Dulu Satelit Palapa Pelopor ASEAN, Indonesia Kini Disalip Singapura

July 24, 2018 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

“Halo, Saudara Gubernur, selamat pagi!” Presiden Soeharto menyapa Gubernur DI Aceh saat itu, Muzakir Walad, melalui sambungan telepon.

“Ya, Muzakir di sini,” jawab Gubernur DI Aceh.

“Suaranya bisa jelas?” tanya Pak Harto kembali.

“Terang, Pak,” jawab Muzaki kembali.

Itulah potongan peristiwa percakapan saat acara peresmian pemakaian SKSD (Sistem Komunikasi Satelit Domestik) “Palapa”, 16 Agustus 1976, di ruang masuk utama Gedung DPR-MPR Senayan, seperti ditulis harian Kompas, 18 Agustus 1976.

Seremonial percakapan melalui telepon itu dilakukan untuk menunjukkan manfaat peluncuran infrastuktur satelit bernama Palapa pada 9 Juli di Cape Kennedy, Amerika Serikat. Peluncuran ini dilakukan dengan roket NASA “Delta 2941” yang terbagi atas tiga tingkatan dengan pendorong 9 roket tambahan.

Pada tahun itu, Indonesia menjadi negara pertama di kawasan ASEAN yang berhasil memiliki sistem satelit nasional sendiri. Oleh karena itu, negara tetangga di ASEAN turut memanfaatkan kehadiran “Palapa”. Saat itu, Satelit Palapa merupakan generasi A1. Setelahnya, beberapa generasi lain muncul, mulai dari B hingga D. Bahkan, pada 2021 nanti muncul generasi terbaru: Palapa-N1.

Satelit di ASEAN

Kini, bukan hanya Indonesia yang memiliki satelit domestik sendiri, tetapi juga Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Laos, dan Filipina.

Berdasarkan database dari Union of Concerned Scientists (UCS), per 31 Agustus 2017, Singapura adalah negara di ASEAN dengan jumlah satelit aktif terbanyak (10 satelit). Indonesia berada di bawah Singapura dengan 8 satelit aktif. Banyak satelit Indonesia yang tidak aktif atau mengalami perkembangan terbaru.

Infografik Periksa Data Satelit Palapa

Dari beragam tujuan penggunaan satelit, kasus yang terjadi di ASEAN cenderung didominasi dengan satelit komersial (53,1 persen). Satelit pemerintah hanya sekitar 28,1 persen. Di Indonesia, satelit dengan jenis penggunaan komersial dimiliki perusahaan seperti BRISat dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). BRISat dimaksudkan untuk membantu keterjangkauan pelayanan BRI di seluruh wilayah Indonesia.

Sementara itu, di Singapura, ada ST-2 (Singapore-Taiwan 2), yakni satelit komunikasi dari Singapore Telecommunications Ltd. (SingTel) dan Chunghwa Telecom Co. Ltd. Ini merupakan satelit komunikasi dengan daya jangkau cukup luas, tidak hanya mencakup Asia Tenggara, tapi juga Timur Tengah, Asia Tengah, India.

Infografik Periksa Data Satelit Palapa

Satelit sipil umumnya masuk dalam kategori satelit kecil (micro satelit) dengan fokus utama pada pengembangan IPTEK. Satelit generasi Velox dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura, misalnya. Selain sebagai sarana pengembangan teknologi satelit secara bertahap, satelit kecil umumnya fokus pada informasi iklim (climate satellite) atau satelit komunikasi dengan hal-hal baru (experimental communication satellite).

Selain NTU, ada kampus lain di Singapura yang mempunyai satelit: National University of Singapore (NUS). Ada Galassia dan Kent Ridge, satelit kecil yang digunakan untuk pengembangan informasi mengenai ilmu bumi. Untuk di Indonesia, pengembangan masih berpusat di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang memiliki satelit untuk pengembangan Iptek dan observasi bumi. Tiga satelit LAPAN yang aktif adalah LAPAN A2, LAPAN A3, dan LAPAN-Tubsat (LAPAN A1).

LAPAN A2, selain sebagai sarana untuk observasi bumi, juga bekerja untuk mitigasi bencana, penggunaan lahan, hingga pemantauan sumber daya alam dan lingkungan. LAPAN A3 selain memiliki misi dalam eksperimen untuk metode penginderaan jauh dan digunakan juga untuk komunikasi radio amatir. Terakhir, LAPAN-Tubsat (LAPAN A1) merupakan satelit mikro dengan kamera surveillance German DLR-Tubsat.

Infografik Periksa Data Satelit Palapa

Satelit LAPAN A2 dan LAPAN A3 termasuk satelit yang dikembangkan secara domestik: LAPAN sendiri menjadi kontraktor untuk membangun satelit itu. Umumnya, asal kontraktor satelit di ASEAN berasal dari negara maju seperti Amerika Serikat.

Perusahaan seperti Boeing Satellite Systems, Orbital Sciences Corp, Space System/Loral, dan Lockheed Martin Commercial Space Systems adalah contoh dari kontraktor satelit di wilayah ASEAN asal Amerika Serikat. Selain perusahaan Amerika Serikat, ada kontraktor seperti Thales Alenia Space dari Perancis/Italia, atau bahkan China Academy of Space Technology (CAST) dari Cina.

Amerika Serikat sendiri, berdasarkan database dari Union of Concerned Scientists (UCS) per 31 Agustus 2017, tercatat memiliki 803 dari total 1.738 satelit yang beroperasi di seluruh dunia. Cina mengoperasikan hampir seperempat jumlah milik Amerika Serikat, yakni 204 satelit, sedangkan Rusia tercatat punya 142 satelit aktif hingga saat ini.

Artinya, ketergantungan terhadap negara-negara tertentu untuk urusan satelit tidak dapat dibantah. Namun demikian, pengembangan satelit kecil dari NTU, NUS ( Singapura) ataupun LAPAN (Indonesia) sudah membuka potensi baru.

Tren Satelit Kecil

Laporan berjudul “Global Outlook 2018: Spatial Information Industry dari Australia and New Zealand Cooperative Research Centre for Spatial Information” memang menulis bahwa miniaturisasi satelit dan penyebaran satelit kecil, satelit nano, dan satelit kubus sebagai yang hal paling relevan dalam beberapa tahun terakhir (hal. 36). Hal yang sama ditegaskan juga dalam laporan “Satellite Value Chain: Snapshot 2017 dari Euroconsult”: satelit kecil semakin umum digunakan.

Hal itu masuk akal, mengingat infrastruktur satelit tidaklah murah. Pengeluaran pemerintah di wilayah ASEAN akan tampak kecil jika dibandingkan dengan negara-negara kunci di kawasan. Indonesia misalnya, menurut laporan Euroconsult 2017 dianggap mampu mengeluarkan $160 miliar (2016)—terbesar di ASEAN, tapi masih lebih kecil dari Australia ($235 miliar pada 2016). Apalagi dibandingkan dengan Cina ($4.909 miliar, 2016); Jepang ($3.018 miliar, 2016), India (1.092 miliar, 2016) dan Korea Selatan ($671 miliar, 2016).

Menurut proyeksi Global Space Launch Services Market, industri yang mencatatkan nilai sebesar $9,68 miliar pada 2017 ini akan mencapai $36,99 miliar pada tahun 2026. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi angka proyeksi itu, di antaranya: perkembangan permintaan pasar soal satelit kecil, kemajuan dalam teknologi Reusable Launch Vehicle (RLV), peningkatan misi eksplorasi ruang angkasa.

Terkait dengan tren satelit kecil ini, sudah waktunya kebanggaan akan Satelit Palapa sebagai pionir satelit domestik di ASEAN direfleksikan serta dikontekstualkan kembali. Indonesia semestinya tak sekadar membeli dan meluncurkan, tetapi juga lebih banyak mengembangkan teknologi satelit secara mandiri.

LAPAN sudah memulai dengan dua satelitnya plus satu satelit kerjasama. Selain itu, Indonesia perlu juga berkaca pada Singapura yang dua kampusnya mampu mendorong program satelit kecil. Siapkah kampus di Indonesia menyiapkan program pengembangan teknologi satelit?

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Frendy Kurniawan
(tirto.id – Teknologi)

Penulis: Frendy Kurniawan
Editor: Maulida Sri Handayani

Praktik Terbaik SDM Perusahaan di Indonesia

January 19, 2017 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Saya diminta menyumbang tulisan untuk buku “Practical Human Resources’ (Praktik Terbaik SDM Perusahaan di Indonesia) – kumpulan tulisan para profesional dan eksekutif SDM di Indonesia. Saya sangat menghargai hal ini dan berterima kasih diberi kesempatan untuk menyumbangkan tulisan.

Semoga bermanfaat bagi pengembangan dunia SDM Indonesia.

SELAMAT NATAL INDONESIA…

January 18, 2017 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Kali ini, negara sungguh hadir dalam perayaan dan ibadah Natal bangsa ini – semua berjalan lancar, aman, tertib di pelosok tanah air. Ada rasa aman….
Terima kasih Indonesia.
Selamat Natal Indonesia.

MENJADI MANUSIA SEJATI

January 17, 2017 by  
Filed under CORETANKU DI KOMPAS

Oleh : Herry Tjahjono
Kompas, Selasa, 17 Januari 2017

Life-Facebook-Status-18273

Kehidupan itu secara sederhana terdiri dari dua elemen, yakni : isi dan bungkus, esensi dan sensasi, inti dan perifer, sejati dan konsekuensi logis. Kedua elemen itu melahirkan sebuah prinsip bahwa tugas kehidupan  manusia sesungguhnya bagaimana menjadi isi, esensi, inti atau sejati. Bukan sebaliknya. Jadi tujuan hidup manusia sesungguhnya terus menerus berjuang menjadi “manusia isi, manusia esensi, manusia inti, manusia sejati”. Jika hal ini dilakukan, maka bungkus, sensasi, perifer, atau konsekuensi logis akan  hadir dengan sendirinya dalam hidupnya.

Namun dalam kehidupan modern – khususnya di negeri kita – prinsip  kehidupan di atas justru telah diputarbalikkan. Manusia sekarang lebih suka mengejar dulu bungkus, sensasi, perifer atau konsekuensi logis kehidupan. Seorang pelajar misalnya – seharusnya dia lebih dulu berjuang untuk menjadi “pelajar berisi, pelajar esensial, pelajar inti atau pelajar sejati” (bukan hanya cerdas otak, tapi juga karakter, kepribadian bahkan spiritual). Sebab jika ia sudah menjadi pelajar sejati,  maka konsekuensi logis akan datang sendirinya, seperti misalnya nilai, peringkat yang baik, atau bahkan juara.  Menjadi pelajar sejati otomatis menjadi pelajar bermanfaat, pelajar bermakna.

Tapi pada kenyataannya, dunia pendidikan sekarang (orang tua, sekolah, dan bahkan mungkin lingkungan serta pemerintah)  menuntut anak atau pelajar untuk lebih dulu mengejar nilai, peringkat, predikat juara – yang semuanya disebut sebagai “bungkus, sensasi, perifer, konsekuensi logis”.  Itu sebabnya di dunia pendidikan banyak terjadi penyimpangan –  demi berbagai konsekuensi logis itu – segala cara digunakan mulai dari nyontek, beli ijazah, joki, plagiat dan lainnya. Contoh lain adalah dalam dunia olahraga misalnya, atlit lebih dulu mengejar piala, hadiah dan uang, bukannya menjadi atlit sejati.

Pemutarbalikkan prinsip itu nyaris melanda segenap dimensi kehidupan di sekitar kita. Dan sesuai konteks tulisan ini, pemutarbalikkan itu mendapatkan resultante sempurna di dalam dimensi ekonomi dan politik – sehingga hal inilah yang membuat dinamika kehidupan ekonomi dan politik kita sering mengalami gonjang-ganjing.

Pertama, pemutarbalikkan prinsip kehidupan dalam dimensi ekonomi (dan bisnis). Para pengusaha relatif lebih mengejar konsekuensi logis, bungkus, sensasi dibanding lebih dulu berjuang menjadi pengusaha sejati. Dan kita paham, konsekuensi logis paling riil bagi pengusaha adalah profit. Merujuk Elkington (dalam Cannibals with Forks : The Triple Bottom Line in 21st Century Bussiness, 1997) yang menyinggung bahwa tanggung jawab dunia usaha sesungguhnya  mencakup ”3 P ” : profit, people, planet – dimana ketiganya mencakup  kepentingan stakeholder.

Namun dari ketiga P itu, profit  lebih mudah tergelincir ke wilayah konsekuensi logis. Profit, tentu penting dan menjadi tanggungjawab pengusaha demi kepentingan stakeholder keseluruhan. Namun secara faktual-psikologis,  keuntungan ini lebih diperlakukan sebagai konsekuensi logis yang dikejar lebih dulu. Bahkan yang sering terjadi, kedua P lainnya : people dan planet – dieksploitasi sedemikian rupa demi sebuah profit. Maka, lupakan soal menjadi pengusaha sejati. Itu sebabnya,  penyelewengan dunia usaha – baik yang terjadi di level dunia maupun level nasional – semuanya karena pemutarbalikkan ini.

Seperti halnya pelajar yang lebih dulu mengejar nilai, atau atlit mengejar hadiah – demikian pula pengusaha lebih dulu mengejar profit. Salah satu fenomena menarik adalah kaitannya dengan TA (Tax Amnesty). Program ini dilakukan karena dunia usaha Indonesia membabi-buta mengejar profit sebanyak-banyaknya, lalu mengamankannya – meski untuk itu harus menutupi pajak. Padahal kepatuhan memenuhi pajak adalah salah satu syarat menjadi  pengusaha sejati.  Maka fenomena TA di negeri kita menjadi paradoks. Di satu sisi, kita gembira dengan perkembangan TA dan berharap agar TA sukses. Namun pada saat yang sama,  hal itu juga memprihatinkan. Karena semakin sukses TA, sesungguhnya menjadi refleksi betapa langkanya pengusaha sejati di Indonesia.

Kedua, pemutarbalikkan prinsip kehidupan dalam dimensi politik. Dunia politik kita tak kalah parah, kalau tidak malah yang paling parah. Panggung politik beserta para aktornya sama sekali jauh dari prinsip menjadi ”politisi berisi, politisi esensi,  politisi inti atau politisi sejati.” Mereka lebih suka dan bahkan membabi-buta lebih dulu mengejar bungkus, sensasi, perifer atau konsekuensi logisnya, yaitu : kekuasaan.

Padahal jika bercermin dari Victor Frankl, bahwasanya kekuasaan itu hanyalah  konsekuensi logis dari upaya seseorang menjadi untuk ”pemimpin sejati”. Kekuasaan bukan tujuan, melainkan sarana untuk menjadi pemimpin atau politisi sejati. Jika seseorang sudah mampu menjadi pemimpin sejati (yang bernuansakan nilai-nilai dan kepentingan kemanusiaan, bangsa, umat manusia, rakyat) – maka kekuasaan beserta segenap kenikmatan  hidup akan datang dengan sendirinya. Tapi yang terjadi adalah sebongkah napsu dan pertanyaan : ” Apa kenikmatan kekuasaan yang bisa didapat bagi diri sendiri dulu ?” Itu sebabnya kita berlimpah politisi pengejar kekuasaan dibanding politisi sejati atau  negarawan.

Peta politisi di negeri jadi menarik sebab prinsip tujuan menghalalkan cara  sudah dianggap ”mantra” oleh mereka. Bagi mereka yang sedang mengejar kekuasaan – cenderung melakukan segala cara untuk mendapatkannya – sebab kekuasaan diperlakukan sebagai tujuan, konsekuensi logis. Selanjutnya jika sudah berkuasa, mereka juga akan melakukan segala cara (termasuk maling dan korupsi) untuk mempertahankan, mengkompensasi dan mengeksploitasi habis-habisan  kekuasaan yang ada dalam genggamannya. Dan jika sudah tiba masa meletakkan kekuasaannya (jabatannya), mereka juga  menggunakan segala cara (termasuk menghancurkan habis lawannya) agar bisa ”merebut” kembali kekuasaan yang pernah digenggamnya. Merebut, dengan cara kembali merasakan kenikmatan kekuasaan – lewat orang, kroni, famili yang dimobilisasi untuk memegang kekuasaan.

Dominasi pola hidup konsekuensi logis – khususnya profit dan kekuasaan itu kini bersimaharajalela. Semua berpikir, bersikap dan berperilaku sebagaimana ”pengusaha dengan syahwat profitnya dan politisi dengan syahwat kekuasaannya”. Sedemikian hebatnya sehingga wilayah yang seharusnya sakral, yakni : agama – juga tak luput dari dominasi  konsekuensi logis ini. Sehingga di masa kini, sudah tak mudah menemukan para pelaku agama yang sejati. Mereka lebih banyak pelaku agama sensasi, bungkus, dan seterusnya.

Meluruskan kembali prinsip hidup agar lebih dulu mengejar isi, esensi, dan kesejatian ini menjadi tanggungjawab kita semua. Baik itu pelajar, atlit, orang tua, pemimpin, menteri, wakil rakyat, presiden, pejuang LSM, agamawan – pendeknya kita semua tanpa terkecuali. Karena ini sesungguhnya menjadi tugas kehidupan individual sekaligus spiritual kita masing-masing.

Pemutarbalikkan prinsip hidup ini akan ”menular” secara generasional, dan akan sangat membahayakan generasi masa depan. Kita tak bisa membayangkan kehancuran peradaban seperti apa yang terjadi sepuluh, dua puluh atau beberapa puluh tahun ke depan – tatkala generasi penerus mutlak  dijajah oleh pola hidup konsekuensi logis. Sebab pada waktu itu,  mereka bukan hanya amnesia  – tapi juga tak peduli  – bahwa tugas kehidupan terpenting dan luhur itu salah satunya adalah lebih dulu menjadi manusia sejati.

***

DSC_0861_1Herry Tjahjono
Terapis Budaya Perusahaan

INDONESIA TAK KIAMAT OLEH SEBUAH DEMO

December 15, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Indonesia sedang panas oleh rencana demo Ahok 4 November besok ?

Ngga juga. Indonesia baik-baik saja. Ini cuma salah satu contoh kecil, kita adem ayem aja. Kunjungan indah persaudaraan dari Madrasah Aliyah Al Karimiyyah ke Gereja Katolik Maria Gunung Karmel Sumenep, Madura.

Adem ayem aja kok. Indonesia tak akan kiamat oleh sebuah demo.

#gbr : fb-nolascus-harry-chang.

INDONESIA MEMANG OYEE..2

October 25, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Selama masih ada generasi muda dan pemimpin yang meyakini Tuhan yang SATU namun bisa disembah dengan cara dan keyakinan masing-masing – lalu mereka tetap bergandeng tangan dengan mesranya – Indonesia akan baik-baik saja.

INDONESIA MEMANG OYEE..

INDONESIA MEMANG OYEE…

October 25, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Hebatnya pendidikan di Indonesia..
Sulitnya jadi Presiden di Indonesia

INDONESIA MEMANG OYEE…

 

Indonesia sungguh cari penyakit

October 25, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Jika selama ini anda berteriak lantang mempertanyakan pemberian status kewarganegaraan Arcandra Tahar, maka 531 orang ini lebih berkhianat dan berbahaya dibanding Arcandra. Mereka sudah berperang demi kepentingan negara lain.

Indonesia sungguh cari penyakit jika menerima mereka kembali – apapun alasannya.

https://islamindonesia.id/…/terjepit-di-suriah-531-mujahidi…

Wahai rakyat Indonesia..

July 17, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Wahai rakyat Indonesia..
Kejarlah cita-citamu !
Jangan kejar pokemon !

(HT, Ketum Partai Perinding)

HT = Herry Tjahjono
Ketus = Ketua Umum
Partai Perinding = Partai Persatuan Indonesia Merinding

INDONESIA MASIH ADA HARAPAN

July 17, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

INDONESIA MASIH ADA HARAPAN

Saya sangat terharu melihat video ini. Mata saya panas. Dan saya ikut bangga menjadi rakyat Indonesia, meskipun bagian dari minoritas. DAMN… I LOVE INDONESIA …..

 

Next Page »