“ MENJADI MANUSIA SEJATI “

January 28, 2017 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Saya dedikasikan artikel saya di KOMPAS hari ini (17/1/17) kepada sesama rakyat – dan khususnya para sahabat – yang semakin sulit menemukan diri sejatinya akibat kehidupan ‘ipoleksosbudaghankam’ yang semakin memprihatinkan. Mari kita terus berjuang menjadi manusia sejati, demi diri kita sendiri, orang-orang yang kita cintai, negara dan bangsa serta Tuhan itu sendiri. Jika berkenan membacanya, di bawah ini saya sertakan naskah aslinya.
………………………….

“ MENJADI MANUSIA SEJATI “

Kehidupan itu secara sederhana terdiri dari dua elemen, yakni : isi dan bungkus, esensi dan sensasi, inti dan perifer, sejati dan konsekuensi logis. Kedua elemen itu melahirkan sebuah prinsip bahwa tugas kehidupan manusia sesungguhnya bagaimana menjadi isi, esensi, inti atau sejati. Bukan sebaliknya. Jadi tujuan hidup manusia sesungguhnya terus menerus berjuang menjadi “manusia isi, manusia esensi, manusia inti, manusia sejati”. Jika hal ini dilakukan, maka bungkus, sensasi, perifer, atau konsekuensi logis akan hadir dengan sendirinya dalam hidupnya.

Namun dalam kehidupan modern – khususnya di negeri kita – prinsip kehidupan di atas justru telah diputarbalikkan. Manusia sekarang lebih suka mengejar dulu bungkus, sensasi, perifer atau konsekuensi logis kehidupan. Seorang pelajar misalnya – seharusnya dia lebih dulu berjuang untuk menjadi “pelajar berisi, pelajar esensial, pelajar inti atau pelajar sejati” (bukan hanya cerdas otak, tapi juga karakter, kepribadian bahkan spiritual). Sebab jika ia sudah menjadi pelajar sejati, maka konsekuensi logis akan datang sendirinya, seperti misalnya nilai, peringkat yang baik, atau bahkan juara. Menjadi pelajar sejati otomatis menjadi pelajar bermanfaat, pelajar bermakna.

Tapi pada kenyataannya, dunia pendidikan sekarang (orang tua, sekolah, dan bahkan mungkin lingkungan serta pemerintah) menuntut anak atau pelajar untuk lebih dulu mengejar nilai, peringkat, predikat juara – yang semuanya disebut sebagai “bungkus, sensasi, perifer, konsekuensi logis”. Itu sebabnya di dunia pendidikan banyak terjadi penyimpangan – demi berbagai konsekuensi logis itu – segala cara digunakan mulai dari nyontek, beli ijazah, joki, plagiat dan lainnya. Contoh lain adalah dalam dunia olahraga misalnya, atlit lebih dulu mengejar piala, hadiah dan uang, bukannya menjadi atlit sejati.

Pemutarbalikkan prinsip itu nyaris melanda segenap dimensi kehidupan di sekitar kita. Dan sesuai konteks tulisan ini, pemutarbalikkan itu mendapatkan resultante sempurna di dalam dimensi ekonomi dan politik – sehingga hal inilah yang membuat dinamika kehidupan ekonomi dan politik kita sering mengalami gonjang-ganjing.

Pertama, pemutarbalikkan prinsip kehidupan dalam dimensi ekonomi (dan bisnis). Para pengusaha relatif lebih mengejar konsekuensi logis, bungkus, sensasi dibanding lebih dulu berjuang menjadi pengusaha sejati. Dan kita paham, konsekuensi logis paling riil bagi pengusaha adalah profit. Merujuk Elkington (dalam Cannibals with Forks : The Triple Bottom Line in 21st Century Bussiness, 1997) yang menyinggung bahwa tanggung jawab dunia usaha sesungguhnya mencakup ”3 P ” : profit, people, planet – dimana ketiganya mencakup kepentingan stakeholder.

Namun dari ketiga P itu, profit lebih mudah tergelincir ke wilayah konsekuensi logis. Profit, tentu penting dan menjadi tanggungjawab pengusaha demi kepentingan stakeholder keseluruhan. Namun secara faktual-psikologis, keuntungan ini lebih diperlakukan sebagai konsekuensi logis yang dikejar lebih dulu. Bahkan yang sering terjadi, kedua P lainnya : people dan planet – dieksploitasi sedemikian rupa demi sebuah profit. Maka, lupakan soal menjadi pengusaha sejati. Itu sebabnya, penyelewengan dunia usaha – baik yang terjadi di level dunia maupun level nasional – semuanya karena pemutarbalikkan ini.

Seperti halnya pelajar yang lebih dulu mengejar nilai, atau atlit mengejar hadiah – demikian pula pengusaha lebih dulu mengejar profit. Salah satu fenomena menarik adalah kaitannya dengan TA (Tax Amnesty). Program ini dilakukan karena dunia usaha Indonesia membabi-buta mengejar profit sebanyak-banyaknya, lalu mengamankannya – meski untuk itu harus menutupi pajak. Padahal kepatuhan memenuhi pajak adalah salah satu syarat menjadi pengusaha sejati. Maka fenomena TA di negeri kita menjadi paradoks. Di satu sisi, kita gembira dengan perkembangan TA dan berharap agar TA sukses. Namun pada saat yang sama, hal itu juga memprihatinkan. Karena semakin sukses TA, sesungguhnya menjadi refleksi betapa langkanya pengusaha sejati di Indonesia.

Kedua, pemutarbalikkan prinsip kehidupan dalam dimensi politik. Dunia politik kita tak kalah parah, kalau tidak malah yang paling parah. Panggung politik beserta para aktornya sama sekali jauh dari prinsip menjadi ”politisi berisi, politisi esensi, politisi inti atau politisi sejati.” Mereka lebih suka dan bahkan membabi-buta lebih dulu mengejar bungkus, sensasi, perifer atau konsekuensi logisnya, yaitu : kekuasaan.

Padahal jika bercermin dari Victor Frankl, bahwasanya kekuasaan itu hanyalah konsekuensi logis dari upaya seseorang menjadi untuk ”pemimpin sejati”. Kekuasaan bukan tujuan, melainkan sarana untuk menjadi pemimpin atau politisi sejati. Jika seseorang sudah mampu menjadi pemimpin sejati (yang bernuansakan nilai-nilai dan kepentingan kemanusiaan, bangsa, umat manusia, rakyat) – maka kekuasaan beserta segenap kenikmatan hidup akan datang dengan sendirinya. Tapi yang terjadi adalah sebongkah napsu dan pertanyaan : ” Apa kenikmatan kekuasaan yang bisa didapat bagi diri sendiri dulu ?” Itu sebabnya kita berlimpah politisi pengejar kekuasaan dibanding politisi sejati atau negarawan.

Peta politisi di negeri jadi menarik sebab prinsip tujuan menghalalkan cara sudah dianggap ”mantra” oleh mereka. Bagi mereka yang sedang mengejar kekuasaan – cenderung melakukan segala cara untuk mendapatkannya – sebab kekuasaan diperlakukan sebagai tujuan, konsekuensi logis. Selanjutnya jika sudah berkuasa, mereka juga akan melakukan segala cara (termasuk maling dan korupsi) untuk mempertahankan, mengkompensasi dan mengeksploitasi habis-habisan kekuasaan yang ada dalam genggamannya. Dan jika sudah tiba masa meletakkan kekuasaannya (jabatannya), mereka juga menggunakan segala cara (termasuk menghancurkan habis lawannya) agar bisa ”merebut” kembali kekuasaan yang pernah digenggamnya. Merebut, dengan cara kembali merasakan kenikmatan kekuasaan – lewat orang, kroni, famili yang dimobilisasi untuk memegang kekuasaan.

Dominasi pola hidup konsekuensi logis – khususnya profit dan kekuasaan itu kini bersimaharajalela. Semua berpikir, bersikap dan berperilaku sebagaimana ”pengusaha dengan syahwat profitnya dan politisi dengan syahwat kekuasaannya”. Sedemikian hebatnya sehingga wilayah yang seharusnya sakral, yakni : agama – juga tak luput dari dominasi konsekuensi logis ini. Sehingga di masa kini, sudah tak mudah menemukan para pelaku agama yang sejati. Mereka lebih banyak pelaku agama sensasi, bungkus, dan seterusnya.

Meluruskan kembali prinsip hidup agar lebih dulu mengejar isi, esensi, dan kesejatian ini menjadi tanggungjawab kita semua. Baik itu pelajar, atlit, orang tua, pemimpin, menteri, wakil rakyat, presiden, pejuang LSM, agamawan – pendeknya kita semua tanpa terkecuali. Karena ini sesungguhnya menjadi tugas kehidupan individual sekaligus spiritual kita masing-masing.

Pemutarbalikkan prinsip hidup ini akan ”menular” secara generasional, dan akan sangat membahayakan generasi masa depan. Kita tak bisa membayangkan kehancuran peradaban seperti apa yang terjadi sepuluh, dua puluh atau beberapa puluh tahun ke depan – tatkala generasi penerus mutlak dijajah oleh pola hidup konsekuensi logis. Sebab pada waktu itu, mereka bukan hanya amnesia – tapi juga tak peduli – bahwa tugas kehidupan terpenting
dan luhur itu salah satunya adalah lebih dulu menjadi manusia sejati.
***

MANUSIA BERBAHAYA

January 19, 2017 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Ada orang yang dikuasai prinsip “habis manis sepah dibuang.” Misalnya, ada cawagub yang pernah menegasikan mantan atasannya. Ini sama dengan karyawan yang ketika diinterview lalu menjelek-jelekkan perusahaan lamanya. Atau putus cinta lalu menjelek-jelekkan mantannya.

Terlepas apapun kondisinya, orang-orang yang berprinsip habis manis sepah dibuang ini adalah orang-orang yang tak punya integritas. Dan orang yang tak punya integritas itu sangat berbahaya bagi siapapun – kecuali dirinya sendiri.

Lalu ada juga orang yang baru pindah agama dan langsung menjelek-jelekkan agama lamanya. Ini sama saja. Sedang beragamapun, olah spiritualitaspun perlu integritas. Biarpun hidupnya cuma sembahyang seharian atau ceramah agama di mana-mana – namun jika tanpa integritas – ia tetap berbahaya.

Manusia tidak hanya hidup dari roti

January 18, 2017 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Di Australia sempat ada yang tanya, kenapa soal roti saja di Indonesia sampai ribut-ribut..? Saya sempat malu mendengarnya, meski spontan saya jawab bahwa itu soal kecil, a piece of cake, nothing, tak signifikan, tak ada arti.

“Really ?” bule tersebut masih penasaran. Lalu saya jawab saja sekenanya bahwa :

“Manusia tidak hanya hidup dari roti.”

Bule yang bertanya mengerenyit, entah paham atau tidak dengan jawaban saya. Tapi dia diam dan saya tak peduli lagi – meski abis itu saya makan roti bertuliskan gluten free.

MENJADI MANUSIA SEJATI

January 17, 2017 by  
Filed under CORETANKU DI KOMPAS

Oleh : Herry Tjahjono
Kompas, Selasa, 17 Januari 2017

Life-Facebook-Status-18273

Kehidupan itu secara sederhana terdiri dari dua elemen, yakni : isi dan bungkus, esensi dan sensasi, inti dan perifer, sejati dan konsekuensi logis. Kedua elemen itu melahirkan sebuah prinsip bahwa tugas kehidupan  manusia sesungguhnya bagaimana menjadi isi, esensi, inti atau sejati. Bukan sebaliknya. Jadi tujuan hidup manusia sesungguhnya terus menerus berjuang menjadi “manusia isi, manusia esensi, manusia inti, manusia sejati”. Jika hal ini dilakukan, maka bungkus, sensasi, perifer, atau konsekuensi logis akan  hadir dengan sendirinya dalam hidupnya.

Namun dalam kehidupan modern – khususnya di negeri kita – prinsip  kehidupan di atas justru telah diputarbalikkan. Manusia sekarang lebih suka mengejar dulu bungkus, sensasi, perifer atau konsekuensi logis kehidupan. Seorang pelajar misalnya – seharusnya dia lebih dulu berjuang untuk menjadi “pelajar berisi, pelajar esensial, pelajar inti atau pelajar sejati” (bukan hanya cerdas otak, tapi juga karakter, kepribadian bahkan spiritual). Sebab jika ia sudah menjadi pelajar sejati,  maka konsekuensi logis akan datang sendirinya, seperti misalnya nilai, peringkat yang baik, atau bahkan juara.  Menjadi pelajar sejati otomatis menjadi pelajar bermanfaat, pelajar bermakna.

Tapi pada kenyataannya, dunia pendidikan sekarang (orang tua, sekolah, dan bahkan mungkin lingkungan serta pemerintah)  menuntut anak atau pelajar untuk lebih dulu mengejar nilai, peringkat, predikat juara – yang semuanya disebut sebagai “bungkus, sensasi, perifer, konsekuensi logis”.  Itu sebabnya di dunia pendidikan banyak terjadi penyimpangan –  demi berbagai konsekuensi logis itu – segala cara digunakan mulai dari nyontek, beli ijazah, joki, plagiat dan lainnya. Contoh lain adalah dalam dunia olahraga misalnya, atlit lebih dulu mengejar piala, hadiah dan uang, bukannya menjadi atlit sejati.

Pemutarbalikkan prinsip itu nyaris melanda segenap dimensi kehidupan di sekitar kita. Dan sesuai konteks tulisan ini, pemutarbalikkan itu mendapatkan resultante sempurna di dalam dimensi ekonomi dan politik – sehingga hal inilah yang membuat dinamika kehidupan ekonomi dan politik kita sering mengalami gonjang-ganjing.

Pertama, pemutarbalikkan prinsip kehidupan dalam dimensi ekonomi (dan bisnis). Para pengusaha relatif lebih mengejar konsekuensi logis, bungkus, sensasi dibanding lebih dulu berjuang menjadi pengusaha sejati. Dan kita paham, konsekuensi logis paling riil bagi pengusaha adalah profit. Merujuk Elkington (dalam Cannibals with Forks : The Triple Bottom Line in 21st Century Bussiness, 1997) yang menyinggung bahwa tanggung jawab dunia usaha sesungguhnya  mencakup ”3 P ” : profit, people, planet – dimana ketiganya mencakup  kepentingan stakeholder.

Namun dari ketiga P itu, profit  lebih mudah tergelincir ke wilayah konsekuensi logis. Profit, tentu penting dan menjadi tanggungjawab pengusaha demi kepentingan stakeholder keseluruhan. Namun secara faktual-psikologis,  keuntungan ini lebih diperlakukan sebagai konsekuensi logis yang dikejar lebih dulu. Bahkan yang sering terjadi, kedua P lainnya : people dan planet – dieksploitasi sedemikian rupa demi sebuah profit. Maka, lupakan soal menjadi pengusaha sejati. Itu sebabnya,  penyelewengan dunia usaha – baik yang terjadi di level dunia maupun level nasional – semuanya karena pemutarbalikkan ini.

Seperti halnya pelajar yang lebih dulu mengejar nilai, atau atlit mengejar hadiah – demikian pula pengusaha lebih dulu mengejar profit. Salah satu fenomena menarik adalah kaitannya dengan TA (Tax Amnesty). Program ini dilakukan karena dunia usaha Indonesia membabi-buta mengejar profit sebanyak-banyaknya, lalu mengamankannya – meski untuk itu harus menutupi pajak. Padahal kepatuhan memenuhi pajak adalah salah satu syarat menjadi  pengusaha sejati.  Maka fenomena TA di negeri kita menjadi paradoks. Di satu sisi, kita gembira dengan perkembangan TA dan berharap agar TA sukses. Namun pada saat yang sama,  hal itu juga memprihatinkan. Karena semakin sukses TA, sesungguhnya menjadi refleksi betapa langkanya pengusaha sejati di Indonesia.

Kedua, pemutarbalikkan prinsip kehidupan dalam dimensi politik. Dunia politik kita tak kalah parah, kalau tidak malah yang paling parah. Panggung politik beserta para aktornya sama sekali jauh dari prinsip menjadi ”politisi berisi, politisi esensi,  politisi inti atau politisi sejati.” Mereka lebih suka dan bahkan membabi-buta lebih dulu mengejar bungkus, sensasi, perifer atau konsekuensi logisnya, yaitu : kekuasaan.

Padahal jika bercermin dari Victor Frankl, bahwasanya kekuasaan itu hanyalah  konsekuensi logis dari upaya seseorang menjadi untuk ”pemimpin sejati”. Kekuasaan bukan tujuan, melainkan sarana untuk menjadi pemimpin atau politisi sejati. Jika seseorang sudah mampu menjadi pemimpin sejati (yang bernuansakan nilai-nilai dan kepentingan kemanusiaan, bangsa, umat manusia, rakyat) – maka kekuasaan beserta segenap kenikmatan  hidup akan datang dengan sendirinya. Tapi yang terjadi adalah sebongkah napsu dan pertanyaan : ” Apa kenikmatan kekuasaan yang bisa didapat bagi diri sendiri dulu ?” Itu sebabnya kita berlimpah politisi pengejar kekuasaan dibanding politisi sejati atau  negarawan.

Peta politisi di negeri jadi menarik sebab prinsip tujuan menghalalkan cara  sudah dianggap ”mantra” oleh mereka. Bagi mereka yang sedang mengejar kekuasaan – cenderung melakukan segala cara untuk mendapatkannya – sebab kekuasaan diperlakukan sebagai tujuan, konsekuensi logis. Selanjutnya jika sudah berkuasa, mereka juga akan melakukan segala cara (termasuk maling dan korupsi) untuk mempertahankan, mengkompensasi dan mengeksploitasi habis-habisan  kekuasaan yang ada dalam genggamannya. Dan jika sudah tiba masa meletakkan kekuasaannya (jabatannya), mereka juga  menggunakan segala cara (termasuk menghancurkan habis lawannya) agar bisa ”merebut” kembali kekuasaan yang pernah digenggamnya. Merebut, dengan cara kembali merasakan kenikmatan kekuasaan – lewat orang, kroni, famili yang dimobilisasi untuk memegang kekuasaan.

Dominasi pola hidup konsekuensi logis – khususnya profit dan kekuasaan itu kini bersimaharajalela. Semua berpikir, bersikap dan berperilaku sebagaimana ”pengusaha dengan syahwat profitnya dan politisi dengan syahwat kekuasaannya”. Sedemikian hebatnya sehingga wilayah yang seharusnya sakral, yakni : agama – juga tak luput dari dominasi  konsekuensi logis ini. Sehingga di masa kini, sudah tak mudah menemukan para pelaku agama yang sejati. Mereka lebih banyak pelaku agama sensasi, bungkus, dan seterusnya.

Meluruskan kembali prinsip hidup agar lebih dulu mengejar isi, esensi, dan kesejatian ini menjadi tanggungjawab kita semua. Baik itu pelajar, atlit, orang tua, pemimpin, menteri, wakil rakyat, presiden, pejuang LSM, agamawan – pendeknya kita semua tanpa terkecuali. Karena ini sesungguhnya menjadi tugas kehidupan individual sekaligus spiritual kita masing-masing.

Pemutarbalikkan prinsip hidup ini akan ”menular” secara generasional, dan akan sangat membahayakan generasi masa depan. Kita tak bisa membayangkan kehancuran peradaban seperti apa yang terjadi sepuluh, dua puluh atau beberapa puluh tahun ke depan – tatkala generasi penerus mutlak  dijajah oleh pola hidup konsekuensi logis. Sebab pada waktu itu,  mereka bukan hanya amnesia  – tapi juga tak peduli  – bahwa tugas kehidupan terpenting dan luhur itu salah satunya adalah lebih dulu menjadi manusia sejati.

***

DSC_0861_1Herry Tjahjono
Terapis Budaya Perusahaan

MANUSIA PARADOKS

December 15, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

 

Kita mampu membangun gedung tinggi menjulang ke langit, tapi ternyata bangunan jiwa kita semakin kerdil

Kita mampu membangun rumah doa megah mengkilap, tapi ternyata rumah hati kita semakin sumpek kotor

Kita mampu menggiring selaksa manusia, tapi ternyata kita tak mampu mengendalikan diri sendiri yang cuma seorang

Kita mampu melantunkan cinta firman Tuhan di rumah-rumah suci, tapi ternyata bibir kita melontarkan titah kebencian di jalan-jalan

Sadarkah kalian para manusia yang tak tahu diri ?

December 15, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Kedua anak perempuan cantik ini kembar, dan kebesaran Tuhan dinyatakan melalui mereka. Sekaligus Tuhan ingin berpesan bahwa Dia sendirilah yang menciptakan perbedaan. Salah satu kebesaran-Nya ditandai dengan perbedaan yang diciptakan-Nya.

Maka siapa yang menghina dan melecehkan perbedaan sama saja dengan menghina Dia yang menciptakannya. Dan siapapun yang ingin menghancurkan perbedaan sama saja ingin menghancurkan-Nya.

Sadarkah kalian para manusia yang tak tahu diri ?

#gbr : m.matter

 

MANUSIA BUKAN TEMPE

October 25, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

 

Tes DNA mungkin adalah jawaban pragmatis untuk menyelesaikan kasus antara sang motivator dengan ‘anaknya.”

Kita asumsikan dan berandai-andai – misalkan saja terbukti bahwa ‘anak’ itu memang bukan anak biologis sang motivator. So what ? Tetap saja ‘anak’ itu dan ibunya menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup sang motivator. Kehidupan manusia tidak bisa dipotong-potong seperti tempe, lalu yang sudah kena jamur dibuang ke tempat sampah. Lenyap. Selesai.

Tidak. Kehidupan manusia adalah sebuah kesatuan utuh. Bahkan ada jiwa dalam setiap bagian itu. Manusia tidak bisa memotong-motongnya lalu membuang bagian yang dianggapnya jelek kena ‘jamur’. Manusia bukan tempe, bahkan sampai kelak jasad terkubur – tak satupun bagian akan terhilang.

Manusia disebut ciptaan-Nya yang tertinggi derajatnya. Dan ini membawa konsekuensi : bahwa hidup harus dipertanggungjawabkan secara utuh sampai akhir perjalanan.

Sahabat, tak satupun bagian perjalanan hidupmu yang terhilang. Terima dan sikapi dengan bijaksana. Anda bisa jadi bijak menyikapi setiap bagian hidup anda sendiri, tanpa harus menunggu jadi motivator top yang mengajarkan berbagai kebijaksaan hidup pada orang banyak. Atau, anda juga tak perlu menunggu pelajaran kebijaksaan dari motivator top atau siapapun untuk menyikapi hidup anda. Cukup cintai diri dan hidup anda sendiri dan terima setiap bagian perjalanan hidup anda dengan nyaman dan ikhlas. Selesai.

manusia kuat perkasa

October 25, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Menjadi manusia kuat perkasa itu bukan karena kita mampu melakukan apa yang tidak mampu dilakukan orang lain. Tapi lebih karena kita sanggup bertahan di saat orang lain menyerah, tetap maju saat orang lain mundur dan tetap tersenyum tatkala orang lain telah putus asa !

Manusia..

July 17, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Manusia memang diciptakan tidak sempurna, namun justru punya kesempatan untuk jadi manusia hebat dari ketidaksempurnaannya. Karena kalau manusia sudah sempurna, dia tak pernah jadi hebat – karena tanpa melakukan apapun dia sudah sempurna.

Kesempatan itu datang ketika ia tekun menambal setiap lubang ketidaksempurnaannya tanpa gentar. Ketekunannya menambal itu sudah membuatnya hebat, tanpa harus menjadi sempuna.

MANUSIA TERMISKIN

June 29, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

MANUSIA TERMISKIN

Orang paling miskin adalah mereka yang kepalanya dikuasai dan dijajah oleh kekayaan.

Next Page »