MENJADI MANUSIA SEJATI

January 17, 2017 by  
Filed under CORETANKU DI KOMPAS

Oleh : Herry Tjahjono
Kompas, Selasa, 17 Januari 2017

Life-Facebook-Status-18273

Kehidupan itu secara sederhana terdiri dari dua elemen, yakni : isi dan bungkus, esensi dan sensasi, inti dan perifer, sejati dan konsekuensi logis. Kedua elemen itu melahirkan sebuah prinsip bahwa tugas kehidupan  manusia sesungguhnya bagaimana menjadi isi, esensi, inti atau sejati. Bukan sebaliknya. Jadi tujuan hidup manusia sesungguhnya terus menerus berjuang menjadi “manusia isi, manusia esensi, manusia inti, manusia sejati”. Jika hal ini dilakukan, maka bungkus, sensasi, perifer, atau konsekuensi logis akan  hadir dengan sendirinya dalam hidupnya.

Namun dalam kehidupan modern – khususnya di negeri kita – prinsip  kehidupan di atas justru telah diputarbalikkan. Manusia sekarang lebih suka mengejar dulu bungkus, sensasi, perifer atau konsekuensi logis kehidupan. Seorang pelajar misalnya – seharusnya dia lebih dulu berjuang untuk menjadi “pelajar berisi, pelajar esensial, pelajar inti atau pelajar sejati” (bukan hanya cerdas otak, tapi juga karakter, kepribadian bahkan spiritual). Sebab jika ia sudah menjadi pelajar sejati,  maka konsekuensi logis akan datang sendirinya, seperti misalnya nilai, peringkat yang baik, atau bahkan juara.  Menjadi pelajar sejati otomatis menjadi pelajar bermanfaat, pelajar bermakna.

Tapi pada kenyataannya, dunia pendidikan sekarang (orang tua, sekolah, dan bahkan mungkin lingkungan serta pemerintah)  menuntut anak atau pelajar untuk lebih dulu mengejar nilai, peringkat, predikat juara – yang semuanya disebut sebagai “bungkus, sensasi, perifer, konsekuensi logis”.  Itu sebabnya di dunia pendidikan banyak terjadi penyimpangan –  demi berbagai konsekuensi logis itu – segala cara digunakan mulai dari nyontek, beli ijazah, joki, plagiat dan lainnya. Contoh lain adalah dalam dunia olahraga misalnya, atlit lebih dulu mengejar piala, hadiah dan uang, bukannya menjadi atlit sejati.

Pemutarbalikkan prinsip itu nyaris melanda segenap dimensi kehidupan di sekitar kita. Dan sesuai konteks tulisan ini, pemutarbalikkan itu mendapatkan resultante sempurna di dalam dimensi ekonomi dan politik – sehingga hal inilah yang membuat dinamika kehidupan ekonomi dan politik kita sering mengalami gonjang-ganjing.

Pertama, pemutarbalikkan prinsip kehidupan dalam dimensi ekonomi (dan bisnis). Para pengusaha relatif lebih mengejar konsekuensi logis, bungkus, sensasi dibanding lebih dulu berjuang menjadi pengusaha sejati. Dan kita paham, konsekuensi logis paling riil bagi pengusaha adalah profit. Merujuk Elkington (dalam Cannibals with Forks : The Triple Bottom Line in 21st Century Bussiness, 1997) yang menyinggung bahwa tanggung jawab dunia usaha sesungguhnya  mencakup ”3 P ” : profit, people, planet – dimana ketiganya mencakup  kepentingan stakeholder.

Namun dari ketiga P itu, profit  lebih mudah tergelincir ke wilayah konsekuensi logis. Profit, tentu penting dan menjadi tanggungjawab pengusaha demi kepentingan stakeholder keseluruhan. Namun secara faktual-psikologis,  keuntungan ini lebih diperlakukan sebagai konsekuensi logis yang dikejar lebih dulu. Bahkan yang sering terjadi, kedua P lainnya : people dan planet – dieksploitasi sedemikian rupa demi sebuah profit. Maka, lupakan soal menjadi pengusaha sejati. Itu sebabnya,  penyelewengan dunia usaha – baik yang terjadi di level dunia maupun level nasional – semuanya karena pemutarbalikkan ini.

Seperti halnya pelajar yang lebih dulu mengejar nilai, atau atlit mengejar hadiah – demikian pula pengusaha lebih dulu mengejar profit. Salah satu fenomena menarik adalah kaitannya dengan TA (Tax Amnesty). Program ini dilakukan karena dunia usaha Indonesia membabi-buta mengejar profit sebanyak-banyaknya, lalu mengamankannya – meski untuk itu harus menutupi pajak. Padahal kepatuhan memenuhi pajak adalah salah satu syarat menjadi  pengusaha sejati.  Maka fenomena TA di negeri kita menjadi paradoks. Di satu sisi, kita gembira dengan perkembangan TA dan berharap agar TA sukses. Namun pada saat yang sama,  hal itu juga memprihatinkan. Karena semakin sukses TA, sesungguhnya menjadi refleksi betapa langkanya pengusaha sejati di Indonesia.

Kedua, pemutarbalikkan prinsip kehidupan dalam dimensi politik. Dunia politik kita tak kalah parah, kalau tidak malah yang paling parah. Panggung politik beserta para aktornya sama sekali jauh dari prinsip menjadi ”politisi berisi, politisi esensi,  politisi inti atau politisi sejati.” Mereka lebih suka dan bahkan membabi-buta lebih dulu mengejar bungkus, sensasi, perifer atau konsekuensi logisnya, yaitu : kekuasaan.

Padahal jika bercermin dari Victor Frankl, bahwasanya kekuasaan itu hanyalah  konsekuensi logis dari upaya seseorang menjadi untuk ”pemimpin sejati”. Kekuasaan bukan tujuan, melainkan sarana untuk menjadi pemimpin atau politisi sejati. Jika seseorang sudah mampu menjadi pemimpin sejati (yang bernuansakan nilai-nilai dan kepentingan kemanusiaan, bangsa, umat manusia, rakyat) – maka kekuasaan beserta segenap kenikmatan  hidup akan datang dengan sendirinya. Tapi yang terjadi adalah sebongkah napsu dan pertanyaan : ” Apa kenikmatan kekuasaan yang bisa didapat bagi diri sendiri dulu ?” Itu sebabnya kita berlimpah politisi pengejar kekuasaan dibanding politisi sejati atau  negarawan.

Peta politisi di negeri jadi menarik sebab prinsip tujuan menghalalkan cara  sudah dianggap ”mantra” oleh mereka. Bagi mereka yang sedang mengejar kekuasaan – cenderung melakukan segala cara untuk mendapatkannya – sebab kekuasaan diperlakukan sebagai tujuan, konsekuensi logis. Selanjutnya jika sudah berkuasa, mereka juga akan melakukan segala cara (termasuk maling dan korupsi) untuk mempertahankan, mengkompensasi dan mengeksploitasi habis-habisan  kekuasaan yang ada dalam genggamannya. Dan jika sudah tiba masa meletakkan kekuasaannya (jabatannya), mereka juga  menggunakan segala cara (termasuk menghancurkan habis lawannya) agar bisa ”merebut” kembali kekuasaan yang pernah digenggamnya. Merebut, dengan cara kembali merasakan kenikmatan kekuasaan – lewat orang, kroni, famili yang dimobilisasi untuk memegang kekuasaan.

Dominasi pola hidup konsekuensi logis – khususnya profit dan kekuasaan itu kini bersimaharajalela. Semua berpikir, bersikap dan berperilaku sebagaimana ”pengusaha dengan syahwat profitnya dan politisi dengan syahwat kekuasaannya”. Sedemikian hebatnya sehingga wilayah yang seharusnya sakral, yakni : agama – juga tak luput dari dominasi  konsekuensi logis ini. Sehingga di masa kini, sudah tak mudah menemukan para pelaku agama yang sejati. Mereka lebih banyak pelaku agama sensasi, bungkus, dan seterusnya.

Meluruskan kembali prinsip hidup agar lebih dulu mengejar isi, esensi, dan kesejatian ini menjadi tanggungjawab kita semua. Baik itu pelajar, atlit, orang tua, pemimpin, menteri, wakil rakyat, presiden, pejuang LSM, agamawan – pendeknya kita semua tanpa terkecuali. Karena ini sesungguhnya menjadi tugas kehidupan individual sekaligus spiritual kita masing-masing.

Pemutarbalikkan prinsip hidup ini akan ”menular” secara generasional, dan akan sangat membahayakan generasi masa depan. Kita tak bisa membayangkan kehancuran peradaban seperti apa yang terjadi sepuluh, dua puluh atau beberapa puluh tahun ke depan – tatkala generasi penerus mutlak  dijajah oleh pola hidup konsekuensi logis. Sebab pada waktu itu,  mereka bukan hanya amnesia  – tapi juga tak peduli  – bahwa tugas kehidupan terpenting dan luhur itu salah satunya adalah lebih dulu menjadi manusia sejati.

***

DSC_0861_1Herry Tjahjono
Terapis Budaya Perusahaan