A NATION OF HONOR: MENGGEBUK KRISIS MORAL BANGSA

April 5, 2018 by  
Filed under BOOK GALLERY

Bangsa ini sedang dihinggapi krisis moral – susah menentukan
mana baik dan mana buruk, mana benar dan mana yang salah.
Kata MT Zen, krisis moral itu bagai longsoran lawina yang meluncur
deras ke bawah dari puncak pegunungan Alpen.

Dan Jokowi hadir sebagai masa depan. Dia adalah rajawali yang
akan menggebuk krisis moral itu. Dia adalah pengemudi yang akan
membawa kita semua lolos dari krisis moral itu, bahkan membawa
kita semua mencapai tujuan hidup berbangsa dan bernegara dengan
indahnya.

Berbagai kisah dalam buku ini (kumpulan tulisan terbaik penulis
di harian Kompas dan kumpulan tulisan status penulis yang viral
di FB, serta kutipan terbaik Presiden Jokowi dan kutipan terbaik
penulis), menunjukkan betapa beruntungnya bangsa ini memiliki
pemimpin seperti dia.

Dia hanya ingin bekerja – terlepas sekian banyak srigala politik
hendak menerkamnya setiap saat – dan menyelesaikan pekerjaannya.
Itu saja. Dan itu pula sebabnya ia tak suka banyak bicara, kecuali
memang diperlukan.

Jokowi berkomunikasi dengan caranya sendiri, yaitu melalui kerja
dan kinerjanya. Ia berkomunikasi dengan rakyatnya melalui semua
karyanya yang mencengangkan.

Jokowi akan membawa kita melewati berbagai krisis moral (dan krisis
kepemimpinan) serta pada saatnya : membuka pintu gerbang
kejayaan bangsa dengan indah dan perkasa.

 

Buku ini berisikan :

1. Kumpulan tulisan terbaik penulis di harian KOMPAS selama beberapa tahun terakhir yang relevan dengan tema utama buku.

2. Kumpulan tulisan status viral penulis di FB (Facebook) mengenai pribadi, sikap, kepemimpinan Presiden Jokowi yang relevan dengan tema utama buku.

3. Kumpulan kutipan (quote) terbaik Presiden Jokowi yang berhubungan dengan tema utama buku.

4. Kumpulan kutipan (quote) terbaik penulis yang berhubungan dengan tema utama buku.

Kompilasi ke-empat hal di atas menghasilkan buku yang layak bahkan wajib dibaca oleh siapapun yang mencintai dan menginginkan kedamaian serta kejayaan bangsa ini. Buku ini sangat layak dijadikan koleksi agar bisa dibaca dan dipelajari generasi mendatang.

UNTUK PESAN SILAKAN KIRIM SMS / WA KE : SDR. ADI, NO : 0857.1803.8069. DENGAN FORMAT PEMESANAN :

MKMB#NAMA#ALAMAT LENGKAP#KECAMATAN#NO HP#JUMLAH

HARGA : RP 90.000,- + ONGKIR

TERIMA KASIH, JANGAN PERNAH LELAH MENCINTAI INDONESIA !

KEGELAPAN ADALAH ANUGRAH

September 18, 2015 by  
Filed under CORETANKU DI KOMPAS

“ KEGELAPAN ADALAH ANUGRAH “
Oleh : Herry Tjahjono
Terapis Budaya Perusahaan

KOMPAS, 3 September 2015

            Tamparan demi tamparan krisis semakin pedas terasa. Kehidupan semakin sulit,  rasa frustrasi menyeruak di mana-mana. Situasi krisis bernanalogi dengan kondisi kegelapan. Dan dalam kegelapan yang muncul cenderung  respon frustrasi  : meraba-raba, menabrak kanan-kiri, memaki-maki. Maka unjuk rasa buruh besar-besaran tanggal 1 September 2015  adalah sebagian dari respon frustrasi terhadap kegelapan itu

            Tapi benarkah kegelapan atau krisis harus dimaki-maki ?  Jepang, Jerman, hanya sebagian kecil contoh Negara yang menjadi besar karena mampu melewati krisis dan memenangkannya. Keduanya adalah Negara yang kalah perang dan berada dalam situasi krisis puncak saat itu – kegelapan total – namun dari sanalah mereka justru mampu keluar menjadi bangsa maju.

            Sedangkan kita bangsa Indonesia – sejak kemerdekaan – langsung menikmati anugrah alam dan negeri yang gemah ripah loh jinawi – dan berujung pada ninabobo  nyanyian “tongkat kayu jadi tanaman”. Namun bukan berarti kita tak pernah menghadapi krisis. Kita juga mengalami krisis demi krisis, tapi kita menjadi rentan terhadap krisis. Respon kita terhadap krisis atau kegelapan bukan berorientasi pada mencari titik terang, melainkan sibuk dengan kegelapan itu sendiri. Kita memaki-maki kegelapan itu, kita sibuk dengan rasa frustrasi kita. Ini bukan hanya di level rakyat, namun juga para pejabat dan pemimpin negeri ini.

          Perilaku elite yang sibuk dengan kegelapan itu sendiri  tercermin dari berbagai perilaku frustrasi : saling serang atau pertentangan antar menteri, menteri dengan wakil presiden, wakil presiden dengan presiden, mantan presiden dan presiden, wakil rakyat dengan gubernur, dan seterusnya perilaku saling incar satu sama lain, perilaku saling menyalahkan, mencari kambing hitam. Rakyat, para elite dan pemimpin sama-sama terjebak dalam kegelapan yang sama dan kesibukan yang sama.

            Korea Selatan termasuk bangsa yang piawai mengelola krisis dan memenangkannya, bahkan sikap-mental mereka mendarah-daging ke segenap dimensi kehidupan. Contoh konkrit adalah apa yang disampaikan oleh Lee Kun Hee – tokoh kunci kebangkitan Samsung : karyawan tidak boleh puas meski sedang berada di puncak,  dan harus selalu merasa dalam keadaan krisis.  Sebab, persaingan  dunia industri sangat ketat. Kesadaran akan krisis adalah sebuah kebutuhan setiap waktu. Samsung harus berpikir dan bekerja lebih keras dari sebelumnya. Dan kita sekarang tahu kenapa Samsung adalah raksasa industri yang disegani. Sementara Korea Selatan sendiri berhasil lebih dulu menjadi bangsa maju  – meski umur kemerdekaannya relatif sama dengan kita.

            Alergi kita terhadap krisis itu bahkan tercermin dari cara kita mengartikan kata krisis itu sendiri.  Cara kita mengartikan krisis ini berpengaruh besar pada cara kita menyikapi krisis. Meminjam uraian Rhenald Kasali (Kompas.com, 31 Agustus 2015) : ….di Barat, krisis dimaknai sebagai “sebuah titik belok” – for better or for worse. Di China ia sebagai wei-ji yang artinya “kesempatan” atau “peluang” dalam bahaya. Tetapi di sini, di Indonesia, John Echols dan Hassan Shadily (Kamus Bahasa Inggris-Indonesia) menjelaskan krisis sebagai sebuah situasi yang gawat, genting atau kemelut. Sebagai tambahan, dalam konteks yang lain – Dahlan Iskan secara implisit sesungguhnya berbicara tentang esensi wei-ji ini ketika mengulas kehebatan China dalam mengatasi tantangan dan krisis, termasuk krisis ekonomi saat ini – dg melakukan devaluasi terhadap yuan.

            Belajar dari sejarah dan orang-orang besar yang telah memenangkan pertempuran dengan berbagai krisis terbesarnya, perlu disampaikan dua sikap-mental terkait kegelapan atau krisis berikut :

Pertama, kegelapan bukanlah fokus melainkan setitik sinar di ujung terowongan. There is a light at the end of the tunnel. Jika kita terfokus pada kegelapan terowongan, maka respon kita ditentukan oleh kondisi yang ada dalam kegelapan itu sendiri (conditional people). Jika kondisi serba krisis, penuh tekanan, kita kehilangan spirit,  cenderung meringkuk, atau paling tidak sekadar mengamankan diri. Kita akan  menjadi pecundang kehidupan. Jalan keluar dan sukses adalah penantian, tergantung apakah kondisi berpihak pada kita atau tidak. Namun jika kita fokus pada setitik sinar terang meski di ujung terowongan, maka segelap apa pun situasi di sekeliling kita – hidup menjadi pilihan – tanpa pusing dengan kondisi kegelapan di sekitar (unconditional people). Kita yang akan menentukan untuk jadi pemenang yang tetap positif dan penuh daya hidup menyapa kehidupan.

Kedua, lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Pepatah Cina inilah yang membuat bangsa itu cenderung  mampu berkelit dari masa sulit dan terus menjadi lebih besar seusai krisis. Sedangkan kita lebih gemar mengutuk dan memaki-maki kegelapan itu sendiri, setidaknya menyalahkan nasib. Itu tidak akan merubah apa pun, baik situasi di sekitar kita –  juga tidak diri kita sendiri.

 Dalam konteks bangsa kita saat ini – pemecahan masalah krisis tidak bisa kita serahkan sepenuhnya pada para pemimpin atau pemerintah. Setiap warganegara wajib menyalakan lilinnya masing-masing. Sekecil dan sesuram apa pun lilin kita, mari mulai kita nyalakan. Sekecil apa pun yang kita punya atau mampu, mari mulai kita berikan dan kerjakan masimal. Pemerintah dan pemimpin punya kewajiban menyalakan lilin-lilin mereka sendiri. Tapi semua lilin mereka itu tak akan menyala benderang bagi bangsa ini jika kita masing-masing tidak menyalakan lilin-lilin yang kita punyai. Berhenti mengutuk kegelapan, nyalakan lilin.

Dua sikap-mental itu akan mengubah cara pandang kita terhadap kegelapan. Kegelapan atau krisis adalah anugrah, bukan lagi bencana. Saat ini sikap-mental kita masih menganggap krisis sebagai bencana. Itu sebabnya perilaku kita adalah perilaku frustrasi yang sibuk dengan kegelapan dan krisis itu sendiri. Maka yang kita lakukan dalam kegelapan hanyalah terus meraba-raba, saling tendang dan sikut, serta memaki-maki kegelapan itu sendiri.

Ketika kegelapan menjadi anugrah, maka kita akan menjadi pemenang. Jika sebaliknya, kegelapan sebagai bencana – maka nasib kita sebagai bangsa sudah tergambar jelas : pecundang.

photo-3

 

 

Herry Tjahjono

Terapis Budaya Perusahaan