterima. Dengan demikian, dia menjadi A Man of Honor
manusia bermartabat yang dihormati. Dari buku ini kita bisa belajar dan berjuang
untuk menjadi A man of honor.

 

Untuk membeli buku klik disini: https://goo.gl/jKPzvn

Rezeki Itu Ada di Langit, Bukan di Bumi!

March 25, 2017 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Oleh: Fedri Hidayat

Saya punya sate langganan , Ini sate paling enak di surabaya menurut saya. Susah cari lawannya!
Yang aneh, sate ini bukanya suka-suka. Jadi kita harus telpon dulu kalau mau ke sana. Beberapa kali saya nekad datang ke sana tanpa telepon dulu eeehhh tutup.

Saya tanya: “Kenapa cara jualannya seperti itu?
Pak haji Ramli penjual satenya menjawab: “Rejeki sudah ada yang ngatur, kenapa harus ngoyo?”
“Bukan ngoyo Pak”, jawab saya. “Bapak bisa kehilangan pelanggan kalo jualannya begitu!” “Ah, kayak situ yg ngatur rejeki aja”, katanya.”

Saya kasih dia saran, “Sebaiknya Bapak buka tiap hari! Kalau bisa malam juga buka karena banyak orang suka makan sate malam juga Pak!”, kata saya meyakinkan dia.

Pak Haji Ramli menghela napasnya agak dalam. “Hai anak muda, rezeki itu ada di langit bukan di bumi! Anda muslim kan?” tanya Pak haji sambil natap wajah saya. “Suka ngaji gak? Coba baca Quran: “Cari nafkah itu siang, malam itu untuk istirahat!”, kata Pak haji lagi meyakinkan.

“Saya cuma mau jualan siang, kalau malam biarlah itu rejekinya tukang sate yang jualannya malam. Dari jualan sate siang saja saya sudah merasa cukup dan bersyukur, kenapa harus buka sampe malam?”, Pak Haji nyerocos sambil membakar sate.

“Coba liat orang-orang yang kelihatanya kaya itu. Pake mobil mewah, rumahnya mewah. Tanya mereka, emang hidupnya enak?” “Pasti lebih enak saya karena saya gak dikejar target, gak dikejar hutang! Saya 2 minggu sekali pulang ke madura, mancing, naik sepeda lewat sawah-sawah, lewat kampung-kampung, bergaul dengan manusia-manusia yang menyapa dengan tulus. Bukan nyapa kalau ada maunya!

Biarpun naik sepeda tapi jauh lebih enak daripada naik Jaguar! Anginnya asli gak pake AC. Denger kodok, jangkrik lebih nyaman di kuping daripada dengerin musik dari alat musik bikinan! Coba Anda pikir, buat apa kita ngoyo bekerja siang-malam?
Jangan-jangan kita muda kerja keras ngumpulin uang, sudah tua uangnya dipake ngobatin penyakit kita sendiri karena terlalu kerja keras waktu muda! Itu banyak terjadi kan?

Dan… jangan lupa, Tuhan sudah menakar rejeki kita! Jadi buat apa kita nguber rejeki sampe malam? Rejeki gak bakal ketuker!! Yang kerja siang ada bagiannya, begitu juga yang kerja malam!”

“Kalau kata peribahasa, waktu itu adalah uang. Tapi jangan diterjemahkan tiap waktu untuk cari uang! Waktu itu adalah uang, artinya kita harus bisa memanfaatkan sebaik-baiknya karena waktu tidak bisa diulang, uang bisa dicari lagi! Waktu lebih berharga dari uang. Makanya saya lebih memilih waktu daripada uang!”

“Waktu saya ngobrol dengan Anda ini jauh lebih berharga daripada saya bikin sate. Kalau saya cuma bikin sate, di mata Anda, saya hanya akan dikenang sebagai tukang sate. Tapi dengan ngobrol begini semoga saya bisa dikenang bukan cuma tukang sate, mungkin saya bisa dikenang sebagai orang yang punya arti dalam hidup Anda sebagai pelanggan saya. Kita bisa bersahabat!

Waktu saya jadi berguna juga buat saya. Begitu juga buat Anda. Kalau Anda merasa ngobrol dengan saya ini sia-sia, jangan lupa ya: “Rejeki bukan ada di kantor, tapi di langit!” Begitu kata Pak Haji Ramli menutup pembicaraan.

NATAL BUKAN BUNGKUS

January 18, 2017 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Natal kali ini hanya akan menjadi ritual tahunan yang berulang jika kita tidak bisa mengubah keadaan. Dan salah satu keadaan penting yang harus berubah adalah bagaimana orang-orang yang membenci, memusuhi dan mencaci kita bisa berubah mencintai dan bersahabat dengan kita.
Namun jika perubahan drastis itu tak mudah dilakukan, cukup jika jumlah mereka yang membenci dan memusuhi kita menurun.

Dan salah satu cara untuk mengubah keadaan itu adalah dengan cara mengubah diri kita sendiri lebih dulu. Maka renungkan, apa saja yang membuat mereka membenci kita. Lalu ubahlah. Namun seandainya kita sudah baik sejak awalnya dan mereka memang memusuhi kita begitu saja, tetaplah kita mengubah diri menjadi lebih baik. Tak ada salahnya kita terus mengubah diri menjadi lebih baik, meski pada akhirnya itu tak mengubah apapun. Sebab ada yang bersuka cita dengan hal itu, yaitu DIA – yang sedang kita rayakan dengan suka cita hari kelahiran-Nya.

Natal harus diberi makna, jika tidak – ia hanya sungguh terjebak menjadi ritual kegembiraan dan bersenang-senang belaka. Semua itu hanya sensasi, bukan esensi. Semua itu hanyalah bungkus, bukan isi. Dan Natal bukanlah bungkus, ia adalah isi. Sebab Yesus mengakar pada isi itu, bukan pada bungkusnya. Yesus hanya lahir di kandang, dan Dia tak peduli – sebab bagiNya – kandang itu cuma bungkus.

Jadi sahabat, marilah kita terus mengubah diri menjadi lebih baik melalui Natal kali ini – menuju kesempurnaan – meski itu tak akan mengubah apapun. Jangan gentar, jadilah lebih baik selalu.

Hidup itu harus mikir, bukan makar !

December 15, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Hidup itu harus mikir, bukan makar !

KURUS ITU BUKAN BERARTI LEMAH, JENDRAL…!

December 15, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

LIHAT ISINYA, BUKAN SENSASINYA

October 25, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Memotret Ahok harus dari dua sudut pandang : sensasi dan esensi, bungkus dan isi. Bagi para pembencinya, yang disorot adalah bungkus, sensasinya. Bahwa Ahok Cina, kafir, kasar, kejam, dan seterusnya.

Tapi kalau mau meneliti esensi atau isinya, kita harus jujur mengakui, apa yang dilakukan Ahok adalah untuk Jakarta dan rakyatnya yang lebih baik. Esensi atau isinya, Ahok adalah pemimpin baik yang bahkan seorang ibu tua penjual roti yang sakitpun tak luput dari perhatiannya

Jakarta – jika harus memilih – lebih butuh pemimpin dari sisi isi atau esensi, bukan bungkus atau sensasinya. Seperti gambar ketika Ahok dan istrinya sedang makan dalam sebuah undangan berikut. Ini terkait isi, bukan bungkus. Esensinya, Ahok (dan istrinya) adalah pemimpin yang bisa (me)rakyat, merasakan rakyat, dan berbuat untuk rakyat. Memang untuk melakukan itu semua, bungkusnya kadang terkesan kasar, kejam, tak adil.

Namanya juga bungkus, toh nanti akan dibuang atau berlalu. Tapi isinya akan terus dinikmati. Iya ngga ? (Kayaknya pengurus mesjid Istiqlal juga melihat Ahok sebagai isi. Makanya rencana acara silaturahim dan doa untuk pemimpin Jakarta para tokoh termasuk Mbah Amien Rais yang melihat Ahok sebagai bungkus, dibatalkan oleh pengurus mesjid. Hidup pengurus mesjid Istiqlal).

MANUSIA BUKAN TEMPE

October 25, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

 

Tes DNA mungkin adalah jawaban pragmatis untuk menyelesaikan kasus antara sang motivator dengan ‘anaknya.”

Kita asumsikan dan berandai-andai – misalkan saja terbukti bahwa ‘anak’ itu memang bukan anak biologis sang motivator. So what ? Tetap saja ‘anak’ itu dan ibunya menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup sang motivator. Kehidupan manusia tidak bisa dipotong-potong seperti tempe, lalu yang sudah kena jamur dibuang ke tempat sampah. Lenyap. Selesai.

Tidak. Kehidupan manusia adalah sebuah kesatuan utuh. Bahkan ada jiwa dalam setiap bagian itu. Manusia tidak bisa memotong-motongnya lalu membuang bagian yang dianggapnya jelek kena ‘jamur’. Manusia bukan tempe, bahkan sampai kelak jasad terkubur – tak satupun bagian akan terhilang.

Manusia disebut ciptaan-Nya yang tertinggi derajatnya. Dan ini membawa konsekuensi : bahwa hidup harus dipertanggungjawabkan secara utuh sampai akhir perjalanan.

Sahabat, tak satupun bagian perjalanan hidupmu yang terhilang. Terima dan sikapi dengan bijaksana. Anda bisa jadi bijak menyikapi setiap bagian hidup anda sendiri, tanpa harus menunggu jadi motivator top yang mengajarkan berbagai kebijaksaan hidup pada orang banyak. Atau, anda juga tak perlu menunggu pelajaran kebijaksaan dari motivator top atau siapapun untuk menyikapi hidup anda. Cukup cintai diri dan hidup anda sendiri dan terima setiap bagian perjalanan hidup anda dengan nyaman dan ikhlas. Selesai.

JOKOWI SQUAD : BUKTI, BUKAN JANJI

August 1, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Hanya dalam hitungan hari – tepatnya 5 hari sejak dijanjikan seusai pelantikannya tanggal 13 Juli 2016 – Santoso mati.

Bravo Jendral Tito ! Kita bisa berharap banyak pada Kapolri baru. Dia layak masuk ‘JOKOWI SQUAD’, menyusul Ahok dan lainnya. Para lelaki hebat : men of action.

Bravo untuk Tim Tinombala yang berjibaku di medan tempur. We are so proud of you guys..

Bukti, bukan janji. Jendral, masih banyak PR menanti.

http://www.rappler.com/…/140248-kapolri-90-persen-santoso-t…

INI SOAL AHOK, BUKAN SOAL ANTI ISLAM

July 17, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Ahok diserang oleh orang dan kelompok tertentu soal larangan takbir keliling. Padahal larangan ini sudah ada sejak jaman Foke bahkan Sutiyoso. MUI juga berpendapat sama. Tak sedikit kepala daerah lain yang juga melarang takbir keliling. Kenapa yang diserang cuma Pemprov DKI ?

Ini soal Ahok, bukan karena alasan anti Islam ! Bulan puasa, kenapa hati mereka masih diselimuti kebencian yang tak perlu ?