Motor Pribadi Versus Naik Ojek Online, Mana Lebih Irit?

July 24, 2018 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Hingga pertengahan 2015, transportasi di ibukota didominasi oleh angkutan kota (angkot), bus (Metromini, Kopaja, dan TransJakarta), dan kereta rel listrik (KRL). Layanan taksi, salah satu transportasi yang bersifat privat yang tersedia. Namun, kehadiran layanan ride sharing seperti Go-Jek dan Grab, menjadi warna baru layanan transportasi di kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya.

Suka tak suka, ride-sharing seperti Go-Jek dan Grab telah merevolusi transportasi. Farhad Manjoo, pengelola kanal “State of the Art” The New York Times sekaligus penulis buku “True Enough: Learning to Live in a Post-Fact Society,” mengatakan layanan ride-sharing “sangat berpotensi menurunkan tingkat kepemilikan kendaraan pribadi”.

Prediksinya bersumber dari hasil analisis Susan Shaheen, direktur Transportation Sustainability Research Center University of California, yang mengatakan bahwa ride-sharing sukses mengurangi kepemilikan kendaraan oleh masyarakat.

Shaheen mengatakan “selama 17 tahun penelitiannya di ranah transportasi, baru kali ini perangkat mobile sukses mengubah lanskap industri transportasi.” Penurunan kepemilikan kendaraan pribadi terjadi salah satu sebabnya karena layanan ride-sharing disebut menawarkan pilihan yang lebih murah.

Benarkah?

Mari kita hitung, sebut saja Iwan, 25 tahun, bekerja di kawasan Kemang, Jakarta Selatan dan tinggal di daerah Pondok Cina, Depok. Jarak Pondok Cina ke Kemang sekitar 14 km. Dengan rute tersebut, setidaknya ada dua alternatif transportasi publik yang digunakan. Pertama, menggunakan Commuter Line, dari Stasiun Pondok Cina hingga Stasiun Pasar Minggu, stasiun terdekat ke kawasan Kemang. Kemudian dilanjutkan menggunakan Go-Jek ataupun Grab.

Biaya yang harus dikeluarkan Iwan, antara lain Rp3.000 untuk Commuter Line dan Rp8.000 untuk tarif Go-Jek atau Grab. Total rute pulang-pergi membutuhkan biaya Rp22.000. Selama sepekan aktivitas kerja, uang Rp110.000 harus dikeluarkan Iwan, atau Rp440.000 per bulan .

Alternatif kedua ialah hanya memanfaatkan layanan ride-sharing. Dari Pondok Cina menuju Kemang Go-Jek mematok tarif Rp28.000 dan Rp30.000 jika memilih Grab. Artinya, perjalanan pulang-pergi selama sebulan bekerja membutuhkan biaya antara Rp1,12 juta-Rp1,20 juta.

Bagaimana bila menggunakan kendaraan pribadi terutama sepeda motor?

Mengutip laman dealer Honda Cengkareng, motor matik mampu menempuh jarak antara 50 hingga 60 kilometer hanya dengan seliter bensin. Artinya, jarak 14 kilometer dari tempat tinggal Iwan menuju kantor, cukup ditebus dengan biaya tak lebih dari Rp10.000, dengan memilih bensin berjenis Pertalite maupun Pertamax. Dengan estimasi jarak tempuh per liter tersebut, maka hanya butuh Rp30 ribu per minggu atau Rp120 ribu per bulan.

Jika hanya melihat biaya bensin, menggunakan motor jauh lebih irit dibandingkan menggunakan layanan ride-sharing. Namun, selain biaya bensin, biaya pembelian motor serta biaya perawatan berkala wajib diperhitungkan.

Di pasaran, khusus untuk tipe matic, motor dijual secara kontan dalam rentang harga Rp15,45 juta hingga Rp22,5 juta. Melalui skema cicilan, untuk tipe Honda Vario 125, dengan cicilan hingga 35 kali, misalnya. Perlu dana sebesar Rp900 ribu per bulan.

Rata-rata biaya perawatan motor, seperti mengganti oli, dalam sebulan ialah Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Artinya, menggunakan motor pribadi sama dengan mengeluarkan uang senilai Rp980 ribu hingga Rp1,020 juta tiap bulan.

Dari total pengeluaran cicilan dan perawatan, maka dengan menambah biaya bensin per bulan sekitar Rp120 ribu, artinya biaya punya kendaraan sepeda motor sendiri dengan layanan ride-sharing relatif sama. Namun, bila aspek biaya cicilan dikeluarkan dari perhitungan, maka menggunakan sepeda motor pribadi jauh lebih hemat dari naik transportasi umum atau ride-sharing.

Namun, ada juga yang tetap memilih layanan ride-sharing karena pertimbangan lain di luar persoalan biaya. Ubaidillah Pratama, 26 tahun, karyawan startup keuangan, lebih memilih menggunakan layanan ride-sharing daripada kendaraan pribadi.

Ia mengatakan ride-sharing “lebih irit” juga lebih nyaman dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi karena ada aspek menghemat tenaga agar tak lelah di jalan. “Lalu lintas Jakarta ampun. Enggak tahu kenapa merasa lebih capek aja berkendara sendiri di Jakarta,” katanya kepada Tirto.

Berbeda dengan Ubaidillah, Indra Nur Fajar, 26 tahun, wirausahawan sekaligus mahasiswa di Jakarta ini lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan layanan ride-sharing. Alasannya sederhana karena lebih fleksibel

“Misalnya awalnya saya ke kampus, ternyata di kampus tidak ada dosennya, nah kalau saya bawa motor sendiri saya bisa mampir makan dulu di restoran atau nonton,” katanya.

infografik perbandingan biaya ojek online dan kendaraan pribadi

Ride Sharing Vs Kendaraan Pribadi

“Di banyak kota, kini sangat mudah merencanakan kegiatan tanpa kendaraan,” kata David A. King, profesor Urban Planning pada Columbia University. Layanan ride-sharing seperti Uber, Grab, hingga Go-Jek saat ini bisa diandalkan seperti yang dikatakan oleh David.

F. Todd Davidson dan Michael E. Webber, peneliti dari University of Texas at Austin, dalam ulasannya di The Conversation, sempat melakukan riset membandingkan biaya berkendara menggunakan kendaraan pribadi versus layanan ride-sharing. Mereka menyimpulkan bila seseorang berkendara lebih dari 15 ribu mil atau sekitar 24 ribu km per tahun, maka memiliki kendaraan pribadi jadi pilihan terbaik karena paling irit.

Namun, bila seseorang bepergian kurang dari 10 ribu mil atau sekitar 16 ribu km per tahun, maka menggunakan layanan ride-sharing seperti Uber jadi pilihan bijak. Namun, bila merujuk data statistik, dua peneliti tersebut mengatakan rata-rata orang Amerika berkendara sekitar 13 ribu mil atau sekitar 20 ribu km per tahun.

Dalam konteks di Amerika Serikat (AS), memiliki kendaraan pribadi, khususnya mobil, bukan perkara murah. Peneliti dari University of Texas itu menyebut bahwa setidaknya tiap pemilik mobil harus mengeluarkan kocek $16.667 per tahun. Angka itu terdiri dari berbagai pengeluaran untuk asuransi, lisensi, pajak, dan depresiasi sebesar $5.742 per tahun,

Selain itu, biaya sebesar $1.186 harus disiapkan untuk perawatan, perbaikan, ganti oli, ban. Juga biaya $1.539 untuk bahan bakar minyak (BBM), belum lagi biaya parkir hingga $1.440 untuk setiap 20 hari per bulan, $6/hari, dan $6.760 biaya untuk kehilangan jam kerja di jalanan karena kemacetan.

Hampir senada dengan apa yang diungkap Davidson dan Webber, Kyle Hill pendiristartup bernama HomeHero, diwartakan Techcrunch, mengatakan jika seseorang berkendara kurang dari 9.481 mil atau sekitar 15 ribu kilometer per tahun, lebih irit menggunakan ride-sharing seperti Uber (khususnya UberX) dibandingkan menggunakan mobil pribadi.

Menurut perkiraannya, jika benar-benar bergantung pada Uber, seorang warga Los Angeles hanya mengeluarkan biaya sebesar $18.115 tiap tahun atau sedikit di atas saat seseorang memilih menggunakan kendaraan pribadi.

Layanan ride-sharing merevolusi bagaimana masyarakat bepergian. Jika biaya layanan-layanan tersebut bisa jauh lebih ditekan lagi, kemungkinan orang akan benar-benar berpikir ulang jika hendak memiliki kendaraan pribadi. Faktor tarif layanan ride-sharing akan sangat menentukan.

(tirto.id – Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra

damai tetap jauh lebih perkasa

December 15, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Ini harus diapresiasi dan didukung. Buktikan bahwa Indonesia damai tetap jauh lebih perkasa !

perempuan memang lebih mulia dari lelaki

August 1, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Perempuan lah yang sesungguhnya menjaga kelangsungan ke-‘hidup-an’. Dia menjaga ‘kehidupan’ anak di satu sisi dan menjaga sumber ‘penghidupan’ di sisi lainnya – keduanya pada saat yang sama. Dan kekuatan mulia ini berlaku pada perempuan di belahan bumi mana pun.

Lelaki belum tentu sanggup. Itu sebabnya perempuan memang layak disebut lebih mulia dari lelaki. Dan atas kondisi ini, perempuan harus senantiasa menjaga dirinya agar berlaku mulia.

 

ISLAMKU LEBIH BAIK KARENA ROMO

July 17, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

(Itulah pengakuan seorang mahasiswa Muslim yang banyak berhubungan dengan romo atau pastor…)

Demikianlah seharusnya rohaniwan
Demikianlah seharusnya ulama
Demikianlah seharusnya para pemuka agama

Mereka seharusnya membuat umat – apapun agamanya – menjadi lebih baik dalam menjalankan agamanya masing-masing – bukan malah mengacaukannya.

Dan itu hanya bisa dilakukan oleh rohaniwan, ulama atau pemuka agama apapun yang telah memiliki kedalaman spiritual. Jika tidak, maka sebutan rohaniwan, ulama dan pemuka agama itu hanya simbol-simbol keagamaan yang menempel – bukan spiritualitas yang menyatu dalam diri.

http://bomanta.com/…/terima-kasih-romo-anda-mengajarkan-sa…/

Melihat lebih jauh

October 22, 2015 by  
Filed under CORETANKU DI KOMPAS

oleh: Herry Tjahjono
Kompas, 14 Februari 2009

Ada dua kisah nyata inspiratif yang akan saya adaptasi. Pertama tentang seorang tukang pipa (plumber). Alkisah, bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman sedang pusing karena pipa keran airnya bocor, ia takut anaknya yang masih kecil terjatuh. Setelah bertanya ke sana-kemari, ditemukan seorang tukang terbaik. Melalui pembicaraan telepon, sang tukang menjanjikan dua hari lagi untuk memperbaiki pipa keran sang bos. Esoknya, sang tukang justru menelepon sang bos dan mengucapkan terima kasih. Sang bos sedikit bingung. Sang tukang menjelaskan, ia berterima kasih sebab sang bos telah mau memakai jasanya dan bersedia menunggunya sehari lagi. Pada hari yang ditentukan, sang tukang bekerja dan bereslah tugasnya, lalu menerima upah. Dua minggu kemudian, sang tukang kembali menelepon sang bos dan menanyakan apakah keran pipa airnya beres. Namun, ia juga kembali mengucapkan terima kasih atas kesediaan sang bos memakai jasanya. Sebagai catatan, sang tukang tidak tahu bahwa kliennya itu adalah bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman. Cerita belum tamat. Sang bos demikian terkesan dengan sang tukang dan akhirnya merekrutnya. Tukang itu bernama Christopher L Jr dan kini menjabat GM Customer Satisfaction & Public Relation Mercedes Benz. Dalam sebuah wawancara, Christopher menjawab, ia melakukan semua itu bukan sekadar tuntutan after sales service atas jasanya sebagai plumber. Jauh lebih penting, ia selalu yakin tugas utamanya bukanlah memperbaiki pipa bocor, tetapi keselamatan dan kenyamanan orang yang memakai jasanya. Christopher melihat lebih jauh dari tugasnya.

Kisah lain. Ada juga kisah dari teman saya, James Gwee, tentang Mr Lim yang sudah tua dan bekerja ”hanya” sebagai door checker (memeriksa engsel pintu kamar hotel) di sebuah hotel berbintang lima di Singapura. Puluhan tahun ia jalankan pekerjaan membosankan itu dengan sungguh- sungguh, tekun, dan sebaik-baiknya. Ketika ditanya apakah ia tak bosan dengan pekerjaan menjemukan itu, Mr Lim mengatakan, yang bertanya adalah orang yang tidak mengerti tugasnya. Bagi Mr Lim, tugas utamanya bukanlah memeriksa engsel pintu, tetapi memastikan keselamatan dan menjaga nyawa para tamu. Dijelaskan, mayoritas tamu hotelnya adalah manajer senior dan top manajemen. Jika terjadi kebakaran dan ada engsel pintu yang macet, nyawa seorang manajer senior taruhannya. Jika ia meninggal, sebagai decision maker, perusahaannya akan menderita. Jika perusahaannya menderita dan misalnya bangkrut, sekian ribu karyawannya akan menderita. Belum lagi keluarganya, termasuk anak istri manajer itu.

Demikian jauh pandangan Mr Lim, dan ia bukan sekadar door checker. Beberapa pelajaran Christopher L Jr dan Mr Lim relatif manusia sejenis. Keduanya bukan kelas manusia sedang atau biasa (good people). Mereka jenis ”manusia besar atau manusia berlebih” (great people) meski jabatan atau pekerjaan formal di suatu saat demikian ”rendah dan biasa saja”. Sikap mental mereka jauh lebih tinggi dari jabatan dan pekerjaan formalnya.

Dua kisah itu memberikan beberapa pelajaran berharga. Pertama, untuk menjadi manusia besar tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan teknis seseorang mengerjakan tugasnya. Kemampuan dan kompetensi teknis (hard competence) boleh sama atau biasa saja, tetapi sikap mental atau soft competence yang lebih akan menentukan seseorang menjadi manusia besar atau tidak. Kedua, untuk bisa mempunyai soft competence dimaksud, kita perlu berontak dan bangun dari tidur panjang selama ini, keluar dari zona nyaman good. Sebagai manusia minimalis, pekerja atau pemimpin apa adanya (yang penting job description dijalankan), target kerja atau key performance indicator (KPI) tercapai, beres! Itulah tipikal manusia biasa saja. Upaya ini memerlukan pengorbanan diri sebab hanya dengan menjadi good people seperti selama ini saja, toh tak ada yang mengusik kita, tetap bisa bekerja dengan nyaman, dan seterusnya. Maka, pemberontakan untuk bebas dari kondisi good people itu harus dari diri sendiri dulu. Ingat petuah Jim Collins, good is the enemy of great. Ketiga, langkah lebih konkret selanjutnya adalah sikap mental untuk ”melihat lebih”! Christopher L Jr plumber yang ingin memastikan kliennya nyaman dan selamat. Mr Lim door checker yang ingin menjamin tamu hotelnya terjaga nyawanya dari bahaya kebakaran. Melihat lebih jauh, beyond the job! Keempat, setelah mampu melihat lebih, barulah kita mampu ”memberi lebih” (giving more). Hanya dengan melihat lebih dan memberi lebih, kita mampu menjadi manusia besar yang tidak hanya bekerja sebatas KPI. Kita akan mampu bekerja dengan memberikan key values indicator (KVI), nilai-nilai lebih, mulia, unggul, berguna bagi setiap pengguna atau penikmat hasil kerja kita. Itulah Christopher L Jr dan Mr Lim. Rindu pemimpin besar Betapa bangsa ini rindu seorang pemimpin hasil pemilu yang layak disebut pemimpin besar, great leader. Mereka yang kini sedang giat berkompetisi dan perang iklan dengan saling sorot KPI masing-masing. Perhatikan dengan saksama, maka segenap janji kampanye, termasuk realisasinya, konteksnya masih sebatas pemenuhan KPI. Ini berlaku baik bagi yang masih berkuasa maupun mantan dan juga calon yang baru. Semua bicara tentang KPI kepemimpinan, belum menyentuh KVI kepemimpinan. Para pemimpin dan bahkan kita semua demikian bangga dan terpesona sendiri saat mampu memenuhi ”KPI kehidupan” kita masing-masing, yang biasanya memang bersifat kuantitatif, materiil, dan mudah diukur. Padahal, untuk menjadi great people, great leader, great father, great manager, dan seterusnya, lebih diperlukan kemampuan mempersembahkan ”KVI kehidupan” kita, yang biasanya justru tidak mudah diukur. Bangsa ini sangat memerlukan Christoper L Jr dan Mr Lim sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Sebagai catatan akhir, seorang office boy yang mampu mempersembahkan KVI nilainya tak kalah dengan seorang CEO yang hanya memberikan KPI-nya. Jika kita ”mau” melihat lebih jauh, kita akan ”mampu” melangkah lebih jauh.
DSC_0861_1Herry Tjahjono
Corporate Culture Therapist,  Jakarta