Louis Braille dan Warisan Berharganya bagi Orang Tunanetra

January 10, 2019 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

“If my finger is the sky,
Then under it the fields prosper.”
John Lee Clark lahir sebagai tuli. Keadaan itu adalah “warisan” yang diterima dari kedua orang tuanya. Setiap saat, Clark berkomunikasi menggunakan Bahasa Isyarat Amerika (American Sign Language). Tapi kemudian keadaan berubah. Clark ternyata mewarisi pula sindrom usher, penyakit genetik yang bisa menghilangkan bukan hanya kemampuan pendengaran tapi juga penglihatan. Ia pun kehilangan satu lagi inderanya: penglihatan.

Kehilangan kemampuan penglihatan bukan akhir hidup bagi Clark. Di Minnesota State Academy for the Deaf, ia putar arah. Karena tak mungkin meneruskan studi mendalam soal bahasa isyarat, Clark mengambil kelas khusus Braille—suatu kode khusus yang merepresentasikan huruf bagi orang-orang buta seperti dirinya.

Mempelajari Braille memberikan hidup baru bagi Clark. Ia menjadi sastrawan yang lumayan produktif. Selain menerbitkan kumpulan esai Where I Stand: On the Signing Community and My DeafBlind Experience (2014), Clark pun merilis kumpulan puisi yang salah satunya bertajuk “Suddenly Slow”, yang nukilannya tertera di atas.

Clark beruntung. Ia lahir selepas Braille ditemukan. Dalam The Blind in French Society from the Middle Ages to the Century of Louis Braille (2009) yang ditulis Zina Weygand, orang-orang buta pada abad pertengahan hidup sebagai masyarakat kelas dua, apapun latar belakang mereka. Secara umum, orang buta abad pertengahan hanya bisa hidup di dalam rumah dan mengandalkan orang lain.

Keadaan kehilangan penglihatan kala itu tak cuma urusan penyakit atau kecelakaan. Banyak kasus yang memperlihatkan bahwa kebutaan bisa disebabkan oleh kebiadaban pelaku kriminal. Dan karena Braille belum ditemukan, sukar bagi orang-orang yang kehilangan penglihatan beranjak dari nasib malang mereka.

Maka, atas keberuntungan yang diraih Clark, ia sudah sepantasnya mengucap terima kasih pada Louis Braille, penemu Braille.

Metode Paling Sederhana

Dalam makalah berjudul “The Story of Louis Braille” (2009), John D. Bullock mencatat Louis Braille lahir pada 4 Januari 1809 dalam keadaan sehat wal afiat. Ayahnya, Simon-Rene Braille, merupakan pengrajin alat-alat berkuda dan bekerja di ruang khusus di rumahnya. Braille kecil senang bermain-main di tempat kerja ayahnya itu.

Suatu ketika, kala usianya menginjak 3 tahun, Braille terjatuh saat bermain dengan perkakas milik ayahnya. Sial, salah satu perkakas menancap tepat di mata kanan Braille. Ia pun buta sebelah.

Kemalangan tak berhenti. Braille menderita sympathetic ophthalmia, yang membuat mata kirinya bernasib sama dengan mata kanannya. Pada usia 5, Braille buta sepenuhnya.

Mengerti bahwa pendidikan sangat penting bagi anaknya, sang ayah tetap memaksa memasukkan Braille ke sekolah dasar kala usianya mencukupi. Tapi Braille kesulitan belajar karena kondisi matanya. Di sekolah umum, praktis Braille belajar hanya dengan mendengarkan guru. Dan ketika kurikulum mewajibkan seluruh siswa membaca, Braille keluar.

Keberuntungan akhirnya menyapa Braille. Di usia 10, remaja buta itu memperoleh beasiswa untuk bersekolah di Royal Institution for Blind Youth, Paris. Di sekolah itu, Braille diajari cara membaca tulisan menggunakan metode yang dikembangkan Valentin Hauy, pendiri sekolah. Sayang, metodenya susah dimengerti dan dipelajari. Braille gagal menyelami dalamnya ilmu pengetahuan karena ketidakmampuannya membaca.

Hingga tibalah saat itu. Mantan kapten artileri Perancis bernama Charles Barbier berkunjung ke sekolah. Barbier memperkenalkan “night writing,” suatu kode pengiriman pesan bagi orang lain dalam keadaan gelap gulita. Kode ini populer digunakan tentara tatkala perang di malam hari. Dengan memanfaatkan titik-titik yang timbul di kertas, penerima pesan bisa memahami apa yang disampaikan.

Vincent Ng Lau dalam “Regular Feature Extraction for Recognition of Braille” (1999) menyebut bahwa night writing merupakan kode yang disusun atas matriks/sel 12 titik, dengan dua titik mendatar dan enam titik menurun. Tiap matriks tersusun atas kombinasi titik yang merepresentasikan bunyi. Ketika night writing dikenalkan pada Braille, remaja itu “melihat” bahwa inilah jawaban atas keterbatasan yang menimpanya, dan orang-orang buta lainnya.

Sayangnya, night writing punya beberapa kelemahan. Masih dalam tulisan Lau, Braille menyadari night writing merupakan kode yang merepresentasikan bunyi, bukan huruf. Artinya, metode itu sukar diimplementasikan menjadi kode universal. Lalu, karena night writing tersusun atas matriks 12 titik, susah bagi pembacanya merasakan seluruh titik dalam sekali sentuh. Akhirnya, di usia ke-12, Braille bertekad memodifikasi night writing.

Menginjak usia ke-15, Braille sukses memodifikasi metode tersebut. Matriks 12 titik diubah menjadi matriks 6 titik. Pengerucutan ini dilakukan agar para pembaca dapat memahami tiap matriks hanya dalam sekali sentuhan. Pembeda lainnya ialah tiap matriks tersusun atas titik yang merepresentasikan huruf-huruf di alfabet, bukan bunyi. Dalam kertas ukuran normal, 11×11 inci, karena telah disederhanakan, dapat termuat 1.000 karakter yang dibuat dengan kode Braille.

Namun, pembuatnya harus hati-hati. Matriks Braille tersusun atas dua titik mendatar dan 3 titik menurun. Pada dua titik mendatar, jarak titik tak boleh lebih dari 4 milimeter. Lebih dari jarak itu pengguna akan sukar membaca huruf apa yang direpresentasikan matriks.

Untuk memudahkan masyarakat memahami temuannya, Braille menerbitkan Method of Writing Words, Music, and Plain Songs by Means of Dots, for Use by the Blind and Arranged for Them (1829). Itu adalah buku yang dicetak dengan sistem aksara ciptaan Braille sekaligus buku pertama di dunia yang bertuliskan huruf Braille.

Pada 1834, kala Braille menginjak usia 25, ia mendemonstrasikan hasil kerjanya pada Raja Louis-Philippe dan berharap agar ciptaannya dapat disebarluaskan untuk menolong orang-orang buta agar bisa berkomunikasi dan memperoleh informasi dengan mudah. Sayangnya, sang raja tak merestui temuan Braille.

Penolakan raja akhirnya membuat matriks enam titik hanya digunakan kalangan terbatas, dalam lingkup orang-orang yang mengenal Braille. Hingga ia meninggal pada 6 Januari 1852, tepat hari ini 167 tahun lalu, matriks enam titik itu gagal menyebar luas.

Barulah dua tahun selepas kematian Braille, pemerintah Perancis menyetujui penggunaan kode matriks enam titik sebagai alat komunikasi orang-orang buta. Pemerintah lantas menyebut kode itu sebagai “Braille.”

Tiga tahun berselang, dalam World Congress for the Blind, Braille didaulat sebagai standar sistem membaca dan menulis.

Tak Sebatas Braille

“How the Blind ‘See’ Braille: Lessons From Functional Magnetic Resonance Imaging” (2005), paper yang ditulis Norihiro Sadato, menjelaskan bagaimana seseorang bisa memahami suatu bentuk komunikasi. Katanya, untuk memahami sesuatu, manusia memiliki dua “alat”: tactile information atau primary visual cortex (V1) dan primary somatosensory cortex. Keduanya mentransformasikan informasi pada otak selepas memperoleh informasi melalui mata dan kulit. Kedua alat ini mengirim informasi pada otak melalui jalur berbeda di cerebral cortex, suatu area dalam otak.

Pada kasus orang-orang yang membaca menggunakan Braille, informasi dikirim oleh primary somatosensory cortex, yang mengubahnya dalam bentuk informasi taktil sederhana bersifat leksikal dan semantik. Pada akhirnya, meski tak memiliki kemampuan melihat, orang-orang buta bisa memahami suatu informasi dengan mudah, dibantu dengan Braille.

Namun, meski terlihat mudah, membaca dan memahami menggunakan Braille butuh kemampuan kognitif yang kompleks. Pemakainya harus mampu menggerakkan jemari dengan presisi, mampu mempersepsikan titik timbul yang dirasakan, hingga harus bisa mengenali pola.

Infografik Mozaik Braille

Dalam perkembangan zaman, teknologi memudahkan orang-orang berkebutuhan khusus untuk dapat berkomunikasi. Pada 2005 Apple merilis VoiceOver, teknologi screen reader atau pembaca informasi di layar, untuk memudahkan orang-orang buta berkomunikasi menggunakan perangkat-perangkat Apple.

VoiceOver merupakan fitur pembaca segala tulisan maupun tombol yang ada di layar. Ia hadir secara langsung di perangkat Apple. Fitur ini mampu membaca 0,66 kata per menit dan hadir pertama kali di sistem operasi Mac, OSX 10.4.

Pada 2009 VoiceOver hadir pada perangkat iPhone dalam seri iPhone 3GS dan iPod varian Shuffle. Tahun berikutnya, saat iPad pertama kali diluncurkan, VoiceOver juga disematkan pada perangkat ini.

Melalui VoiceOver, pengguna smartphone dapat melakukan hampir segala kegiatan di berbagai perangkat Apple. Memakai WhatsApp, misalnya. Segala tombol yang ada di WhatsApp, bahkan pesan yang terkandung di dalamnya, bisa dibacakan oleh VoiceOver.

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Ivan Aulia Ahsan
Sumber: tirto.id

Johannes Leimena, Orang Paling Jujur di Mata Sukarno

April 5, 2018 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Hati berlian. Kemilau kejujuran sosok panutan.
Artikel dari: tirto.id –
Pengandaian itu tidak berlebihan. Faktanya, Sukarno memang mengagumi sosok Johannes Leimena, seorang dokter kelahiran Ambon yang terlibat aktif dalam Sumpah Pemuda 1928. Kekaguman Sukarno itu pun diterangkan secara gamblang dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2007) yang ditulis Cindy Adam.“Ambilah misalnya Leimena…saat bertemu dengannya aku merasakan rangsangan indra keenam, dan bila gelombang intuisi dari hati nurani yang begitu keras seperti itu menguasai diriku, aku tidak pernah salah. Aku merasakan dia adalah seorang yang paling jujur yang pernah kutemui,” aku Sukarno.

Apa yang dikatakan Sukarno bukanlah omongan seorang politisi. Kepercayaan Sukarno terwujud pada sejumlah tugas penting yang diberikan pada Leimena. Semasa Sukarno menjadi presiden, Leimena hampir tidak pernah absen dalam kabinetnya.

Om Jo, begitu sapaan akrab Johannes Leimena, memulai kariernya di dunia politik sejak masih menjadi mahasiswa Kedokteran di Sekolah Tinggi Kedokteran Geneeskunde Hogeschool (GHS) di Jakarta. Selama menjadi mahasiswa, dia aktif dalam sejumlah organisasi seperti Jong Ambon dan Christelijke Studentenvereniging (CSV).

Melalui organisasi itu dia pun mulai berkenalan dengan sejumlah tokoh besar, termasuk Sukarno. Menurut buku Johannes Leimena: Negarawan Sejati dan Politisi Berhati Nurani (2007), dalam Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, Om Jo pun terlibat aktif dan menjadi perwakilan dari Jong Ambon. Dia juga salah satu panitia kongres tersebut. Artinya karena dia juga Sumpah Pemuda 1928 tercetus.

Usai menyelesaikan kuliahnya, Om Jo memutuskan untuk mengabdi sebagai dokter sesuai dengan bidang keilmuannya. Dia pertama kali diangkat menjadi dokter pemerintah Hindia Belanda di rumah sakit CBZ Batavia yang kini menjadi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Om Jo tidak lama bekerja di sana. Saat Gunung Merapi meletus pada tahun 1930, dia pun ditugaskan ke Yogyakarta untuk membantu korban. Usai tugas di sana selesai, Om Jo pindah ke rumah sakit Zending Immanuel di Bandung. Dia pun bekerja di situ sampai mendekati kemerdekaan Indonesia.


Diplomasi Bermodal Baju Pinjaman

Setelah kemerdekaan Indonesia, Om Jo masih menjadi dokter. Sampai suatu hari, Sukarno datang menemuinya dan meminta Om Jo menjadi Menteri Kesehatan. Om Jo menyanggupi permintaan Sukarno. Om Jo menjadi Menteri Kesehatan dalam Kabinet Sjahrir II, ketika revolusi melawan militer Belanda berkecamuk. Di masa sulit itu, jangankan rakyat kecil, seorang dokter yang terpelajar dan harusnya punya uang seperti Om Jo pun ternyata hanya punya sedikit pakaian.

Konsekuensi menjadi seorang menteri, Om Jo pun dalam beberapa kesempatan harus mewakili Indonesia bertemu dengan perwakilan negara lain. Sialnya, selama ini, Om Jo tidak pernah memiliki pakaian yang pantas untuk bertemu dengan para utusan negara lain tersebut.

Suatu ketika dia harus ikut dengan Sukarno bertemu dengan diplomat Inggris dan Belanda. Karena tak punya pakaian, Leimena pun kemudian meminjam jas dan dasi temannya untuk tampil formal dalam pertemuan tersebut.

Bermodal pakaian pinjaman, Om Jo pun tampil meyakinkan. Para diplomat Belanda dan Inggris pun memanggilnya dengan “Yang Mulia”. Peristiwa itu membuat Sukarno terpingkal-pingkal jika mengingatnya.

“Orang-orang desa dengan baju pinjaman tiba-tiba terjun ke politik, duduk di meja perundingan berhadapan dengan wakil-wakil terhormat, seperti Ratu Juliana yang berpakaian mentereng. Kesulitan terbesar dari para menteriku adalah menahan ketawa bila memikirkan keganjilan ini semua,” kata Sukarno dalam Penyambung Lidah Rakyat.

 

Infografik mozaik johannes leimena


Puskesmas Juga Warisan Om Jo

Om Jo bukan sekadar seorang dokter. Dia juga seorang pemikir yang moncer. Menurut buku Johannes Leimena: Negarawan Sejati dan Politisi Berhati Nurani, semasa menjadi menteri, Om Jo bersama beberapa tokoh lainnya menggagas Bandung Plan pada 1951. Dalam Bandung Plan dicetuskan ide untuk mengintegrasikan institusi kesehatan di bawah satu pimpinan supaya lebih efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan.

Gagasan itu pun ditindaklanjuti dengan membuat Tema Work dalam pelayanan kesehatan pada 1956 dan kemudian terus dikembangkan. Dalam perjalanannya, integrasi institusi kesehatan yang hingga ke level kecamatan itu dikenal dengan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Pemikiran Om Jo tentang kesehatan tertuang juga dalam Kesehatan Rakjat di Indonesia: Pandangan dan Planning (1955).

Selain merintis cikal bakal Puskesmas, sebagai politisi sejak muda, Om Jo juga aktif di bidang politik. Pada 1945, dia turut serta mendirikan Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Lima tahun kemudian, ia dipercaya menjadi ketua umum. Di masa Orde Baru, Parkindo difusi ke dalam Partai Demokrasi Indonesia.

Selain partai politik, dalam membina kaum muda, Om Jo juga mendirikan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) sebagai organisasi pengkaderan pada tahun 1950. Kehadiran GMKI pun memberikan warna baru didunia pergerakan di Indonesia.

Organisasi bentukan Om Jo ini pun melahirkan kader-kader yang kini menduduki sejumlah posisi penting di Indonesia. Dua di antaranya adalah Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Kader-kader Om Jo memang banyak. Namun, mendapatkan kembali sosok seperti Om Jo, yang meninggal pada 29 Maret 1977, tepat hari ini 41 tahun lalu, sepertinya cukup sulit si masa sekarang.

(tirto.id – Humaniora)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Petrik Matanasi

8 Cara Orang Cerdas Menggunakan Kegagalan sebagai Keuntungan Bagi Mereka

January 25, 2018 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Salah satu rintangan terbesar menuju kesuksesan adalah rasa takut akan kegagalan. Ketakutan akan kegagalan lebih buruk daripada kegagalan itu sendiri. Karena pemikiran seperti itu dapat menyebabkan potensi anda yang belum direalisasikan hilang begitu saja.

Respons sukses terhadap kegagalan tergantung pada cara pendekatan anda. Dalam sebuah penelitian yang baru-baru ini diterbitkan dalam Journal of Experimental Social Psychology, para peneliti menemukan bahwa kesuksesan dalam menghadapi kegagalan berasal dari tingkat fokus kita terhadap hasil. (Apa yang ingin anda capai). Daripada mencoba untuk tidak gagal. Meskipun tergoda untuk mencoba dan menghindari kegagalan, orang-orang yang melakukan ini jauh lebih sering mengalami kegagalan daripada orang-orang yang dengan optimis memusatkan perhatian pada tujuan mereka.

Ini terdengar mudah dan intuitif, tetapi sangat sulit dilakukan bila konsekuensi kegagalannya besar. Para peneliti juga menemukan bahwa umpan balik positif meningkatkan peluang keberhasilan. Karena hal itu memicu optimisme yang sama dengan yang anda alami saat anda memusatkan perhatian sepenuhnya pada goals anda.

Orang-orang yang mengukir sejarah adalah para inovator sejati. Ambil langkah lebih jauh dan lihatlah kegagalan sebagai batu loncatan menuju kesuksesan. Thomas Alva Edison adalah contoh yang bagus. Diperlukan 1.000 percobaan untuk menemukan bola lampu yang benar-benar bekerja dengan sempurna. Ketika seseorang bertanya kepadanya bagaimana rasanya gagal 1.000 kali, beliau berkata, “Saya tidak gagal 1.000 kali. Bola lampu itu adalah penemuan dengan 1.000 langkah”.

Sikap itulah yang membedakan orang sukses dengan orang gagal. Thomas Alva Edison bukanlah satu-satunya. Naskah Harry Potterbuatan JK Rowling baru diterima setelah 12 penerbit menolaknya. Dan bahkan, saat itu dia hanya perlu membayar uang muka. Oprah Winfrey kehilangan pekerjaannya sebagai pembawa berita Baltimore karena terlalu emosional dalam bercerita, sebuah kualitas yang menjadi ciri khasnya. Henry Ford kehilangan pendukung keuangannya dua kali sebelum berhasil memproduksi prototipe mobil yang bisa dipasarkan.

 

Dan daftar tokoh bersejarah setelah mereka pun terus bertambah.

Jadi, apa yang memisahkan keduanya? Antara orang-orang yang membiarkan kegagalan menggagalkan mereka dari orang-orang yang menggunakan kegagalan sebagai keuntungan bagi mereka? Beberapa tips di bawah ini bermuara pada apa yang anda lakukan. Dan sisanya bermuara pada apa yang anda pikirkan.

Tindakan yang anda lakukan dalam menghadapi kegagalan sangat penting bagi kemampuan anda untuk pulih dari kegagalan tersebut. Dan tindakan itu memiliki implikasi besar dengan bagaimana cara orang lain memandang anda dan kesalahan anda. Ada 8 tindakan yang harus anda ambil saat anda gagal. 8 poin ini akan memungkinkan anda berhasil di masa depan dan orang lain akan melihat anda secara positif meskipun anda gagal.

1. Jangan menyembunyikan kesalahan anda

Jika anda membuat kesalahan, jangan menyilangkan jari-jari anda dan berharap tidak ada yang memperhatikan, karena pasti ada seseorang yang melihatnya. Anda tidak bisa menyembunyikan kesalahan anda. Bila ada orang lain yang menunjukkan kegagalan anda, maka anda akan merasa malu dua kali lipat. Jika anda tetap diam, orang akan bertanya-tanya mengapa anda tidak mengatakan sesuatu, dan kemungkinan besar mereka akan menganggap anda sebagai pengecut atau hanya berpura-pura tidak tahu.

 

2. Tawarkan penjelasan, tetapi jangan membuat alasan

Mengakui kesalahan anda benar-benar dapat meningkatkan citra diri anda. Hal ini menunjukkan kepercayaan diri, akuntabilitas, dan integritas. Pastikan untuk berpegang teguh pada fakta. “Saya tidak membuat laporan karena saya ketinggalan deadline“. Ini hanyalah alasan. “Saya tidak membuat laporan karena anjing saya sakit sepanjang akhir pekan dan itu membuat saya kehilangan deadline“. Itu adalah alasan.

 

3. Anda memiliki rencana untuk memperbaiki sesuatu

Berani mengakui kesalahan merupakan sesuatu yang hebat. Tapi itu bukanlah akhir. Apa yang anda lakukan selanjutnya sangat penting. Alih-alih menunggu orang lain membersihkan kekacauan Anda, tawarkan solusi untuk diri anda sendiri. Lebih baik lagi jika anda bisa memberi tahu atasan anda (atau siapapun), langkah spesifik yang telah anda lakukan untuk mengembalikan semuanya ke jalur semula.

 

4. Anda memiliki rencana sebagai pencegahan

Selain memiliki rencana untuk memperbaiki sesuatu, anda juga harus memiliki rencana untuk menghindari kesalahan yang sama di masa depan. Itulah cara terbaik untuk meyakinkan orang lain, bahwa hal baik akan datang dari kegagalan anda.

 

5. Anda harus berani mencoba kembali

Penting untuk tidak membiarkan kegagalan membuat anda malu. Pola pikir yang negatif akan membuat anda emosi setiap kali anda mengalami kegagalan. Luangkan cukup waktu untuk menyerap pelajaran dari kegagalan anda. Dan segera setelah anda melakukannya, cobalah memperbaiki kegagalan anda. Menunggu hanya akan memperpanjang perasaan buruk dan meningkatkan kemungkinan anda kehilangan keberanian.

Sikap anda saat menghadapi kegagalan sama pentingnya dengan tindakan yang anda lakukan. Menggunakan kegagalan sebagai keuntungan membutuhkan ketahanan dan kekuatan mental. Keduanya merupakan ciri kecerdasan emosional. Bila anda gagal, itu artinya ada tiga sikap yang perlu anda pertahankan.

 

6. Perspektif

Ini adalah faktor terpenting dalam menangani kegagalan. Orang yang ahli dalam reboundsetelah kegagalan lebih cenderung menyalahkan kegagalan pada tindakan yang salah dan kesalahan spesifik, bukan sesuatu yang mereka lakukan.

Orang-orang yang buruk dalam menangani kegagalan cenderung menganggap kegagalan terjadi karena kemalasan, kurangnya kecerdasan, atau kualitas pribadi lainnya. Hal ini menyiratkan bahwa mereka tidak memiliki kendali atas situasi ini. Inilah membuat mereka lebih cenderung menghindari pengambilan risiko di masa depan.

 

7. Optimisme

Ini adalah karakteristik lain orang-orang yang bangkit kembali dari kegagalan. Sebuah studi di Inggris terhadap 576 pengusaha menemukan bahwa mereka jauh lebih mungkin menemukan kesuksesan daripada pengusaha yang menyerah setelah kegagalan pertama mereka. Rasa optimis itulah yang membuat orang lain merasa bahwa gagal adalah kondisi permanen. Sebaliknya, mereka cenderung melihat setiap kegagalan sebagai dinding penghalang yang perlu dirobohkan untuk menuju kesuksesan tertinggi. Bagi mereka, kegagalan adalah sebuah pembelajaran.

 

8. Kegigihan

Optimisme adalah perasaan positif. Sedangkan kegigihan adalah apa yang anda lakukan dengan rasa optimis. Ini artinya sebuah optimisme dalam tindakan. Ketika semua orang berkata, “Sudah cukup” dan memutuskan untuk berhent, orang-orang yang gigih akan melepaskan kegagalan tersebut dan terus berjalan. Orang yang gigih itu istimewa, karena optimisme mereka tidak pernah mati. Hal ini yang membuat mereka hebat karena mereka mampu bangkit dari kegagalan.

 

Bringing it all together!!

Kegagalan adalah hasil dari perspektif anda. Apa yang orang anggap sebagai kekalahan yang menghancurkan, anda dapat melihatnya hanya sebagai kemunduran kecil. Anda bisa mengubah cara anda melihat kegagalan, sehingga anda bisa menggunakannya untuk memperbaiki diri. Sukses untuk anda, salam hebat luar biasa..!!

Salah satu rintangan terbesar menuju kesuksesan adalah rasa takut akan kegagalan.

Salah satu rintangan terbesar menuju kesuksesan adalah rasa takut akan kegagalan. 

Salah satu rintangan terbesar menuju kesuksesan adalah rasa takut akan kegagalan. Ada 8 tindakan yang harus anda ambil saat anda gagal. 8 poin ini akan memungkinkan anda berhasil di masa depan dan orang lain akan melihat anda secara positif meskipun anda gagal.

Orang sadis

May 16, 2017 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Orang sadis akan diam saja melihat kekejaman berlangsung – dan bahkan menikmatinya.

ORANG GILA ITU DIPANGGIL AHOK

May 16, 2017 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Dia tak ambil pusing dengan sidangnya. Dia tak cemas dengan berbagai kebusukan menghadapi putaran II pilkada. Dia lebih sibuk dengan “progress’ pembangunan masjid yang menjadi komitmen dan tanggung jawabnya. Dia lebih pusing dengan ‘progress’ pembangunan Simpang Susun Semanggi. Dan semuanya itu semata-mata demi kemaslahatan umat dan waga Jakarta.

Masakah orang seperti ini menista agama ? Dia cemas justru karena lagi-lagi harus cuti, sementara berbagai pekerjaan dan nasib warga yang bergantung padanya menunggu setiap hari dan setiap pagi. Padahal gubernur lain dengan entengnya mau cuti – meski daerahnya lagi kebanjiran – hanya demi membela koleganya yang sedang membabi-buta mengejar kekuasaan.

Hanya orang ‘gila’ yang lebih mempedulikan orang lain di saat dirinya kepepet dan dihajar kanan-kiri. Orang ‘gila’ itu dipanggil Ahok. Dia kuning, bermata sipit, dan bersalib. Namun dia pula yang meradang dan menolak keras – ketika ada yang memberinya saran agar meminta Habib Sting cucu mbah Priok mendukungnya dalam pilkada.

Sementara lawannya dengan tenangnya menggunakan semua kekuatan primordial khususnya sentimen agama hanya untuk menang dan jadi gubernur.

Orang ‘gila’ itu dipanggil Ahok. Sedemikian ‘gila’nya dia, sehingga semua sikap dan tindak-tanduknya sering lebih ‘Indonesia’ dari yang suka merasa ‘pribumi’ dan lebih ‘Islami’ dari sebagian mereka yang merasa Muslim.

Orang ‘gila’ itu dipanggil Ahok. Jika kalian melepaskannya sekarang, kalian tak akan pernah menemukannya lagi.

Orang ‘gila’ itu dipanggil Ahok.

Karya Besar dari Orang Desa

May 13, 2017 by  
Filed under GADO-GADO HARITRANG

Dulu, ide Khoirul ditertawakan. Namun akhirnya dinikmati banyak orang. Termasuk para ilmuwan yang mencemooh itu.

Khoirul Anwar dianggap gila. Ditertawakan. Bahkan dicemooh. Idenya dianggap muskil. Tak masuk akal. Semua ilmuwan yang berkumpul di Hokkaido, Jepang, itu menganggap pemikiran yang dipresentasikan itu tak berguna.

Dari Negeri Sakura, Anwar terbang ke Australia. Tetap dengan ide yang sama. Setali tiga uang. Ilmuwan negeri Kanguru itu juga memandangnya sebelah mata. Pemikiran Anwar dianggap sampah.

Pemikiran Anwar yang ditertawakan ilmuwan itu tentang masalah power atau catu daya pada Wi-Fi. Dia resah. Saban mengakses internet, catu daya itu kerap tak stabil. Kadang bekerja kuat, sekejap kemudian melemah. Banyak orang mengeluh soal ini.

Tak mau terus mengeluh, Anwar memutar otak. Pria asal Kediri, Jawa Timur, itu ingin memberi solusi. Dia menggunakan algoritma Fast Fourier Transform (FFT) berpasangan.

FFT merupakan algoritma yang kerap digunakan untuk mengolah sinyal digital. Anwar memasangkan FFT dengan FFT asli. Dia menggunakan hipotesis, cara tersebut akan menguatkan catu daya sehingga bisa stabil.

Ide itulah yang diolok-olok ilmuwan pada tahun 2005. Banyak ilmuwan beranggapan, jika FFT dipasangkan, keduanya akan saling menghilangkan. Tapi Anwar tetap yakin, hipotesa ini menjadi solusi keluhan banyak orang itu.

Ilmuwan Jepang dan Australia boleh mengangapnya sebagai dagelan. Tapi dia tak berhenti. Anwar kemudian terbang ke Amerika Serikat. Memaparkan ide yang sama ke para ilmuwan Paman Sam.

Tanggapan mereka berbeda. Di Amerika, Anwar mendapat sambutan luar biasa. Ide yang dianggap sampah itu bahkan mendapat paten. Diberi nama Transmitter and Receiver. Dunia menyebutnya 4G LTE. Fourth Generation Long Term Evolution.

Yang lebih mencengangkan lagi, pada 2008 ide yang dianggap gila ini dijadikan sebagai standar telekomunikasi oleh International Telecommunication Union (ITU), sebuah organisasi internasional yang berbasis di Genewa, Swiss. Standar itu mengacu prinsip kerja Anwar.

Dua tahun kemudian, temuan itu diterapkan pada satelit. Kini dinikmati umat manusia di muka Bumi. Dengan alat ini, komunikasi menjadi lebih stabil.

Karya besar ini ternyata diilhami masa kecil Anwar. Dulu, dia suka menonton serial kartun Dragon Ball. Dalam film itu, dia terkesan dengan sang lakon, Son Goku, yang mengeluarkan jurus andalan berupa bola energi, Genkidama.

Untuk membuat bola tersebut, Goku tidak menggunakan energi dalam dirinya yang sangat terbatas. Goku meminta seluruh alam agar menyumbangkan energi. Setelah terkumpul banyak dan berbentuk bola, Goku menggunakannya untuk mengalahkan musuh yang juga saudara satu sukunya, Bezita.

Prinsip jurus tersebut menjadi inspirasi bagi Anwar. Dia menerapkannya pada teknologi 4G itu. Jadi, untuk dapat bekerja maksimal, teknologi 4G menggunakan tenaga yang didapat dari luar sumber aslinya.

***

Ya, karya besar ini lahir dari orang desa. Anwar lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 22 Agustus 1978. Dia bukan dari kalangan ningrat. Atau pula juragan kaya. Melainkan dari kalangan jelata.

Sang ayah, Sudjiarto, hanya buruh tani. Begitu pula sang bunda, Siti Patmi. Keluarga ini menyambung hidup dengan menggarap sawah tetangga mereka di Dusun Jabon, Desa Juwet, Kecamatan Kunjang.

Saat masih kecil, Anwar terbiasa ngarit. Mencari rumput untuk pakan ternak. Pekerjaan ini dia jalani untuk membantu kedua orangtuanya. Dia ngarit saban hari. Setiap sepulang sekolah.

Meski hidup di sawah, bukan berarti Anwar tak kenal ilmu. Sejak kecil dia bahkan mengenal betul sosok Albert Einstein dan Michael Faraday. Ilmuwan dunia itu. Anwar suka membaca buku-buku mengenai dua ilmuwan tersebut, padahal tergolong berat.

Hobi ini belum tentu dimiliki anak-anak lain. Dan dari dua tokoh inilah, Anwar menyematkan cita-cita menjadi ‘The Next Einstein’ atau ‘The Next Faraday’.

Cita-cita tersebut hampir saja musnah. Saat sang ayah meninggal pada tahun 1990. Sang tulang punggung tiada. Siapa yang akan menopang keluarga? Perekonomian sudah tentu tersendat. Padahal kala itu Anwar baru saja menapak sekolah dasar.

Anwar tentu khawatir, sang ibu tak mampu membiayai sekolah. Apalagi hingga perguruan tinggi. Tapi Anwar memberanikan diri, mengungkapkan keinginan bersekolah setinggi mungkin kepada sang ibu. Kepada emak.

Anwar menyiapkan diri. Sudah siap apabila sang emak menyatakan tidak sanggup. Tapi jawaban yang dia dengar di luar dugaan. Bu Patmi malah mendorongnya untuk bersekolah setinggi mungkin.

“ Nak, kamu tidak usah ke sawah lagi. Kamu saya sekolahkan setinggi-tingginya sampai tidak ada lagi sekolah yang tinggi di dunia ini,” ucap Anwar terbata, karena tak kuasa menahan haru saat mengingat perkataan emaknya itu.

Perkataan itu menjadi bekal Anwar untuk melanjutkan langkah meraih mimpi. Lulus SD, dia diterima di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Kunjang. Kemudian dia meneruskan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) 2 Kediri. Salah satu sekolah favorit di Kota Tahu itu.

Saat SMA itulah dia memilih meninggalkan rumah. Dia tinggal di rumah kost, tidak jauh dari sekolah. Jarak rumah dengan sekolah memang lumayan jauh. Dia sadar pilihan ini akan menjadi beban sang ibu.

Masalah itu membuat Anwar harus memutar otak. Dia lalu memutuskan untuk tidak sarapan demi menghemat pengeluaran. Tetapi, itu bukan pilihan tepat. Prestasi Anwar turun lantaran jarang sarapan.

“ Karena tidak sarapan, setiap jam sembilan pagi kepala saya pusing,” kata dia.

Kondisi Anwar sempat terdengar oleh ibu salah satu temannya. Merasa prihatin dengan kondisi Anwar, ibu temannya itu menawari dia tinggal menumpang secara gratis. Anwar tidak perlu lagi merasakan pusing saat sekolah. Sarapan sudah terjamin dan prestasi Anwar kembali meninggi.

Lulus dari SMA 2 Kediri, Anwar lalu melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia diterima sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Elektro dan ditetapkan sebagai lulusan terbaik pada 2000. Dia kemudian mengincar beasiswa dari Panasonic dan ingin melanjutkan ke jenjang magister di sebuah universitas di Tokyo.

Sayangnya, Anwar tidak lolos seleksi universitas tersebut. Dia merasa malu dan tidak ingin dipulangkan. Alhasil, dia memutuskan beralih ke Nara Institute of Science and Technology NAIST dan diterima.

Di universitas tersebut, Anwar mengembangkan tesis mengenai teknologi transmitter dan menggarap disertasi bertema sama dalam program doktoral di universitas yang sama pula.

Dan Anwar, kini telah menelurkan karya besar. Temuan yang ditertawakan itu dinikmati banyak orang. Termasuk para ilmuwan yang mengolok-olok dulu…

Sumber: Dream.co.id

orang yang serakah

January 30, 2017 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Seluruh kekayaan di muka bumi sekalipun tak akan cukup bagi orang yang serakah.
-ht-

DOA ORANG TERANIAYA

January 18, 2017 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Lihatlah dengan sepasang mata anda….
Sorot wajah ibu tua itu bukan hanya ekspresi harapan seorang rakyat kecil, tapi juga rasa sayang rakyat terhadap pemimpinnya.

Kini lihatlah dengan mata hati anda….
Sorot wajah itu bukan hanya ekspresi rasa sayang rakyat, tapi sekaligus kasih seorang ibu terhadap anaknya. Seorang ibu yang iba dan seolah tak terima anaknya diperlakukan tak adil oleh bangsanya sendiri.

Suara ibu yang rakyat kecil itu suara ibu pertiwi, bukan suara sekelompok orang yang ditunggangi para politikus busuk yang sesugguhnya malah tak pernah mempedulikan bangsa.

Air mata ibu yang rakyat kecil itulah sesungguhnya suara Tuhan. Vox populi vox dei. Dan pahamilah, air mata ibu yang rakyat kecil itu tak sendiri menetes. Ada jutaan, puluhan bahkan ratusan juta menetes. Usapan tangan penuh rasa sayang itu tak sendiri. Ada ratusan juta tangan lain yang ingin mengusap wajah pemimpinnya yang justru dinistakan.

Ahok bukan menistakan, tapi dinistakan. Ahok diiringi samudra tetesan air mata rakyat. Ahok disertai angin pertiwi usapan sayang tangan rakyat. Sesungguhnya, kemenangan itu sudah bersemayam di hati Ahok, di hati rakyat – apapun hasil pengadilan nantinya.

Namun ingatlah, doa orang yang teraniaya itu besar kuasanya. Doa ibu yang mengusap Ahok itu, serta puluhan juta lainnya – adalah doa rakyat yang merasa ikut teraniaya. Besar kuasanya. Polisi, hakim, penguasa dan apalagi politikus busuk – kuasa doa itu juga akan memghampiri kalian semua. Mestinya kalian segera menegakkan keadilan. Mestinya kalian menghentikan pengadilan kosmetika.

Mestinya pula – kalian percaya tentang kuasa doa orang teraniaya itu, sebab selama ini kita memproklamirkan diri sebagai bangsa relijius, bangsa beragama, bahkan ada yang berlebihan sampai mabuk agama.

NASIONALISME ORANG MUDA

December 15, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Kedua anak saya berada di antara kontingen pelajar Indonesia dalam ajang Southpac Student Convention di Philip Island. Memasuki hari yang ke sekian ini, populer sekali kredo yang mereka teriakkan : ‘ Indo…nesia…Indo…nesia…Indo…nesia…! ‘

Tidak ada pelajar dari negara lain meneriakkan kredo untuk negaranya. Bahkan hari ini beberapa pelajar negara lain ikut meneriakkan kredo ‘Indo..nesia’ setiap kali bertemu pelajar negeri kita. Ada respek.

Ada bibit nasionalisme yang kuat pada sosok generasi muda bangsa ini. Saya bersyukur, kedua anak saya ada di antara mereka. Saya pribadi merasakan getarannya. Saya merinding setiap kali mendengarnya. Jauh di negeri orang ini, anak-anak itu tak bersinggungan dengan kasus Ahok serta busuknya generasi tua bangsanya mempermainkan agama dan politik – demi syahwat kekuasaan.

Mereka hanya tahu rasa rindu dan sayang akan negeri dan bangsanya. Semoga ketika nanti balik ke negerinya, perasaaan agung dan indah tentang negerinya itu tak teracuni oleh segenap kebusukan para generasi tua yang tak tahu malu.

sibuk membenci agama orang lain

December 15, 2016 by  
Filed under POJOK HERRY TJAHJONO

Aku sungguh tak punya waktu untuk membenci agamamu, sebab aku demikian sibuk mencintai agamaku sendiri.

(Jadi bagiku, orang yang sibuk membenci agama orang lain – sesungguhnya ia tak punya cukup waktu untuk mencintai agamanya sendiri).

-ht-

Next Page »